Stoic merupakan sebuah filsafat Yunani kuno yang didirikan dan berkembang di kota Athena oleh Zeno. Filsafat yang lahir pada abad ke-3 Sebelum Masehi ini masih populer dan dapat diterapkan di era sekarang.

Pada dasarnya, filsafat stoisisme mengajarkan bagaimana hidup dalam pengendalian diri dan penerimaan terhadap apa yang ada di diri kita. Kita dapat mengontrol tindakan, pikiran, dan penilaian kita. Namun kita tidak mengontrol hal-hal di luar kendali kita. Hal di luar kendali ini yang biasanya dapat meningkatkan stress dan membuat seseorang mengekspresikan diri dengan emosi negatif.

Filsafat ini tidak mengajarkan untuk pasrah dengan segala keadaan, atau bahkan menjadi dingin dan tidak peduli. Lebih jauh dari itu, filosofi ini mengajarkan kita untuk melakukan kontrol diri agar tidak gegabah dalam memberi reaksi akan suatu hal.

Untuk hidup seperti seorang stoic, berikut merupakan tiga langkah utama yang dapat anda lakukan:

  • Menerima hal-hal yang tidak bisa diubah

Di dunia ini, ada beberapa hal yang bisa diubah dan diusahakan perubahannya. Ada juga hal-hal yang tidak bisa diubah. Fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan seperti, penilaian terhadap sesuatu atau bagaimana anda menentukan dan mengusahakan sesuatu.

Bayangkan ketika anda sedang berkencan. Fokuslah pada hal-hal yang bisa anda usahakan dan ubah. Seperti bau badan, penampilan, gaya rambut, dan personality anda. Sisanya, seperti bagaimana cara pandang orang lain terhadap anda, preferensinya terhadap pasangan, dan hal-hal yang tak bisa anda kontrol.

Hal ini bukan berarti anda tak peduli dengan hal-hal di luar diri anda. Dalam skala yang lebih besar, dan dengan perubahan secara kolektif, anda tentu bisa melakukan dan memperjuangkan banyak hal. Seperti memperjuangkan hak-hak kaum minoritas, bersama-sama memperjuangkan lingkungan hijau, dan lain sebagainya.

  • Tidak gegabah dalam memberikan reaksi

Filosofi ini mengajarkan kita untuk memandang suatu kisah secara netral. Ketika hal-hal tersebut bersifat netral, maka tinggal otak dan pikiran kita yang akan mengolah menjadi apakah hal yang netral tersebut.

Anda bisa mengolahnya menjadi sebuah emosi negatif misalnya marah dan memaki-maki, atau anda bisa mengambil hikmah yang lain seperti sabar dalam menghadapinya. Terlebih lagi pada hal yang tak bisa dikontrol. Pikirkan dengan matang reaksi dan ekspresi emosi yang akan anda tuangkan agar tak menyesal di kemudian hari.

  • Tak perlu khawatir dengan opini orang lain

Opini orang lain merupakan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Maka dari itu, anda tak punya kuasa untuk mengubahnya, kecuali melakukan teguran. Itu pun belum tentu orang tersebut mau berubah.

Jadikan opini orang lain sebagai masukan untuk mengembangkan diri. Bukan untuk mematok standar dan membatasi diri untuk melakukan kesenangan dan kebaikan anda.