Dokter Ketty, meninggal karena covid-19, suaminya juga meninggal 100 hari kemudian

  • Share
Foto: Net

ZONAUTARA.com – dr Ketty Herawati Sultana meninggal pada Jumat (3/4/2020), setelah tujuh hari menjalani perawatan usai terinfeksi covid-19. Dua berpulang di rumah sakit tempatnya mengabdikan hampir seluruh perjalanan karir kedokterannya.

Meskipun tidak pernah ada penjelasan dari mana asal muasal penularannya, dr Ketty dan beberapa staf yang pernah merawat Menteri Perhubungan Budi Karya, kemudian terinfeksi COVID-19 dengan hasil tes positif.

dr. Ketty Herawati Sultana (59 tahun), merupakan dokter senior di RS Medistra, Jakarta. Menteri Perhubungan Budi Karya adalah pasien terakhirnya sebelum dokter yang dikenal sebagai sosok yang tegas dan tekun bekerja ini terinfeksi covid-19.

Budi Karya awalnya dirawat dr Ketty dan tim di RS Medistra dengan gejala seperti demam tifoid, tetapi kemudian dikonfirmasi menjadi salah satu kasus COVID-19 paling awal di Indonesia. Menhub kemudian dipindahkan dirawat di RSPAD.

dr Ketty juga dikenal memiliki dedikasi yang luar biasa dalam merawat pasien-pasiennya. Dia tidak pernah membedakan pasiennya dengan jenis penyakit mereka.

Baca Pula:  Ini sebaran kasus Covid-19 pada 3 Agustus, 3 provinsi diatas 4.000 kasus

Dr Ketty meninggalkan seorang suami, dua putri dan seorang putra. Putri pertama pasangan dr Ketty dan dr Oki Gunawan Kaharudin terinspirasi dengan dedikasi dan pengabdian orangtuanya.

Dia memutuskan menjadi dokter dan mengikuti jejak mamanya mengabdi pertama kali di wilayah timur Indonesia, yaitu di kota Maumere, kabupaten Sikka, NTT.

Takdir tak dapat ditolak, suami dr Ketty berpulang selang 100 hari setelah meninggalnya istri tercinta karena sakit yang telah lama dideritanya. Sepertinya keinginan dr Ketty menikmati masa pensiun bisa terlaksana bersama suaminya di surga.

Sedangkan tongkat estafet profesionalismenya telah diserahkan kepada dr Margareta Oktaviani dan kedua adiknya, Gabriel Martinus dan Bernadette Melani, yang menetap dan bekerja di Belanda.

Putrinya, dr Margareta Oktaviani, menulis, seperti yang dikutip dari laporcovid19.org, “Saya melihat bagaimana mama membantu orang lain, bagaimana dia dihormati oleh orang lain dan dicintai oleh pasien-pasiennya. Kepada saya, mama selalu berkata, “Menjadi seorang dokter itu lebih dari sekedar pekerjaan. Itu adalah panggilan hidup dengan satu tujuan, yaitu menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa”.

Rekan sejawatnya Dr Yusnita SpA juga memiliki kesan terhadap dr Ketty, “Dr Ketty adalah teman saya yg pd thn 1986 kami bersama2 dikirim Depkes ke daerah pelosok bengkulu selama 2 bln utk melakukan survey kesehatan rumah tangga. Alm sangat baik, kami selalu bersama, setelah itu kami tdk pernah ketemu lg, sy baru tahu alm di rs medistra setelah meninggal. Sangat menyesal sekali rasanya ….semoga alm bahagia di syorga”

Sebuah testimoni yang dimuat di New York Times ditlkis oleh koleganya dr Anita Puspasari, “Dia tidak kenal lelah ini ternyata juga murah hati dan pandai memasak. Dia sering menyiapkan dan membawa masakan dari rumah untuk dinikmati bersama-sama di kantor. Pribadinya yang selalu hangat dan ringan tangan di lingkungan kerja, tentunya akan dirindukan.”

Selamat jalan pahlawan kesehatan Indonesia. Semakin banyak saja para dokter yang berjuang di garis depan melawan pandemi meninggal karena terinfeksi covid-19.



  • Share

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com