Oleh: Yuanita Maya

Siapa tak tercekam ketika Ryan, pemuda tampan kalem, yang kelak disebut jagal dari Jombang itu, menunjukkan satu demi satu lubang tempat belasan korbannya ia kubur di depan aparat dan kamera pewarta? Korban perempuan murni ia habisi karena motif ekonomi. Sedangkan korban lelaki antara ekonomi, asmara, atau gabungan keduanya.

Yang membuat publik teriris ialah ketika terungkap fakta bahwa Ryan, pembunuh sadis penyuka sesama jenis itu, tumbuh dewasa menjadi psikopat akibat tumpukan dendam terhadap ibu yang tak hanya keras, namun juga mengabaikan dan tak menganggapnya ada sejak kecil. Ryan melengkapi temuan bahwa sebagian besar pelaku kejahatan psikopatik berangkat dari keluarga yang terpecah-belah, di mana pelaku memendam trauma atau kebencian terhadap salah satu atau bahkan kedua orang tuanya.

Dari titik ini kesimpulan bisa diambil, bahwa bagaimana seorang anak akan bertumbuh sebagai manusia dewasa ditentukan dari rumah yang menaunginya. Atap rumah bukanlah perkara sederhana, karena di bawahnya ada kualitas kumpulan manusia yang disebut keluarga. Dan inilah fondasinya: sikap orangtua yang akan menentukan lemah atau unggulnya seorang anak manusia, baik secara kognitif maupun dalam lingkup perilaku sosialnya. Kita bisa meminjam pepatah Jawa ‘swarga nunut neraka katut’ (ke surga ikut, ke neraka pun turut). Kerapnya pepatah ini ditujukan pada kaum perempuan (istri) dalam kaitan posisinya yang submisif terhadap laki-laki (suami).

Namun dalam skala yang lebih luas, kita bisa mengembangkannya menjadi kondisi yang akan diterima seorang anak baik di masa kini maupun nanti, sebagai dampak dari perilaku dan pola pengasuhan orangtuanya. Keluarga, secara utuh, sesungguhnya adalah sebuah lembaga pendidikan non formal yang memiliki ragam fungsi dalam perkembangan kepribadian dan pendidikan anak di rumah, yang secara positif akan memberi efek riak pada pendidikan anak di sekolah.

Fungsi keluarga demikian krusial, yakni sebagai pengalaman pertama yang menjamin kehidupan sosial dan menanamkan dasar pendidikan moral anak. Dari keluarga pulalah seorang anak mendapat kesempatan belajar berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sebagai bekal menjadi manusia dewasa yang mandiri.

Rumah tangga damai sejahtera dengan ayah-ibu yang penuh limpahan kasih dan perhatian, akan menggiring anak dalam surga kosmis. Sebaliknya, rumah tangga nir kasih yang sarat pengabaian, pola asuh salah, dan terlebih kekerasan, akan menjerembabkan anak dalam neraka dunia, di mana si anak berakhir menjadi manusia dewasa yang rapuh dan dirundung masalah psikologis serta sosial.

Namun kendati ayah dan ibu memiliki porsi yang sama dalam pembentukan karakter anak, kita tidak bisa menafikan fakta bahwa peran ayah dalam hal ini seolah tersisih sebagai konsekuensi dari tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah. Adalah hal yang umum jika seorang anak kehilangan figur ayah yang sibuk mencari nafkah dari pagi hingga petang.

Celakanya, sebuah studi selama rentang 2008-2010 di 33 Provinsi di Indonesia membuahkan predikat  Fatherless Country (Negeri Tanpa Ayah), yakni sebuah kondisi sosial dengan beragam penyakit sebagai akibat gagalnya kaum ayah dalam menjalankan peran domestiknya. Indonesia ‘meraih’ peringkat ke-3 dunia, hanya satu tingkat di bawah Amerika Serikat yang selama ini mendapat label sebagai negara dengan dekadensi moral tiada terperi.

Amerika sendiri sebagai runner up Fatherless Country melalui US Department of Health andHuman Services, melakukan rangkaian survey dan studi dengan hasil rentetan konsekuensi yang harus ditanggungnya sebagai ‘Negeri Tanpa Ayah’: hampir semua penyakit sosial di negara tersebut dikaitkan dengan ketidakhadiran kaum pria.

Anak-anak dari rumah tangga nihil pria cenderung tumbuh menjadi manusia dewasa yang miskin secara finansial, kecanduan alkohol dan obat terlarang, putus sekolah, dan rentan terhadap penyakit baik fisik maupun mental, serta kejahatan pornografi dan prostitusi. Anak laki-lakinya cenderung terlibat dalam perkara kriminal dan anak perempuannya rawan mengalami kehamilan usia remaja.

Merekapun merokok empat kali lipat jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak yang dekat dengan ayahnya. Pelaku KDRT umumnya juga memiliki ayah dengan pola perilaku yang sama, dan anak-anak perempuan mereka cenderung mendapat pasangan pelaku KDRT.

Ibu mengemban peran yang tak kalah besar, setidaknya jika kita mengacu pada pepatah Arab bahwa ibu adalah madrasah (sekolah) pertama seorang anak,  Kondisi motherless (hilangnya sosok ibu dalam kehidupan anak) akan menimbulkan rentetan dampak yang luar biasa. Segala perilaku negativistik baik dalam masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa bisa saja dilakukan oleh mereka yang kehilangan sosok ibu.

Seorang anak tak perlu menjadi piatu untuk kehilangan sosok ibu. Ibu yang sibuk dengan karir dari pagi sampai malam tiap-tiap hari, atau ibu yang tinggal di rumah tapi mengabaikan bahkan bersikap kasar pada anak, cukup untuk membuat seorang anak kehilangan sosok ibunya.

Ini secara otomatis menjadi kesimpulan bahwa ayah dan ibu, bahkan segenap anggota keluarga lainnya, wajib bekerja sama melibatkan diri dalam proses pertumbuhan dan pendidikan anak, baik secara kognitif, moral, maupun sosial. Sebab anak yang dilimpahi kasih sayang utuh akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri.

Di sekolah ia juga dipastikan mendapat nilai pelajaran lebih tinggi, punya kemampuan mengolah stres dan frustrasi yang mumpuni, memiliki kualitas pemecah masalah lebih baik, gemar bermain dan riang-ria, kreatif, serta peka ketika menghadapi masalah. Itulah hal indah yang bisa diterima oleh seorang anak, yakni keterlibatan orang tua dan keluarga dalam pendidikan serta perkembangannya sebagai anak manusia.

Sebab pendidikan merupakan sebuah wahana pembentuk peradaban yang humanis pada seseorang, sebagai bekal bagi dirinya menjadi manusia yang kokoh dalam menjalani kehidupannya. Pada tangan orangtua terletak pilihan, apakah akan menghadirkan surga atau neraka bagi anak-anak mereka. Sebab anak adalah ia yang dilahirkan, bukan melahirkan.

Aras kepemimpinan dan kuasa untuk membentuk bukan padanya, melainkan orangtua. Pada orangtua pulalah terletak harapan sekaligus pertanyaan, ke arah mana anak-anak akan diangkat dan ditempatkan. Ke surga tentulah mereka mau ikut, dan ke neraka mereka sesungguhnya tak mau turut

 

Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga

Bagikan !