Lebaran 2025 lesu: Penjualan pakaian merosot, jumlah pemudik turun drastis

Melemahnya daya beli masyarakat sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi berbagai sektor ekonomi.

Ronny Adolof Buol
Editor: Redaktur
Sejumlah pemudik berada di dalam bus saat pelepasan program mudik gratis di Mapolda Sulut, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (27/3/2025). (Foto: Zonautara.com/Yegar Sahaduta)

ZONAUTARA.com – Menjelang Lebaran 2025, berbagai indikator menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan, mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat.

Di sektor perdagangan, para pedagang pakaian di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengeluhkan penurunan penjualan hingga 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dikutip dari Bisnis.com, Destiana, seorang karyawan toko pakaian di Blok C Central Tanah Abang, mengungkapkan bahwa omzet kotor tokonya kini rata-rata hanya mencapai Rp10 juta per hari, turun drastis dari tahun sebelumnya.

Kondisi serupa terjadi di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, di mana penjualan pakaian menjelang Lebaran 2025 mengalami penurunan signifikan. Agung Riyadi, seorang pedagang di pasar tersebut, menyatakan bahwa omzet hariannya menurun hingga 50%, dari sebelumnya Rp2 juta menjadi sekitar Rp1 juta. Ia menambahkan bahwa biasanya, dua minggu sebelum Lebaran, pasar sudah ramai pengunjung, namun tahun ini suasana tetap sepi.

Selain penurunan penjualan pakaian, jumlah pemudik Lebaran 2025 juga diprediksi menurun sebesar 24% dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Perhubungan memperkirakan hanya 146,48 juta orang yang akan melakukan perjalanan mudik tahun ini, turun dari 193,6 juta orang pada tahun lalu.


Lebaran 2025 lesu: Penjualan pakaian merosot, jumlah pemudik turun drastis

Penurunan ini mengindikasikan adanya pelemahan daya beli masyarakat yang berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dampak dari penurunan jumlah pemudik juga terlihat pada realisasi penukaran uang baru untuk kebutuhan Lebaran.

Tahun ini, penukaran uang baru hanya mencapai 37% dari total yang disediakan oleh Bank Indonesia, menunjukkan penurunan signifikan dalam perputaran uang selama periode Lebaran. ​

Pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai bahwa penurunan aktivitas ekonomi menjelang Lebaran 2025 ini menandakan kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak baik-baik saja.

Penurunan belanja masyarakat dan jumlah pemudik menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat melemah, yang dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, berbagai indikator tersebut mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia menjelang Lebaran 2025, dengan melemahnya daya beli masyarakat sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi berbagai sektor ekonomi.

Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com