Update gempa M7,7 Myanmar: Lebih dari 1.600 korban tewas, upaya pencarian terus dilakukan

Upaya penyelamatan berhadapan dengan tantangan infrastruktur yang rusak akibat perang saudara.

Ronny Adolof Buol
Editor: Redaktur
Biksu Buddha berjalan melewati sebuah bangunan yang runtuh di Naypyidaw, Myanmar, pada hari Sabtu. (Foto: Aung Shine Oo/AP)

ZONAUTARA.com – Tim penyelamat masih berupaya keras mencari korban selamat lebih dari dua hari setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang Myanmar. Gempa ini meruntuhkan bangunan hingga sejauh ibu kota Thailand, Bangkok, serta menimbulkan getaran di provinsi terdekat di Tiongkok.

Lebih dari 1.600 orang dilaporkan tewas akibat gempa terbesar dalam satu abad terakhir, yang melanda negara yang tengah dilanda konflik ini. Para ahli khawatir jumlah korban akan bertambah banyak dan akan terungkap dalam beberapa minggu mendatang.

Kerusakan meluas dilaporkan setelah gempa memicu runtuhnya jembatan dan bangunan, termasuk di Bangkok. Otoritas setempat berusaha menyelamatkan puluhan orang yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan bertingkat yang sedang dibangun.

Pusat gempa dan kerusakan

Pusat gempa tercatat berada di wilayah Sagaing, Myanmar tengah, dekat bekas ibu kota kerajaan Mandalay yang dihuni sekitar 1,5 juta orang serta memiliki banyak kompleks candi bersejarah dan istana.

Bantuan asing dan tim penyelamat internasional mulai berdatangan ke Myanmar setelah junta militer meminta bantuan. Gempa pada Jumat tersebut telah menjadi bencana alam paling mematikan di negara itu dalam beberapa tahun terakhir, saat Myanmar masih dilanda perang saudara yang telah merusak jaringan komunikasi, infrastruktur kesehatan, yang mengakibatkan jutaan orang tanpa makanan dan tempat tinggal yang layak.


Korban manusia yang besar

Militer Myanmar menyatakan lebih dari 1.600 orang tewas dan sekitar 3.400 lainnya terluka. Sekitar 140 orang lainnya masih hilang. Otoritas memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban akhir bisa melebihi 10.000 orang.

Di Bangkok, ratusan kilometer dari pusat gempa, setidaknya 17 orang tewas, termasuk 10 orang yang tewas akibat runtuhnya bangunan yang sedang dibangun. Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung untuk setidaknya 80 orang yang masih hilang.

Kehancuran yang meluas

Kesaksian dan citra satelit menunjukkan kerusakan yang sangat parah. Seorang perempuan di Mandalay menceritakan bagaimana dinding rumahnya runtuh menimpa neneknya yang sedang duduk, menimbun kakinya di bawah reruntuhan. Di kota yang sama, beberapa masjid yang dipenuhi jemaah untuk salat Jumat juga hancur.

Di selatan, kota Nyaungshwe, Kalaw, dan Pinlaung termasuk yang paling parah terdampak. Ribuan orang terpaksa bermalam di jalan atau area terbuka karena rumah hancur atau takut gempa susulan.

Di Naypyidaw, ibu kota militer Myanmar, sebuah rumah sakit tiga lantai sebagian runtuh, menjebak pasien di bawah puing-puing. Hingga Minggu, hampir 1.700 rumah, 670 biara, 60 sekolah, dan tiga jembatan dilaporkan rusak.

Bantuan asing berdatangan

Beberapa negara telah mengirim bantuan setelah para pemimpin militer Myanmar meminta bantuan. Tiongkok mengirim tim penyelamat pertama ke Yangon, sementara Rusia mengirim spesialis termasuk tim anjing pelacak. Inggris, Irlandia, dan Australia menyumbangkan lebih dari $20 juta bantuan kemanusiaan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut gempa ini sebagai “bencana besar” dan berjanji akan mengirim bantuan. India, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong juga mengumumkan akan mengirimkan bantuan.

Namun, tim penyelamat menghadapi tantangan berat karena infrastruktur yang rusak akibat perang saudara semakin hancur oleh gempa. Jalur yang terhalang reruntuhan serta pemadaman komunikasi menghambat upaya penyelamatan.

Mengapa gempa iIni sangat merusak?

Myanmar berada di jalur patahan gempa aktif, tetapi sebagian besar gempa biasanya terjadi di daerah terpencil. Gempa kali ini terjadi pada kedalaman dangkal 10 kilometer, yang menyebabkan kerusakan lebih parah.

Energi yang dilepaskan setara dengan 334 bom atom. Para ilmuwan mengatakan gempa terjadi di sepanjang patahan Sagaing, yang merupakan patahan “strike-slip” dengan pergeseran horizontal antara dua lempeng tektonik.

Sebagian besar bangunan di daerah terdampak terbuat dari kayu atau batu bata yang tidak diperkuat, sehingga sangat rentan terhadap kerusakan akibat gempa.

TAGGED:
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com