ZONAUTARA.com — Saat ini, obesitas tak lagi dialami orang dewasa. Bahkan anak-anak pun dapat terkena obesitas. Lalu, bagaimana obesitas dalam kacamata neurologis dan bagaimana cara kita memeranginya?

Sebuah studi dengan judul Dopamine Signaling in the Suprachiasmatic Nucleus Enables Weight Gain Associated with Hedonic Feeding oleh The National Institute of General Medical Sciences dan University of Virginia Brain Institute ini menjelaskan banyak hal tentang permasalahan tersebut.

Penulis juga mengungkapkan bahwa tersebarluasnya makanan padat energi dan bermanfaat, berkorelasi dengan peningkatan obesitas di seluruh dunia. Ali Güler, penulis utama studi, mengatakan bahwa terdapat hubungan antara jam biologis otak dan pusat kesenangan yang mendorong obesitas.

Makanan berkalori tinggi, yang penuh dengan gula dan karbohidrat, mengaktifkan pusat kesenangan otak kita. Rasa puas akan hal itu kemudian mendorong kita untuk menjadi kecanduan.

Perusahaan makanan olahan telah lama memanfaatkan fakta ini. Kemampuan untuk menyimpan makanan untuk waktu yang lama membuat kita tak kekurangan makanan untuk menu selanjutnya.

Penulis juga mengatakan bahwa kalori dari makanan dengan nutrisi yang lengkap, kini dapat dikemas ke dalam volume kecil, seperti brownies atau soda ukuran super. Sangat mudah bagi orang untuk mengonsumsi kalori secara berlebihan dan menambah berat badan yang berlebihan, sering kali mengakibatkan obesitas dan masalah kesehatan terkait seumur hidup.

Makanan berkalori tinggi yang tersedia dengan mudah memicu pusat kesenangan kita, menyebabkan kita tidak hanya makan berlebihan pada waktu makan, tetapi juga ngemil sepanjang hari. Ini adalah salah satu cara paling pasti untuk menambah berat badan.

Selain itu, penelitian juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi seperti ponsel yang membuat kita kecanduan pun berperan dalam munculnya obesitas. Penggunaan ponsel yang terus-menerus juga berdampak negatif pada ritme sirkadian kita. Kurang tidur juga berkontribusi terhadap epidemi obesitas.

Bagaimana cara memeranginya?

Salah satu cara penting agar kita dapat memerangi tren ini adalah dengan puasa. Puasa intermiten telah terbukti membantu meningkatkan penurunan berat badan.

Meskipun ada perdebatan mengenai durasi puasa yang tepat, namun melakukan puasa dalam waktu 10 jam terbukti ampuh. Beberapa penelitian bahkan menyarankan puasa 12 jam sangat membantu untuk menurunkan berat badan.