ZONAUTARA.com – Pernah mendengar batu Stonehenge? Salah satu situs warisan dunia ini masih selalu menjadi misteri. Siapa yang membangun dan apa tujuannya? Mengapa susunannya demikian? Namun kini perlahan-lahan, para peneliti mulai menemukan jawabannya.

Dimulai dari asal-usul Stonehenge. Pembangunan Stonehenge tidak meninggalkan catatan tertulis. Mulai dari sejarawan, ahli konspirasi, arkeolog, semuanya telah berabad-abad mencoba menerjemahkan peninggalan sejarah ini.

Seiring dengan perkmbangan teknologi dan alat-alatnya, beserta metode ilmiah, maka mulai terlihat petunjuk forensic yang tertinggal di megalit.

Saat ini, ilmuwan juga sedang melacak blue stone Stonehenge yang merupakan batu dolerite yang berukuran lebih kecil yang ditemukan dalam monumen. Mereka melacak batu ini di Preseli Hills, Wales. Blue stone Stonehenge kemungkinan digunakan sebagai penanda kuburan bagi orang-orang yang dimakamkan di sana dan dari Wales.

Berkat alat ilmiah yang mumpuni, misteri Stonehenge perlahan mulai terpecahkan. Para ilmuwan telah menemukan area yang tepat terkait sumber dari sebagian besar sarsen monumen yang masih ada.

Bukan alien yang membawanya, namun mereka ditemukan di tempat kecil dekat Marlborough Downs.

Sarsen merupakan istilah yang umum untuk menamai batu pasir raksasa megalit Stonehenge. Dari 80 sarsen, saat ini hanya tersisa 52 buah sarsen. Untuk melindunginya, dibangun tapal kuda di bagian atas. Sarsen terbesar memiliki tinggi hingga 30 kaki dan berat sekitar 25 ton.

Penemuan ini diabadikan dalam jurnal yang berjudul Origins of the sarsen megaliths at Stonehenge dengan David Nash dari Universitas Brighton sebagai penulis utama. Mereka menganalisis sarsen menggunakan spektometer fluoresensi sinar X portable.

Analisis ini memungkinkan para ilmuwan dalam menghasilkan karakterisasi kimia awal untuk 34 unsur kimia dari batu.

Pada tahun 1797, batu sarsen jatuh dan tahun 1958 terdapat sebuah program untuk mendirikan kembali Stonehenge. Setelah mengangkat sarsens, para insinyur menemukan di salah satu rangka batu 58.

Mereka memutuskan untuk mengebor tiga unit dari batu dan memasukkan ikatan logam untuk memperkuat berdirinya sarsens. Lubang-lubang itu diisi dengan penyumbat sarsen untuk menyembunyikan instrusi. Namun tiga inti menghilang.

Di tahun 2018, Robert Phillips mengembalikan satu sarsens. Inti inilah yang diteliti dengan spektometer massa plasma untuk menganalisis tanda kimia yang kemudian dapat dibandingkan dengan sumber yang potensial.

Mereka menemukan kecocokan 50 dari 52 sarsen Stonehenge yang memiliki tanda kimia yang sama dengan batu-batu di daerah West Woods, Wiltshire.

Hal itu merupakan bukti yang kuat bahwa sarsen Stonehenge berasal dari sana. Meski masih banyak pertanyaan tentang Stonehenge, namun petunjuk ini dapat memecahkan misteri Stonehenge lainnya.