TONDANO, ZONAUTARA.com – Dampak pandemi Covid-19 yang terasa di berbagai hal, bahkan sampai pada usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Namun, hal tersebut tidak berlaku terhadap UMKM yang menggeluti produksi gula merah.

Seperti yang dirasakan Emus Djefry (46), seorang petani gula merah asal Desa Agotey, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Di masa pandemi Covid-19 ini ia justru mengalami kenaikan permintaan gula merah yang diproduksinya.

“Di masa pandemi ini malahan lebih banyak permintaan, karena gula merah katanya akan dicampur dengan ramuan minuman untuk menjaga imun tubuh,” ungkap Djefry yang diwawancarai wartawan Zona Utara di rumahnya, Rabu (18/11/2020).

Sambil mengangkat gula merah dari cetakan, Djefry mengatakan, dirinya tetap terus semangat membuat gula merah di situasi pandemi saat ini.

Djefry saat mengangkat gula merah dari cetakan (Image: zonautara.com/Tesa Senduk)

Bahkan ayah dari tiga anak ini sempat sekali mendapat permintaan gula merah yang dikirim ke luar negeri.

“Waktu masa pandemi, saya pernah mengirim gula merah 10 buah ke Hong Kong,” katanya.

Setiap tiga hari, Djefry bisa membuat gula merah sekitar 20 buah yang nantinya akan habis terjual di pasar yang ada di desa tetangga.

“Sebenarnya permintaan lebih banyak tapi karena pohon aren di desa kami ini mulai berkurang, sehingga air nira hanya bisa mencapai sampai 20 buah setiap tiga hari,” jelas Djefry.

Djefry menggeluti petani gula merah sudah sekitar 7 tahun. Kemampuan membuat gula merah ini ia dapatkan dari orang tuanya yang dulunya juga pembuat gula merah.

“Jadi saya belajar dari mereka bagaimana membuat gula merah, mulai dari mengambil air nira di pohon aren, sampai dengan menjualnya di pasar,” pungkasnya.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id