ZONAUTARA.com – Pengalaman tak terlupakan seumur hidup di alami Joannie sharon Raule, perempuan asal Sulawesi Utara yang kini bekerja di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Meski beberapa kali sudah mengunjungi Thailand, namun kunjungan ketiganya kali ini tak pernah terlupakan.
Joannie Raule dan Ibunda berangkat dari Bandara Sam Ratulangi Manado, pada 24 Maret 2025. Setelah menempuh penerbangan selama 3 jam 15 menit dengan maskapai Scoot, keduanya tiba di Bandara Changi, Singapura, karena tidak ada penerbangan langsung dari Manado ke Thailand.
“Bermalam di Singapura karena pesawat nanti berangkat besoknya (25 Maret 2025) pukul 06.55 waktu setempat. Kami coba mengisi waktu dengan tour,” kata Joani kepada Zonautara.com, Senin (31/3).
Keesokan harinya, setelah menempuh penerbangan selama 2 jam 30 menit, mereka tiba di Thailand, Bangkok. Ini merupakan perjalanan ketiga bagi Joannie ke Thailand. Bbagi dia negeri gajah putih ini selalu menyimpan cerita menarik.
“Saat orang-orang bosan di Thailand, bagi saya tempat ini selalu ada di hati,” ujarnya, tertawa.
Tak perlu waktu lama, meraka mengambil barang bawaan dan kemudian naik rail link dengan membayar sekira 40 baht untuk sampai ke pusat kota. Lanjut check in dan jalan-jalan di hari pertama kunjungan mereka.
Dua hari setelahnya pada 26 dan 27 Maret 2025 mereka menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat menarik seperti main ke pasar Pratunam, berkunjung ke Siam Square, ke Wat Arun untuk berfoto, dan juga menyewa baju adat setempat. Setelah itu ke mall Wat Arun, Mall Centralworld, dan makan siang di Thong Smith, serta menghabiskan sore di Before Sunset.
Gempa M7,7 di Thailand
Pada 28 Maret 2025, Joani paginya jalan ke Chatuchak Market sebuah pasar besar di sana untuk mencari cinderamata. Karena cuaca yang panas ia akhinrya kembali ke hotel untuk istirahat. Dia masih ingat waktu itu terbangun oleh alarm hotel, sekira pukul 13.30 waktu Thailand.
“Saya mengira itu bunyi MRT, karena hotel dekat dengan rail MRT, ternyata itu alarm gempa, mama dan saudara langsung ambil tas karena kita mnginap di lantai 7 hotel,” ceritanya.
Karena panik, Joannie tidak lagi memperhatikan kondisinya.
“Harusnya saya kemanapun bawa paspor, dan sandal. Waktu saya lari hanya memegang handphone, kamera, powerbank, bahkan saya tidak mengenakan sendal padahal jalananan panas, karena panik. Saya melihat semua orang lari keluar hotel,” ujar Joani.
Kata Joannie, ia melihat sekitar dimana semua orang berlari menjauhi hotel, karena berdekatan dengan Tower Baiyoke, gedung tinggi yang ditakuti akan runtuh.
“Durasi gempa sekira 5 menit, dan menurut berita kekuatannya 7,7 magnitudo berpusat di Myanmar,” ungkap dia.
“Alhasil selama seharian kita semua menggunakan tangga darurat ke lantai 7, karena lift tidak bisa digunakan untuk sementara. Dari kejadian itu kita tidur tidak tenang, semua barang sudah di packing di koper,” sambungnya.
Pada saat itu, semua jalaan macet, dan sulit untuk mendapatkan makanan. Dia baru tahu belakangan gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada kedalaman 10 km di Myanmar dengan pusat gempa di Mandalay. Bangunan di kota berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa ini rusah berat dan ribuan nyawa menjadi korban.
“Semua cuma bisa berserah, banyak berdoa pada Tuhan Yesus minta pertolongan,” ucap Joannie.
Alvio Oping, suami Joannie mengatakan merasa lega karena mendapat kabar istri dan orang tua dalam keadaan selamat. Alvio yang juga aparatur sipil negara di Pemkab Sitaro, mengaku hilang fokus karena kejadian itu.
“Bersyukur bisa dihubungi dan mendapat kabar mereka baik baik saja, meski sangat khawatir,” kata Alvio.
Bagi Joannie perjalanan ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan seumur hidupnya, selamat dari salah satu bencana terbesar di dunia. Meski begitu, semangat untuk menikmati Bangkok tetap tidak pudar.
“Liburan kali ini mengajarkan saya tentang pentingnya kesiapsiagaan saat menikmati momen liburan,” tutup Joannie.
Dikutip dari berbagai berita, gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 itu menyebabkan sedikitnya ribuan orang tewas dan kehancuran besar di berbagai wilayah. Gempa ini juga berdampak di Thailand, di mana sebuah gedung pencakar langit yang sedang dibangun runtuh, menewaskan sedikitnya delapan orang dan menjebak puluhan lainnya.
Otoritas setempat telah menetapkan keadaan darurat di enam wilayah terdampak, sedangkan tim penyelamat terus berupaya mengevakuasi korban di tengah reruntuhan.