Catatan perjalanan jurnalistik, ditulis oleh Jufri Fransicho Kasumbala.

ZONAUTARA.com — Jumat (27/05/2022), saya dan beberapa teman wartawan yang tergabung dalam Asosiasi Wartawan Sitaro, berniat mendatangi salah satu rumah di Desa Buise, tepatnya di Dusun Kompose, setelah mendapat informasi adanya satu keluarga yang menderita kelumpuhan di desa tersebut.

Kampung Buise, Kecamatan Siau Timur adalah sebuah desa yang berjarak sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Ulu. Siau masuk dalam Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut).

Karena ini adalah kali pertama kami ke daerah yang dituju, serta minimnya informasi, kami perlu bertanya kepada warga sekitar mengenai lokasi rumah keluarga tersebut, dan syukurlah tak sulit mendapat informasi warga. Mereka dengan senang hati menunjukkan arah.

Dengan kendaraan roda dua, kami berhasil melewati jalan yang nyaris tak ada yang landai. Beberapa kali kami mengalami kesulitan dengan kontur jalan menanjak dan berbelok. Meski begitu, medan jalan seperti itu seimbang dengan pemandangan pohon pala dan cengkih di sekitarnya, yang membuat kami tak keberatan jika harus behenti sejenak menikmatinya.

Sekitar 2 kilometer berhadapan dengan tanjakan yang cukup menantang, kami tiba di Dusun Kompose. Dengan bermodalkan informasi warga, kami tiba di salah satu rumah beton yang catnya sudah dimakan usia. Di balik Jendela, tampak seorang perempuan duduk di kursi roda, dan tepat di sebelah kiri pintu utama terlihat seorang pemuda sedang duduk dengan posisi kaki terjulur di depan makam yang sudah dibalut keramik berwarna kuning.

Setelah kami hampiri, ternyata itulah letak rumah yang kami tuju, rumah keluarga Manope–Daraeng. Tak banyak rumah di sekitar rumah ini, hanya sekitar tiga rumah yang dikelilingi oleh pepohonan. Setelah memastikan, ternyata benar adanya mengenai informasi yang kami terima. Dari lima anggota keluarga, empat diantaranya mengalami kelumpuhan dan harus dibantu oleh seorang kerabat bernama Noviny Daraeng.

“Rumah ini ditinggali lima orang, empat diantaranya mengalami lumpuh,” kata Noviny, sambil menunjuk ke arah dapur, dimana terdapat seorang perempuan yang mendekati usia lansia, sedang tertidur dan memang tak bisa bergerak banyak karena kelumpuhan yang dialaminya, yang kemudian kami ketahui dialah ibu di keluarga ini.

Noviny Daraeng adalah seorang perempuan berusia 49 tahun yang memberi dirinya menjaga keluarga di rumah ini setiap hari. Noviny merupakan kerabat dekat dari keluarga tersebut. Dari dialah kami mendapat informasi mengenai kondisi keluarga Manope-Daraeng.

  1. Rokaina Daraeng, berusia 60 tahun, sudah 12 tahun mengalami kelumpuhan.
  2. Leni Matilda Manope berusia 33 tahun, sudah 3 tahun mengalami kelumpuhan.
  3. Ronelson Manope, Berusia 32 tahun, lumpuh sejak usia 20 tahun.
  4. Ronikson Manope, berusia 32 tahun yang merupakan saudara kembar Ronelson, yang juga mengalami lumpuh sejak usia 20 tahun.
  5. Mauren Linsein Manope, berusia 8 tahun (anak dari Leni Manope), merupakan satu-satunya anggota keluarga yang tidak lumpuh, dan saat ini sedang menempuh pendidikan di SD Inpres Kanang.

Noviny bercerita, sebelum Korneles Manope, yaitu sang ayah di keluarga tersebut meninggal, kondisi keluarga tidak sesulit ini. Korneles meninggal dunia pada November 2021 karena sakit, dan makam yang kami lihat pertama kali, yang berada di sebelah kiri pintu utama rumah ini, ternyata adalah makam Korneles.

“Itu pukulan yang berat. Dia (Korneles), sebelum meninggal hanya bisa menatap sambil menangis, dan saya langsung mengerti, tugas ini diserahkan kepada saya untuk menjaga keluarga ini,” tuturnya.

Setiap hari, Noviny menjaga keluarga tersebut, mulai dari memasak, mengurus rumah, hingga memandikan keluarga. Meski dilakukannya dengan ikhlas, Noviny berharap ada kebaikan yang menggerakkan hati siapa saja, untuk mengurangi kesulitan keluarga tersebut.

“Saya berharap ada orang baik yang membantu keluarga ini, baik sembako maupun pemeriksaan Kesehatan,” katanya lagi.

Kami mencoba untuk mewawancarai Ronikson, yang diketahui terlebih dahulu mengalami lumpuh dibanding dua saudaranya yang lain. Ronikson mengaku sebelumnya tidak merasakan gejala apa–apa. Dia baru merasakan sakit di bagian kakinya saat berusia 19 tahun kemudian berlanjut terasa keram selama beberapa tahun, hingga gejala tersebut dirasakannya sampai ke bagian tangannya.

“Saya akhirnya tidak bisa berjalan normal dan menggerakan tangan di usia dua puluan tahun, dan saat ini saya sudah berusia 32 tahun,” ungkapnya.

Ronikson Manope, sedang duduk di samping makam mendiang ayahnya yang terletak di depan rumah keluarga Manope-Daraeng, (27/05/2022) Foto: Jufri Kasumbala

Di bagian kedua lututnya dililitkan kain yang cukup tebal. Kain itu berfungsi sebagai alas, karena untuk berjalan Ronikson terpaksa menggunakan kedua lututnya dibantu tangan yang dipaksa setiap hari untuk pijakan. “Tangan tidak bisa diangkat tinggi, kalau makan tidak bisa, harus dibantu disuap,” ungkapnya.

Kami juga mencoba menemui Rokania Daraeng yang merupakan ibu dari keluarga ini. Kondisi Rokania sedang terbaring dengan ditutup kain dari bagian perut hingga kaki. Kata yang keluar dari mulutnya pun sulit dikenali. Rokania hanya bisa berlinang air mata saat melihat kami.

Di ruang tamu, kami berbincang dengan Matilda Manope, anak sulung di keluarga tersebut, dan juga ibu dari Mauren Linsein Manope. Matilda merupakan orang terakhir terkena penyakit serupa. Gejala yang dialaminya juga sama dengan yang dialami Ronikson. Ia mengalami keram di bagian kaki dan naik hingga ke bagian tangan, sampai akhirnya tidak bisa berjalan dan menggerakan tangan. Dia juga mengaku pernah datang menemui dokter yang saat itu membuka bakti sosial di gerejanya, dan dokter mengatakan jika apa yang dialaminya berhubungan dengan saraf.

Hingga saat ini, Matilda mengaku tidak pernah ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan kondisi mereka, karena akses rumah yang jauh dari jalan raya, yang menyulitkan mereka untuk bisa ke puskesmas atau rumah sakit. Namun selain akses jalan, biaya menjadi faktor utama keluarga ini mengurungkan niat untuk diperiksa, “Tidak ada biaya,” ucap Matilda. Sementara, kursi roda yang ia gunakan merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sitaro.

Salah satu kondisi yang cukup menyayat hati kami, selain penderitaan yang dialami keluarga karena penyakit, anak Matilda yang masih berusia 8 tahun, karena kondisi keluarga, masa depannya terancam. Mauren kini harus membagi tugas antara sekolah dan rumah.

Gadis kecil yang harusnya belajar, dan bermain di usianya, kini mulai dilatih untuk membersihkan rumah, mengganti popok neneknya, mencuci piring dan membantu menyuap makanan serta pekerjaan lainnya di rumah. Menjadi tumpuan keluarga sudah harus diterimanya sejak dini.

Malaikat kecil di keluarga ini memiliki cita-cita mulia, yaitu ingin menjadi dokter. “Saya ingin menjadi dokter untuk bisa membantu mama dan semua orang di rumah ini,” kata Mauren malu.

Keluarga ini setiap bulan hanya bergantung pada bantuan yang ada. Pihak gereja setiap bulannya membantu keluarga, berupa uang diakonia. Begitu juga bantuan masyarakat lewat sembako, serta dari pemerintah setempat. Meski begitu, batuan yang mereka peroleh hingga saat ini, masih jauh dari cukup untuk bisa berobat.

Kami juga mendapat informasi, bahwa pada Selasa (31/05/2022) Pemerintah daerah telah mengutus tiga dokter dari Rumah Sakit Umum Daerah Lapangan Sawang untuk melakukan pemeriksaan dan membantu kesehatan Keluarga. Untuk hasil pemeriksaan belum diketahui karena harus dilakukan pemeriksaan laboratorium di luar daerah.

“Pagi tadi, dokter spesialis dan dokter umum dari RS Sawang telah melakukan pemeriksaan awal untuk keempat anggota keluarga Manope-Daraeng di Buise, sambil menunggu hasil lab, sudah diberikan obat untuk sementara,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi lewat pesan Whatsapp.

Editor: Novita Wenzen




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id