ZONAUTARA.com – Masyarakat mengeluhkan mahalnya biaya tes swab dengan metode RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) yang kini telah menjadi syarat untuk bisa keluar masuk di sejumlah dareah.

Metode tes PCR terbilang mahal karena merupakan pengujian virus corona yang akurat, dengan cara mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan menggunakan batang plastik berujung kapas. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam botol, lalu dikirim ke labpratorium untuk dianalisis.

Menurut ahli mikrobiologi Universitas Indonesia, Pratiwi Pujilestari Sudarmono, RT-PCR membutuhkan biaya lebih banyak karena menggunakan mesin khusus dan alat (kit) pendukung.

“Semua komponen itu ditambahkan maka harganya menjadi mahal. Minimum harganya berkisar antara Rp1,2 sampai Rp1,5 juta,” ujar Pratiwi.

Lantas, mengapa biaya tes PCR sampai terbilang mahal? Berikut alasannya dikutip dari CNN Indonesia.

Mesin uji mahal

Pratiwi menuturkan tes PCR dilakukan dengan dua tahap, yakni virus yang ada di dalam sel manusia harus diekstraksi. Setelah keluar dari sel, virus akan dideteksi apakah SARS-CoV-2 atau bukan.

Zaman dahulu, dua tahapan tes PCR itu dilakukan secara manual. Namun, pengetesan oleh manusia punya tingkat kesalahan yang lebih tinggi.

Seiring dengan perkembangan teknologi, dua tahapan itu dikerjakan dengan menggunakan alat yang dibuat di pabrik untuk mengurangi tingkat kesalahan.

“Harga (per satu kali tes memakai) dua kit ini rerata adalah sekitar Rp500-600 ribu. Kemudian sisanya adalah swab-nya untuk mengambil sampel dari hidung dan tenggorokan. Kemudian kita perlu Viral Transport Medium (VTM) agar virus tidak mati,” ujarnya.

Bahkan, kedua tahapan itu bisa dilakukan secara otomatis dengan mesin. Akan tetapi, kit dan mesin harus selaras, tidak bisa pakai kit dengan merek berbeda atau dinamakan sistem tertutup.

“Yang banyak di Indonesia adalah sistem terbuka di mana kita bisa beli kit dari banyak sekali sumber, kemudian kita pakai di berbagai merek mesin,” ujarnya.

Dibuat di luar negeri

Pratiwi menyampaikan kit untuk PCR memang mahal. Sebab, dia mengatakan kit membuat pengetesan menjadi otomatis. Harga alat juga mahal karena dirakit di luar negeri. Di Indonesia, tidak ada pabrik yang memiliki kapasitas membuat kit PCR.

Harus pakai APD

Tak hanya itu, petugas yang mengambil sampel swab harus menggunakan alat pelindung diri. APD sangat penting mengingat sampel virus diambil dari jarak dekat.

Limbah tak bisa dibuang sembarangan

Kemudian, sarana pembuangan limbah swab juga menambah biaya PCR. Limbah swab berbahaya, sehingga tidak boleh dibuang sembarangan.

“Kemudian perlakuan terhadap spesimen, virus, dan di laboratorium harus dilakukan di laboratorium khusus. Harus dilakukan di laboratorium biosafety level-2 yang memerlukan pemeliharaan yang spesifik,” ujar Pratiwi.

Jasa dokter dan analis

Dari seluruh itu, Pratiwi mengakumulasi biaya yang diperlukan untuk sekali tes PCR berkisar Rp1,2-1,5 juta. Bahkan, itu belum termasuk biaya lain seperti jasa dokter hingga analis.

“Itu yang menyebabkan mahal,” ujarnya.

Tes lebih akurat

Meski mahal, Pratiwi menegaskan PCR lebih akurat. Dia mengatakan PCR tidak perlu diulang seperti rapid tes antibodi untuk mengkonfirmasi.



=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id