ZONAUTARA.com – Amerika Serikat mengumumkan telah melancarakan serangan ke beberapa situs nuklir Iran pada Sabtu malam waktu setempat (21 Juni 2025, 23:57 UTC). Hal itu disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui akun resmi @WhiteHouse di platform X.
Pada unggahan ittu disebutkan bahwa militer AS telah menyelesaikan serangan udara yang “sangat sukses” terhadap tiga situs nuklir utama Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Esfahan. Pengumuman ini menandai eskalasi signifikan dalam keterlibatan langsung AS dalam konflik regional, menyusul serangkaian serangan sebelumnya yang dilakukan oleh militer Israel sebagaimana yang dilaporkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan citra satelit dari Maxar dan Umbra Space pada 15 Juni 2025.
Dalam postingannya, Trump menyatakan bahwa pesawat tempur AS telah melepaskan “muatan penuh bom” khususnya pada situs utama Fordow, dengan semua pesawat kini berada di luar wilayah udara Iran dan kembali dengan aman.
Ia memuji para prajurit AS, dengan pernyataan, “Tidak ada militer lain di dunia yang mampu melakukan ini,” dan menambahkan, “Sekarang adalah waktu untuk damai!” Presiden tersebut dijadwalkan akan memberikan pidato nasional dari Gedung Putih pada Minggu pagi, 22 Juni 2025 waktu Indonesia, untuk menjelaskan lebih lanjut operasi tersebut.
Tindakan militer ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang dimulai dengan serangan Israel terhadap ilmuwan dan infrastruktur militer Iran pada 13 Juni 2025, diikuti oleh serangan balasan Iran yang meluncurkan lebih dari 450 misil ke wilayah Israel.

Citra satelit yang dianalisis oleh BBC Verify menunjukkan kerusakan pada fasilitas Natanz, termasuk pabrik pengayaan bahan bakar pilot dan substasi listrik, meskipun tidak ada bukti kerusakan yang signifikan pada Fordow sebelum serangan AS.
Laporan IAEA pada April 2025 mencatat bahwa Iran telah meningkatkan produksi uranium yang diperkaya hingga 60% U-235, mendekati ambang batas senjata nuklir (90% U-235), dengan stok yang cukup untuk menghasilkan beberapa bom jika diperkaya lebih lanjut.
Namun, hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen mengenai efektivitas serangan AS terhadap kemampuan nuklir Iran, terutama mengingat Fordow yang terletak di bawah gunung dan dilindungi oleh struktur beton tebal yang tahan terhadap sebagian besar senjata konvensional kecuali bom penetrasi besar seperti GBU-57.
Serangan ini memicu reaksi beragam. Pemimpin mayoritas Senat AS, John Thune (R-Dakota Selatan), yang diberi pengarahan sebelum operasi, mendukung langkah tersebut dengan menyatakan bahwa rezim Iran, yang pernah mengancam “kematian bagi Amerika” dan penghapusan Israel, telah menolak jalur diplomasi.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa keterlibatan aktif AS akan “sangat, sangat berbahaya bagi semua pihak.”
Di dalam negeri AS, reaksi publik terbagi tajam. Pengikut Trump yang setia, seperti Laura Loomer, memuji langkah tersebut dengan menyebut, “Terima kasih, Presiden Trump!” Namun, banyak warga dan politisi, termasuk perwakilan Marjorie Taylor Greene, mengkritik tindakan ini sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye 2016 Trump untuk “tidak memulai perang baru.”
Berbagai postingan di X menunjukkan kemarahan. Sementara itu, kelompok seperti AIPAC Tracker menuduh AS bertindak demi kepentingan Israel, mengutip kontribusi pro-Israel senilai $230,4 juta untuk kampanye Trump.

Analis militer menduga bahwa AS mungkin menggunakan bom penetrasi masif GBU-57, yang hanya dapat diangkut oleh pesawat siluman B-2, untuk menyerang Fordow. Namun, keberhasilan dalam menghancurkan fasilitas bawah tanah tersebut masih dipertanyakan tanpa inspeksi langsung oleh IAEA, yang saat ini tidak dapat mengakses situs tersebut akibat konflik berkelanjutan.
Pasukan keamanan Irak dilaporkan mengerahkan pasukan di luar Kedutaan Besar AS di Baghdad pada dini hari ini, menunjukkan kekhawatiran akan serangan balasan dari milisi pro-Iran. Sementara itu, Trump mengindikasikan bahwa serangan ini adalah “momen bersejarah” untuk mendorong negosiasi damai, meskipun putaran keenam pembicaraan yang dijadwalkan di Oman pada hari ini dibatalkan.
Hingga pukul 09:30 WITA, situasi tetap tegang, dengan dunia menantikan pidato Trump dan respons Iran, yang dapat menentukan arah konflik yang semakin memanas ini.


