ZONAUTARA.com – Sejak abad ke-19, para ilmuwan telah mencari apa yang membedakan otak manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Bahkan hingga sekerang, penelitian ini terus dilakukan.

Ari Berkowitz, Profesor Biologi Universitas Oklahoma menceritakan apa yang membedakan antara otak pria dan wanita, dan bagaimana pengembangan penelitian ini dilakukan.

Mengawali penelitian ini, Samuel George Morton pada abad ke-19 telah menuangkan biji timah ke dalam tengkorak manusia untuk mengukur volumenya. Hasilnya, otak pria lebih besar daripada otak wanita. Namun, hal ini tidak berarti apa-apa pada kecerdasan atau hal lainnya.

Yang penting dari kecerdasan adalah daerah di dalam otak. Lobus frontal yang letaknya di atas mata milik pria lebih besar dari wanita. Namun lobus paretial, yang letaknya tepat di belakang lobus frontal, lebih besar pada wanita.

Pada abad ke 20 dan 21, peneliti lebih fokus pada sibdivisi otak yang lebih kecil. Berkowitz berpendapat bahwa penelitian dalam hal ini salah arah, karena manusia memiliki otak yang beragam.

Perbedaan anatomi dari otak pria dan Wanita

Tujuan dari peneliti dalam melakukan penelitian di bidang ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab dari perbedaan jenis kelamin pada otak. Bukan hanya soal fisiologi reproduksi.

Para peneliti telah menemukan corpus callosum wanita rata-rata lebih besar. Sementara yang lain hanya bagian tertentu saja yang lebih besar. Namun, otak yang lebih kecil memiliki corpus callosum yang lebih besar secara proporsional terlepas dari jenis kelamin pemiliknya.

Dan studi ini telah banyak dilakukan namun hasilnya tidak konsisten. Sampai saat ini, penjelasan tentang perbedaan jenis kelamin secara kognitif melalui anatomi otak, belum membuahkan hasil.

Hormon prenatal

Studi pada tahun 1959 menunjukkan bahwa suntikan testosterone ke hewan pengerat yang hamil menyebabkan keturunan perempuannya menunjukkan perilaku seksual laku-laki. Dalam hal ini, testosterone prenatal dapat mengatur otak.

Namun, para peneliti tidak bisa secara etis mengubah hormone prenatal manusia. Maka dari itu, penelitian mengandalkan orang dengan respons hormone prenatal yang tidak biasa. Hasilnya pun perbedaan jenis kelamin otak tidak konsisten.

Belajar dapat mengubah otak

Belajar dapat mengubah hubungan antara sel saraf yang disebut sinapsis. Belajar dapat mengubah otak orang dewasa secara dramatis. Sehingga, Berkowitz mengatakan bahwa tidak realistis jika menganggap jenis kelamin otak manusia adalah bawaan. Karena dapat dimungkinkan bahwa mereka adalah hasil dari belajar.

Menyimpulkan hal ini, Ari Berkowitz  mengatakan bahwa pada akhirnya, setiap perbedaan jenis kelamin dalam struktur otak kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi gen, hormon, dan pembelajaran yang kompleks dan saling bersinergi serta berinteraksi.