ZONAUTARA.com – Pihak SMA Negeri 9 Manado menggelar pertemuan dengan orang tua/wali siswa yang terdampak finalisasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), Jumat (07/02/25). Pertemuan ini dilakukan untuk membahas permasalahan yang mengancam kelayakan siswa dalam mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) 2025.
Kronologi finalisasi PDSS di SMAN 9
Pelaksana tugas (Plt.) Kepala SMAN 9 Manado, Hendra Jonna Massie, S.Pd., menjelaskan bahwa pihak sekolah telah menyelesaikan finalisasi PDSS sesuai dengan tahapan yang telah ditetapkan. Namun, dari total 314 siswa yang memenuhi syarat, hanya 197 siswa yang berhasil terinput dalam sistem. Sebanyak 117 siswa lainnya mengalami kendala dalam proses pendaftaran.
“Kami sudah menyelesaikan finalisasi sejak 31 Januari 2025, tetapi hanya 197 data siswa yang tercatat dalam sistem. Sisanya harus diinput secara manual, dan hal ini tidak memungkinkan karena keterbatasan waktu. Kami juga memperoleh pernyataan dari panitia ternyata gerbong data yang bisa diterima tidak bisa melewati 200 dan pihak panitia SNBP juga tidak mengira kalau SMAN 9 memiliki siswa eligible hingga 300-an,” jelas Hendra.
Keresahan orang tua terkait finalisasi PDSS
Pernyataan di atas cukup membuat orang tua siswa geram. Pasalnya, penutupan finalisasi PDSS pada tanggal 31 Januari 2025 dan sekolah melalaikannya dengan menginput data pada hari tenggat waktu yaitu 31 januari 2025.
“Dengan logika sederhana saja, kenapa sekolah tidak menetapkan waktu tersendiri bagi siswa untuk menentukan pilihan menerima status eligible atau tidak jauh hari dari tanggal 31 Januari 2025. Karena sudah pasti bila di unggah pada tenggat waktu, server beresiko down,” keluh salah satu orang tua siswa.
Pada waktu yang lain, pihak sekolah mengeluarkan pernyataan bahwa proses input data telah dilakukan berminggu-minggu dan pertimbangan kenapa sekolah memutuskan untuk finalisasi pada tanggal 31 Januari 2025 adalah untuk menghindarkan sanksi administratif terhadap sekolah. Sanksi administratif ini berupa pembatasan siswa eligible pada tahun berikutnya dikarenakan siswa eligible tidak menerima hasil SNBP tersebut.
“Dari pernyataan yang berbeda-beda saja sudah menimbulkan kecurigaan pada kami sebagai orang tua,” tutur Iske yang ditemui di ruang Multimedia SMAN 9 Manado.
Hal yang terasa janggal berikutnya adalah bahwa proses finalisasi sekolah diperpanjang hingga 5 Februari 2025 namun SMAN 9 tidak termasuk dalam syarat melengkapi berkas. Ini menimbulkan dugaan bahwa tidak ada data yang masuk sehingga tidak bisa di finalisasi.

Solusi yang ditawarkan sekolah
Meski demikian, Hendra mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk mencari solusi. Salah satunya dengan mendatangi langsung Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Menengah (Kemendiktisaintek) pada, Rabu (05/02/25) guna meminta kejelasan terkait status siswa yang datanya belum masuk ke PDSS.
“Sampai saat ini, kami hanya mendapat pernyataan dari Kemendiktisaintek bahwa kami diminta untuk menunggu keputusan lebih lanjut. Namun, kami tetap berusaha mencari solusi terbaik bagi siswa,” ujarnya di hadapan orang tua siswa.
Dalam pertemuan tersebut, beberapa orang tua siswa menyampaikan keresahan mereka. Mereka berharap ada keterbukaan dari pihak sekolah dan ruang untuk berdialog serta mencari solusinya bersama dengan harapan akan mendorong kebijakan baru dari pemerintah yang dapat memastikan seluruh siswa eligible tetap dapat mengikuti SNBP, mengingat permasalahan ini bukan berasal dari kesalahan siswa.
Di sisi lain, siswa yang merasakan kekecewaan terkait finalisasi PDSS merespon hal ini dengan mogok belajar dan tidak datang ke sekolah. Namun sayangnya, hal ini justru menghadirkan narasi baru dari pihak sekolah bahwa jika siswa-siswa ini tidak datang ke sekolah maka tidak akan diberikan ijazah.
“Hal ini sangat disayangkan karena kesannya membungkam orang tua yang terlanjur takut bersuara karena sudah diancam anaknya tidak akan diberikan ijazah bila tidak kembali ke sekolah. Sementara yang mungkin guru-guru tidak tahu beberapa anak kami merasa panik, kecewa dan terpukul. Kami orang tua serba salah untuk mengambil sikap apalagi dengan situasi akhir-akhir ini di Kota Manado,” jelas Iske Luntungan, perwakilan paguyuban orang tua.
Pada kesempatan ini, Hendra menyampaikan langkah konkret yang akan ditempuh. Pihak sekolah mengambil inisiatif untuk mendampingi siswa eligible dengan menyediakan bimbingan belajar (bimbel). Program bimbel ini diberikan secara gratis melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan seperti Ganesha Operation (GO) dan Ruangguru.
“Langkah ini kami ambil agar siswa tetap mendapatkan persiapan yang maksimal, terutama bagi mereka yang nantinya harus mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) sebagai jalur alternatif. Ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk memperoleh rekomendasi jurusan yang tepat, sehingga dapat membuat keputusan untuk memilih perguruan tinggi yang bersesuaian dengan kemampuan akademik masing-masing,” tambah Hendra.
Namun meski disediakan secara gratis, opsi ini tidak membuat siswa merasa aman dan justru menimbulkan kekhawatiran baru.
“Ada beberapa teman kami yang sejak awal menargetkan UTBK, mereka sudah melaksanakan les mandiri dari kelas 10. Tentu saja tidak akan sebanding dengan kami yang hanya mengikuti les dalam waktu yang pendek dan dalam kondisi seperti ini. Kami kehilangan motivasi,” ungkap Ivana, salah satu pelajar yang terkena dampak.
Hingga saat ini, pihak SMAN 9 Manado masih terus berkoordinasi dengan instansi terkait. Orang tua berharap sekolah dapat bersikap terbuka untuk jujur dan mau berkolaborasi mencari solusi yang terbaik. Mereka berharap ada keputusan yang memungkinkan seluruh siswa eligible tetap dapat bersaing dalam seleksi masuk perguruan tinggi tahun ini.


