Connect with us

CARI TAHU

Indonesia pelahap mi instan nomor 2 di dunia, 12,5 miliar porsi per tahun

Mi instan juga hadir di meja makan orang kaya.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi Mi Instan
Ilustrasi Mi Instan. (Foto: Pixabay.com)

ZONAUTARA.COM – Orang Indonesia gemar makan mi instan. Dimana-mana ada mi istan, bahkan di meja makan orang kaya sekalipun. Tiap ada bencana, bantuan makanan yang paling lebih dulu tiba adalah mi instan.

Kepraktisan mengolahnya menjadi salah satu faktor yang membuat mi instan sangat populer. Bahkan kerap orang memakannya tanpa perlu mengolahnya lebih dulu.

World Instant Noodles Association (WINA), dalam sajian datanya menyebut, konsumsi total mi instan secara global pada tahun 2019 sebanyak 106,42 miliar porsi atau rata-rata 290 juta porsi setiap hari.

Tahukah anda, bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dalam daftar negara pelahap mi instan tersebut? Nomor wahid adalah Cina dengan 41,5 miliar bungkus per tahun.

Indonesia dalam lima tahun sejak 2015 selalu menguntit Cina. Pada 2018, orang Indonesia melahap mi instan sebanyak 12,54 miliar bungkus dan pada 2019 sebanyak 12,52 miliar bungkus.

Setelah Indonesia, berturut-turut ada India, Jepang, Vietnam dan Amerika. Di India yang punya penduduk sebanyak 1,2 miliar jiwa itu (2015) melahap 6,7 miliar bungkus mi instan, hanya setengah dari konsumsi 267 juta penduduk Indonesia.

Dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik 2019, masyarakat Indonesia dengan pengeluaran dibawah Rp 2 juta sebulan, melahap sekitar 7 hingga 10 bungkus mi instan setiap bulannya. Sementara masyarakat dengan penghasilan Rp 5-10 juta, mengonsumsi mi instan 19 bungkus per bulan.

Berdasarkan survei itu, masyarakat di Sulawesi melahap 16 bungkus mi instan dalam sebulan, terbesar pada kelompok masyarakat dengan penghasilan lebih besar dari Rp 10 juta per bulan.

Selain tukang makan mi instan, Indonesia juga dikenal sebagai eksportir mi instan ternama. Dalam lima tahun terakhir, ekspor mi instan Indonesia terus tumbuh.

Pada 2019, Indonesia mengapalkan mi instan senilai USD255,6 juta, naik signifikan dari angka ekspor pada 2017 senilai USD215,8 juta.

Sudahkah anda makan mi instan minggu ini? Saya sudah, tiga bungkus.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CARI TAHU

Pengiklan besar boikot Facebook, apakah platform media sosial ini akan mati?

Beberapa merek besar seperti Unilever dan Adidas ikut bergabung.

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.COM – Pengiklan besar sedang memboikot raksasa media sosial, Facebook. Aksi ini dilakukan lantaran kampanye “Stop Hate for Profit”, yang menganggap Facebook enggan menghapus konten-konten berbau rasis dan ujaran kebencian di platform mereka.

Kampanye Stop Hate for Profit mampu meyakinkan perusahaan besar menarik iklan mereka dari Facebook. Beberapa perusahaan raksasa yang sudah bergabung adalah Coca-Cola, Unilever dan Starbucks. Ikut pula bergabung Ford, Adidas dan HP.

Brand besar di bidang teknologi komputer, Microsoft dikabarkan pula akan menunda iklan mereka di Facebook, termasuk di Instagram.

Tak hanya Facebook, platform berbagi lainnya seperti Reddit dan Twitch menerima tekanan yang sama dari kampanye Stop Hate for Profit.

Facebook selama ini memang menjadi platform yang paling banyak digunakan oleh pengiklan untuk memasarkan produk mereka dengan audiens yang terarah.

Banyak pihak memperkirakan aksi boikot para pengiklan besar ini akan mempengaruhi pendapatan Facebook bahkan bisa mengancam kelangsungan hidup Facebook.

Laporan BBC menyebutkan, saham Facebook jatuh 8%, yang secara teori berkurangnya kekayaan Mark Zuckerberg, pemilik Facebook sebesar 6 miliar poundsterling.

Tapi apakah aksi boikot ini benar-benar akan membuat Facebook mati? Banyak pihak juga yang meragukan hal itu. Dari laporan CNN, bahwa 100 pengiklan besar di Facebook menghabiskan anggaran sebesar US4,2 miliar tahun ini. Tapi angka itu hanya setara dengan 6% pendapatan Facebook dari iklan.

Pendapatan Facebook dari iklan terbesar justru disumbangkan dari para pengiklan sedang dan kecil. Dan mereka tidak ikut dalam aksi boikot ini.

Jika perusahaan besar bisa memilih platform lain dalam membelanjakan iklan mereka, pengiklan kecil merasakan bahwa Facebook adalah platform paling tepat untuk beriklan, karena audiens yang bisa terarah dan pasti.

Boikot pasang iklan di media massa bukan baru pertama kali ini juga terjadi. Pada 2017, banyak pemilik merek terkenal menghentikan iklan mereka di YouTube, sebagai respon terhadap sebuah iklan yang dipasang di video yang rasis dan homofobik.

Namun sesudah itu, Google sebagai perusahaan pemilik YouTube baik-baik saja hingga sekarang. Lagi pula pengiklan besar yang sudah menyatakan ikut kampanye ini, baru berencana menunda iklan mereka di Facebook sepanjang Juli.

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com