ZONAUTARA.com – Kota metropolitan Chengdu di China memberlakukan penguncian atau lockdown seluruh kota pada Kamis (1/9/2022). Lockdown itu memaksa 21 juta penduduk harus tinggal di rumah mereka dan menutup semua bisnis.

Semua penduduk di ibu kota provinsi Sichuan di Cina barat daya diperintahkan untuk tinggal di rumah mulai pukul 6 sore, dan wajib melakukan tes Covid-19.

Otoritas setempat hanya mengijinkan satu rumah tangga mengirim satu orang saja keluar rumah, untuk keperluan berbelanja bahan makanan sehari sekali. Yang diijinkan keluar rumah adalah mereka yang lolos tes Covid-19.

Penduduk dengan permintaan darurat seperti mencari bantuan medis harus mendapat persetujuan komite setempat.

Semua tempat usaha ditutup kecuali supermarket, apotek, dan rumah sakit. Makan di restoran juga ditangguhkan, dan hanya takeaways yang diperbolehkan.

China merupakan negara terakhir di dunia yang masih menerapkan langkah-langkah ketat nol-Covid, yang mengandalkan pengawasan digital, pengujian massal, karantina ekstensif, dan penguncian cepat.

Strategi tersebut diterapkan guna menghadapi tantangan yang berkembang dari varian Omicron yang sangat menular, dimana sebagian besar negara melakukan penguncian bergulir dan pengujian harian.

Pembatasan tanpa akhir telah menjungkirbalikkan kehidupan sehari-hari dan memberikan pukulan berat bagi ekonomi yang melambat.

Pada bulan Juli tahun ini, pengangguran kaum muda di China mencapai rekor tertinggi, dengan satu dari lima orang muda kehilangan pekerjaan.

Saat ini Chengdu melaporkan 156 kasus Covid pada Rabu kemarin, sehingga total kasus aktif menjadi lebih dari 700 kasus selama seminggu terakhir.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id