Connect with us

CARI TAHU

Yuk, cari tahu bagaimana fenomena hujan darah di India

Hujan berwarna merah darah juga dilaporkan pernah melanda Kerala pada tahun 1896 dan beberapa kali setelahnya.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Sejak 25 Juli hingga 23 September 2001, wilayah Kottayam dan Idukki di bagian selatan negara bagian Kerala di India mengalami fenomena membingungkan, yaitu hujan darah.

Menurut penduduk setempat, hujan berwarna pertama didahului oleh guntur yang keras dan kilatan cahaya, dan diikuti oleh rumpun pohon yang menumpahkan daun-daun terbakar abu-abu yang layu. Banyak lagi kejadian hujan merah dilaporkan selama sepuluh hari berikutnya dengan frekuensi yang semakin berkurang hingga akhir September.

Banyak alasan yang dikaitkan dengan fenomena misterius ini, beberapa tidak rasional – seperti mantra ilahi, dan keterlibatan alien. Awalnya, para ilmuwan Centre for Earth Science Studies (CESS) mencurigai bahwa partikel-partikel ini berasal dari ledakan meteor. CESS kemudian menarik kembali ini karena mereka melihat partikel menyerupai spora.

zonautara.com
Partikel yang diambil dari sampel hujan darah.(Image: mybookofmysteries.blogspot.com)

Sampel diserahkan ke Tropical Botanical Garden and Research Institute (TBGRI) untuk studi mikrobiologi, di mana spora dibiarkan tumbuh dalam media yang cocok untuk pertumbuhan ganggang dan jamur.

TBGRI bersama CESS menerbitkan laporan yang menyatakan asal usul partikel. Partikel dari hujan darah tersebut sebenarnya spora dari lumut pembentuk lumut. Pada Februari 2015, tim ilmuwan dari India dan Austria, mendukung identifikasi spora alga sebagai Trentepohlia annulata.

zonautara.com
Fenomena hujan darah di Kerala, India.(Image: mybookofmysteries.blogspot.com)

Curah hujan berwarna merah terjadi di Kerala selama musim panas tahun 2001, 2006, 2007, 2008 dan 2012; sejak 2001, para ahli botani telah menemukan spora Trentepohlia yang sama setiap saat. Hal itu mendukung gagasan bahwa hujan merah adalah fitur lingkungan lokal musiman yang disebabkan oleh spora alga.

Hujan berwarna merah darah juga dilaporkan pernah melanda Kerala pada tahun 1896 dan beberapa kali setelahnya. Pada 15 November 2012 hingga 27 Desember 2012 di timur dan utara-tengah provinsi Sri Lanka juga mengalami hal yang sama.

Bagikan !
Beri Donasi
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CARI TAHU

Apa yang membuat “social distancing” di Korea Selatan berhasil?

Warga yang melanggar akan didenda Rp 40 juta hingga Rp 133 juta.

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.COM – Korea Selatan termasuk negara di luar China yang dikhawatirkan akan meledak jumlah kasus terjangkit virus corona. Namun pemerintah Korea Selatan mampu menurunkan laju pertambahan kasus dan angka kematian.

Padahal Korea Selatan tidak menerapkan kebijakan lockdown, tetapi menitikberatkan pada pembatasan interaksi sosial atau social distancing.

Lalu apa yang membuat Korea Selatan berhasil dalam kebijakan social distancing?

Salah satu keberhasilan penerapan pembatasan interaksi sosial di Korea Selatan adalah sanksi pidana bagi yang melanggarnya. Otoritas di Korea Selatan akan memberi denda sebesar 3 hingga 10 juta won bagi siapa saja yang menolak tes dan karantina.

Denda itu sangat besar nilainya, yang jika dirupiahkan sekitar Rp 40 juta hingga Rp 133,8 juta untuk kurs Rp 13,3 per won.

Pertambahan kasus di Korea Selatan yang berhasil diturunkan. (Sumber: Worldometers.info)

Selain sanksi pidana dan denda, pemerintah Korea Selatan juga memantau warga negaranya yang positif terjangkit melalui aplikasi dan CCTV, termasuk memantau pergerakan pasien melalui pelacakan transaksi kartu debit dan kartu kredit.

Keterbukaan informasi dari Pemerintah Korea Selatan juga mendorong kepercayaan publik, bahwa pemerintahan negara mereka sedang bekerja dengan sungguh-sungguh memerangi wabah covid-19.

Baca pula: Kasus virus corona tembus 700 ribu orang

Keterbukaan informasi itu membuat warga yang sehat dapat menghindari titik lokasi yang terinfeksi, dengan tujuan tidak ikut terjangkit. Aplikasi yang dipakai di sana membuat orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien mudah diidentifikasi.

Hasil identifikasi itu mempermudah otoritas kesehatan melakukan tes, yang jika tidak dituruti akan dikenakan sanksi pidana dan denda.

Pasien yang terkonfirmasi jika menolak dikarantina atau dirawat di rumah sakit mendapat ancaman pidana 1 tahun atau denda sebesar 10 juta won atau senilai Rp. 133,8 juta.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com