Asal usul nama Jumat dalam sejarah dan bahasa

Editor: Redaktur
Ilustrasi, (Foto: Pixabay.com).

ZONAUTARA.com – Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam banyak tradisi, khususnya dalam Islam. Namun di luar aspek keagamaannya, asal-usul penamaan hari ini juga memiliki sejarah linguistik dan budaya yang menarik. Kata “Jumat” sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu “al-Jumu‘ah” (ٱلْجُمُعَة), yang berarti “perkumpulan” atau “pertemuan”. Ini merujuk pada kebiasaan umat Islam yang berkumpul untuk melaksanakan salat Jumat berjemaah.

Dalam sejarah Islam, hari Jumat disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumu‘ah (62:9), yang menyeru umat Muslim untuk meninggalkan jual-beli saat azan berkumandang dan segera menuju salat Jumat. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, hari Jumat dipilih sebagai waktu khusus untuk berkumpul, mendengarkan khutbah, dan mempererat solidaritas sosial. Tradisi inilah yang membuat kata Jumu‘ah identik dengan hari tersebut, dan kemudian diadopsi menjadi nama hari dalam kalender berbahasa Arab dan budaya Islam lainnya.

Namun, sebelum masuknya Islam, masyarakat Arab mengenal sistem penamaan hari yang berbeda. Dalam tradisi pra-Islam, hari Jumat disebut ‘Arūbah, yang dipercaya sebagai hari penuh kemuliaan atau berkat. Setelah Islam datang, penamaan ini diganti untuk menyesuaikan dengan praktik keagamaan baru dan menjadi hari berkumpulnya umat.

Penamaan hari Jumat juga punya kisah yang berbeda di budaya dan bahasa lain. Dalam bahasa Inggris, hari ini disebut Friday, yang berasal dari bahasa Inggris Kuno Frīgedæg, berarti “Hari Freya”—dewi cinta dan kesuburan dalam mitologi Nordik. Dalam budaya Latin dan turunannya, seperti bahasa Spanyol (viernes) dan Italia (venerdì), hari ini dikaitkan dengan Venus, dewi cinta dalam mitologi Romawi. Ini menunjukkan bahwa penamaan hari dalam banyak budaya sering kali berkaitan dengan dewa-dewi atau nilai spiritual tertentu.

Di Indonesia sendiri, penggunaan kata “Jumat” adalah hasil dari pengaruh Islam yang telah lama masuk ke Nusantara. Bahasa Melayu dan bahasa daerah lain yang telah menyerap banyak istilah Arab menggunakan kata “Jumat” untuk menamai hari keenam dalam kalender mingguan. Penamaan ini menjadi bagian dari kosakata sehari-hari yang tidak hanya mencerminkan aspek linguistik, tapi juga budaya dan keagamaan.




Dengan demikian, penamaan hari Jumat tidak muncul begitu saja, tetapi merupakan hasil perjalanan panjang dari berbagai peradaban, nilai spiritual, dan perubahan sosial. Bagi umat Islam, hari ini menjadi momen sakral, sementara dalam konteks kebahasaan, Jumat adalah warisan sejarah yang mencerminkan keterkaitan antara bahasa, budaya, dan kepercayaan yang terus hidup hingga hari ini.

Suka berkelana ke tempat baru, terutama di alam bebas. Mencintai sastra fiksi dan tradisi. Berminat pada isu-isu ekofeminisme, gender, hak perempuan dan anak. Beberapa kali menerima fellowship liputan mendalam. Tercatat sebagai anggota AJI.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com