Satwa endemik yang asing di rumahnya

Bogani Nani Wartabone menyimpan kehidupan yang kaya, tapi tak semua yang tinggal di sekelilingnya mengenal isi hutan itu.
satwa
Kolase foto site konservasi maleo di Tambun dan anak maleo yang siap dilepasliarkan. (Foto: Indra Umbola & Ronny A. Buol)
satwa

zonaX

Satwa endemik yang asing di rumahnya

Bogani Nani Wartabone menyimpan kehidupan yang kaya, tapi tak semua yang tinggal di sekelilingnya mengenal isi hutan itu.

ZONAUTARA.com — Di depan gerai sebuah ritel modern di daerah Doloduo, Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), nampak seorang pemuda baru saja turun dari sepeda motornya, Jumat (7/11/2025).

Pemuda bernama Dio itu merupakan warga Molibagu, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), sebuah wilayah yang besentuhan dengan kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).

Meski begitu, Dio nampak gagap ketika ditanya apa saja satwa endemik di kawasan TNBNW yang diketahuinya.

Ia tak langsung menjawab. Raut wajahnya menyiratkan ketidaktahuan. Ada sebuah keraguan yang melanda lelaki usia 20 tahun tersebut.

Usai bergulat dengan bait-bait ingatannya, barulah ia tampak yakin menjawab dengan suara lirih.




“Saya tidak tahu,” ucapnya terbata, seperti menyadari ada sesuatu yang ia lewatkan dalam hidupnya.

Apa yang Dio alami tak dapat dihakimi secara sepihak, melainkan dapat dilihat sebagai tantangan bagi pendistribusian pengetahuan dasar tentang konservasi bagi masyarakat lingkar kawasan TNBNW.

TNBNW sendiri merupakan kawasan konservasi yang terletak di dua provinsi, yakni Sulut dan Gorontalo.

Taman Nasional yang memiliki luas 283.399,06 ha tersebut mencakup wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Bolmong Selatan, dan Bolmong Utara di Sulut serta Kabupaten Bone Bolango di Gorontalo. Luas kawasan yang masuk di wilayah administratif Provinsi Sulut adalah 178.424,13 ha, sisanya 104.974,93 ha ada di wilayah administratif Provinsi Gorontalo.

TNBNW merupakan penggabungan tiga kawasan konservasi, yakni Suaka Margasatwa Dumoga, Suaka Margasatwa Bone, dan Cagar Alam Bulawa.

Ketiga kawasan suaka alam tersebut diumumkan sebagai taman nasional oleh Menteri Pertanian Soedarsono Hadisapoetro melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian nomor No. 736/Mentan/X/1982 tanggal 15 Oktober 1982.

Pengumuman tersebut dilakukan pada Kongres Taman Nasional Sedunia ke-II tahun 1982 yang digelar di Bali.

Sebagai kawasan konservasi darat terbesar di Pulau Sulawesi, TNBNW menjadi rumah bagi 206 jenis burung (aves), 36 jenis mamalia, 40 jenis reptil, 200 jenis kupu-kupu, 13 jenis amfibi, 128 jenis laba-lana serta ratusan jenis pohon. Untuk jenis burung sendiri dari 206 jenis yang dimiliki kawasan ini, 81 jenis diantaranya merupakan endemik pulau Sulawesi, 58 jenis dengan status dilindungi, dan 10 jenis diantaranya berstatus Terancam Secara Global berdasarkan kriteria IUCN.

Satwa endemik yang asing di rumahnya
Grafis: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Satwa prioritas

Satwa endemik merupakan satwa yang hanya hidup di wilayah geografis tertentu, misalnya pulau atau negara. Artinya, satwa endemik merupakan satwa yang hanya ditemukan secara alami di wilayah yang sangat spesifik. Contoh hewan endemik, yakni orang utan di Kalimantan dan Sumatera, serta komodo di Pulau Komodo.

Dalam konteks konservasi di Indonesia, satwa prioritas adalah jenis satwa liar yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena tingkat keterancamannya tinggi, perannya penting bagi keseimbangan ekosistem, atau nilainya besar bagi identitas budaya suatu wilayah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan satwa prioritas sebagai fokus utama upaya perlindungan dan pengelolaan keanekaragaman hayati.

Penetapan ini mempertimbangkan status konservasi internasional seperti daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebaran geografis yang terbatas, serta ancaman serius seperti perburuan, degradasi habitat, dan konflik dengan manusia. Dengan kata lain, satwa prioritas bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga strategis dalam kebijakan konservasi nasional.

Di kawasan TNBNW, terdapat beberapa satwa kunci sekaligus sebagai satwa prioritas. Mereka berperan penting dalam menjaga ekosistem, seperti penyebaran biji, pengendalian populasi dan penyerbukan. Satwa-satwa ini juga sekaligus menjadi fokus utama upaya pelestarian karena populasinya kian menurun akibat perburuan dan perambahan hutan.

Kepala Balai TNBNW, Decky Hendra Prasetya menjelaskan, ada beberapa satwa endemik Sulawesi yang dapat ditemui di TNBNW, seperti burung maleo (Macrocephalon maleo), babirusa Sulawesi (Babyrousa celebensis), anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii), monyet Gorontalo (Macaca nigrescens), monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) dan babi kutil Sulawesi (Sus celebensis).

“Satwa prioritas di TNBNW antara lain maleo, anoa, babirusa, dan monyet hitam Sulawesi,” ujarnya saat dihubungi Zonautara.com, Rabu (5/11/2025).

Satwa endemik yang asing di rumahnya
Grafis: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Upaya dibalik ancaman

Empat satwa kunci dan prioritas di kawasan TNBNW yang disebutkan di atas berstatus terancam secara global. Dikutip dari laman IUCN Red List, maleo berstatus Sangat Terancam Punah, babirusa Sulawesi berstatus Rentan, anoa dataran rendah berstatus Terancam Punah, dan monyet hitam Sulawesi berstatus Sangat Terancam Punah.

Ancaman keberlangsungan hidup satwa kunci tersebut datang dari campur tangan manusia yang disebut Decky sebagai tantangan dalam konservasi. Dari beberapa tantangan yang disebutkannya, sebagian besar berkaitan erat dengan perambahan hutan oleh manusia.

“Berbagai ancaman dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan TNBNW antara lain illegal logging, perburuan satwa, penambangan emas tanpa ijin, perambahan, okupasi lahan dan penyebaran penyakit pada satwa liar,” ucapnya.

Meski dengan tegas ia menyatakan belum ada satwa di kawasan TNBNW yang dinyatakan punah, namun berbagai status keterancaman merupakan alarm waspada yang tak bisa diabaikan.

Decky menyebut, berbagai upaya konservasi telah dilakukan oleh pihaknya demi menjaga kelestarian alam, termasuk satwa endemik dan satwa kunci.

“Antara lain melakukan patroli pengamanan dan perlindungan kawasan TNBNW, seperti patroli rutin, SMART patrol, patroli jerat bersasar,” ujarnya.

Selain itu, pihak Balai juga melakukan monitoring populasi, pembinaan habitat dan pemulihan ekosistem, penyadartahuan kepada masyarakat, dan koordinasi lintas sektoral dengan Pemerintah Daerah, Polri, dan akademisi.

“Ada pula pemberdayaan masyarakat dan menyediakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, serta penegakan hukum,” tambahnya.

Dalam kaitan dengan pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi, berbagai program telah dilakukan, termasuk penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat, serta pendidikan konservasi ke sekolah-sekolah di sekitar kawasan TNBNW.

Satwa endemik yang asing di rumahnya
Peta: Balain Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Kesenjagan pengetahuan

Namun dibalik berbagai upaya yang dilakukan Balai TNBNW untuk mengedukasi warga sekitar kawasan akan pentingnya pelestarian satwa liar, pengakuan Dio bukanlah satu-satunya cerita tentang ketidaktahuan mengenai satwa endemik yang ada di kawasan taman nasional.




Agus, warga Tumokang Timur, Dumoga Utara mengaku tak banyak tahu tentang satwa endemik meski desa yang ditinggalinya sangat dekat dengan kawasan taman nasional.

“Ya, paling maleo dan monyet,” ujar Agus saat ditemui Zonautara.com di sela-sela pekerjaannya sebagai sopir truk.

Tak jauh berbeda, Aldi, warga Molibagu, juga mengutarakan hal yang sama. Ia hanya tahu maleo.

“Selain maleo, saya tidak tahu lagi,” ucap lelaki berusia 28 tahun tersebut.

Senada, Nurul Halima, warga Mopuya Selatan, Dumoga Utara, juga hanya tahu tentang maleo.

“Sepengetahuan saya, satwa endemik di TNBNW adalah maleo,” ucapnya.

Sementara, Opsar Damodalag, warga Kinomalingan, Dumoga Tengah mampu menyebutkan beberapa spesies satwa endemik di TNBNW.

“Setahu saya, satwa endemik di TNBNW ada yaki (monyet hitam Sulawesi), maleo, tarsius, anoa, dan babirusa,” ucapnya.

Opsar mengaku, pengetahuan itu didapatnya karena sesuai dengan mata pelajaran yang ia ajarkan di sekolah.

“Saya tahu karena saya mengajar mata pelajaran biologi yang di dalamnya ada materi tentang Garis Wallacea,” aku Opsar.

Dari sekian kisah yang dihimpun Zonautara.com, terlihat jelas ada perbedaan pengetahuan di tengah masyarakat tentang satwa endemik.

Protected Area Specialis WCS-IP Sulawesi, Herman Teguh menilai, perbedaan pengetahuan di antara masyarakat tersebut sebagai sebuah kesenjangan.

“Karena desa di sekeliling TNBNW cukup banyak, mungkin belum semuanya dapat dijangkau dan kalau pun sudah bisa dijangkau, mungkin ada bahan sosialisasi yang tidak mendarat (atau dipahami) sepenuhnya,” ucapnya saat dihubungi, Sabtu (8/11/2025).

Ia juga menilai, tingginya popularitas maleo yang melebihi satwa lainnya tak terlepas dari masifnya kampanye yang dilakukan untuk maleo.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone memiliki site konservasi satwa yang berfokus pada burung maleo di beberapa lokasi seperti Sanctuary Maleo Muara Pusian, Sanctuary Maleo Tambun, dan Sanctuary Maleo Hungayono.

“Itu membuktikan yang paling banyak mereka terima adalah isu tentang maleo, karena itu yang paling gencar dikampanyekan,” ujarnya.

maleo
Sepasang maleo difoto di nesting ground Muara Pusian, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. (Foto: zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Tanggung jawab bersama

Herman Teguh berpandangan, di balik tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang konservasi, selalu ada proses yang tidak singkat.

Selain sosialisasi dan edukasi, ia juga mengingatkan pentingnya melakukan upaya yang menjembatani kebutuhan masyarakat dan regulasi yang dipegang teguh oleh pihak pengelola kawasan.

Ia menceritakan, sering kali ada pemburu yang sadar bahwa satwa yang diburu tersebut dilindungi, tapi mereka punya keterbatasan yang tinggi dan tidak punya keahlian lain selain berburu.

“Tantangan terbesarnya adalah membuat mereka jadi tahu dan apakah kebutuhan ekonomi mereka yang bergantung pada kawasan hutan itu sudah terpenuhi atau belum,” ujarnya.

Sementara, Decky menyampaikan, konservasi merupakan tanggung jawab bersama untuk menjamin keberlanjutan kehidupan di bumi bagi generasi sekarang dan akan datang.

Untuk itu ia mengajak seluruh pihak terkait untuk bersinergi menjaga TNBNW sebagai rumah bersama. Ia pun menegaskan, menjaga alam termasuk satwa yang ada di dalamnya merupakan salah satu upaya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Menjaga hutan berarti menjaga sumber air, udara bersih, dan hasil alam yang memberi kehidupan. Melindungi satwa liar seperti maleo, anoa, dan babirusa berarti menjaga keseimbangan ekosistem agar tetap lestari,” pungkasnya.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com