Catatan perjalanan: Lima malam menikmati Kota Jakarta

Ini adalah perjalanan pertama saya ke Jakarta. Diutus Redaksi untuk sebuah kegiatan internasional.

Editor: Redaktur
Foto koleksi pribadi

ZONAUTARA.com – Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB, saya tiba tepat di lobi Hotel Mercure Sabang. Kata sopir, ini salah satu hotel terbaik di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

“Harganya mahal, Pak,” celetuk Mario sambil mengangkat barang ke depan hotel.

Begitu masuk, terdengar alunan musik pelan. Uniknya, tidak seperti hotel di Manado, meja resepsionis di sini sangat mungil dan langsung berhadapan dengan pintu masuk. Nama saya sudah terdaftar sebagai peserta, dan kamar nomor 211 telah disiapkan. Setidaknya, selama empat malam ke depan, saya akan menjadi penghuni hotel ini.

Baca bagian pertama dari perjalanan ini di sini.

Waktu sudah larut. Saya memilih menikmati Jakarta dari dalam kamar. Perjalanan cukup menguras tenaga karena pesawat mengalami delay sekitar enam jam dengan alasan operasional.




Sambil memegang handphone, saya membuka aplikasi makanan. Menu Cap Cay dipilih, dan sekitar 30 menit kemudian makanan itu sudah tiba. Rasanya mirip dengan yang di Manado, bedanya saya lupa meminta alat makan. “Hehehe,” tawa saya sambil geleng-geleng kepala. Untungnya, ada sendok kopi yang bisa digunakan.

Hari kedua: Menikmati jalan Sabang

Pagi itu saya tidak sarapan. Saya mencoba belajar cepat bahasa Inggris lewat YouTube. Setelah waktu menunjukkan pukul 08.30, saya bersiap dan naik lift. Belum juga mahir, saya langsung bertemu dengan salah satu peserta dari Sri Lanka. Sedikit gugup, tapi kami berkenalan. Namanya Yashi, ia sangat tinggi dan perawakannya mirip orang India.

Hari pertama pelatihan selesai. Sesuai prediksi, kami tidak berbicara bahasa Indonesia sama sekali. Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00. Saya langsung ke kamar, mandi, dan mencoba menikmati kuliner Jakarta. Jalan Sabang adalah salah satu lokasi yang sangat direkomendasikan. Di sini, aneka kuliner tersedia, dari jajanan ringan hingga makanan berat.

Setelah melewati lebih dari 30 kedai dan gerobak makanan, saya akhirnya memilih makan lele goreng. Meskipun berada di pusat kota, makanan di sini cukup terjangkau. Namun, karena lokasinya strategis, harga makanan umumnya di atas Rp25 ribu. Menu di gerobak biasanya ada bakso, aneka sate kambing dan ayam, nasi goreng, lele goreng, hingga seafood. Untuk kedai makanan, ada warteg dan masakan Padang di gang kurang lebih 200 meter dari hotel.

Usai makan malam, saya menyusuri jalan selama kurang lebih 45 menit. Beberapa lokasi tampak megah seperti kantor MNC Group, Dewan Pers, dan DPRD DKI Jakarta. Untuk kantor wakil rakyat ini, bangunannya besar dan bertingkat. “Tak lazim,” ucap saya dalam hati, “tapi memang jumlah anggotanya mencapai 106 orang.”

Tour malam kedua selesai. Tujuan awal hingga Monas akhirnya diurungkan. Saya kembali ke hotel untuk menyelesaikan beberapa tulisan dan beristirahat.

Hari ketiga: Mengunjungi Sarinah

Pagi harinya saya sarapan di hotel. Menu yang saya pilih hanya buah pepaya dan semangka. Kelas pelatihan dimulai pada jam yang sama dan berakhir pukul 17.35. Seperti biasa, kami berdiskusi intensif.

Malam ini, saya bertemu teman lama yang dulu bertugas di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Katanya, ia memantau saya lewat story dan ingin bertemu. Kami menikmati sate ayam dan sate kambing.

Kami mengenang saat-saat di Sitaro. Ia bertanya tentang perkembangan di daerah kami. Setelah selesai makan, ia mengajak saya jalan-jalan ke Sarinah. Ini adalah salah satu mal tertua di Jakarta. Katanya, dulu tidak terlalu menarik, tapi setelah direnovasi dan diresmikan langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir, kini kawasan ini menjadi lebih hidup.

Kami menjelajahi setiap lantai, lalu memilih menikmati kopi di area lantai dasar. Sarinah punya banyak gerai mulai dari pakaian, aksesori, sepatu, buah, kue, hingga tempat makan.

Karena kami sama-sama pecinta kopi hitam tanpa gula, kami memesan Americano. Saya tidak memilih double shot. Kami mengobrol cukup lama, hampir dua jam, sebelum akhirnya berpisah dan saya kembali ke hotel. Hari itu ditutup dengan memantau berita terbaru baik di YouTube maupun di media sosial lainnya.

Catatan perjalanan: Lima malam menikmati Kota Jakarta
Menikmati suasana di Jakarta. (Foto: Jufri Kasumbala)

Hari keempat: Bundaran HI dan Grand Indonesia

Pagi itu, saya dan teman-teman pelatihan mulai akrab. Rutinitas sarapan kini sambil membahas diskusi hari sebelumnya. Hari terakhir pelatihan dimulai sekitar pukul 10.00, jadi kami punya cukup waktu bersantai.

Beberapa peserta dari luar negeri juga sudah membaur. Bahasa Inggris terasa lebih mudah karena mereka pun berusaha memahami apa yang saya ucapkan. Hari terakhir diisi dengan diskusi seputar era digital. Kegiatan resmi ditutup pukul 17.45. Senang rasanya kegiatan selesai, tapi juga sedih karena harus berpisah. Kami bertukar kontak, akun media sosial, dan tentu saja selfie bersama.

Tanpa mandi, saya langsung melanjutkan tour malam keempat. Tujuannya: Grand Indonesia, salah satu mal terbesar di Jakarta. Mudah sebenarnya kalau menggunakan ojek online, tapi saya ingin menikmati suasana kota.

Saya berjalan kaki dari Hotel Mercure Sabang, melewati pusat kuliner, Sarinah, dan tiba di Jalan M.H. Thamrin. Tak lupa singgah sebentar di Bundaran HI untuk berfoto. Dari sana, Grand Indonesia tidak jauh. Saya masuk melalui lobi sebelah timur. Petugas memeriksa barang bawaan.

“Benar, ini memang salah satu mal terbesar,” batin saya.

Saya menyusuri setiap lantai. Mal ini sangat lengkap, dari merek lokal hingga internasional, dari harga terjangkau hingga yang premium. Dua jam saya berkeliling, lalu kembali ke hotel dan langsung tertidur.

Hari kelima: Pindah ke Cikini

Pagi-pagi saya bangun dan mulai merapikan barang. Hari ini saya harus check out karena panitia hanya menanggung akomodasi selama empat malam. Saya mencari hotel terdekat yang aman. Pilihannya antara Blok M dan Cikini. Akhirnya, saya memilih Hotel Ibis Budget Jakarta Cikini.

Karena check-in baru pukul 14.00 WIB, saya menitipkan tas ke petugas keamanan setelah check out. Lalu saya menuju Pasar Senen, salah satu pasar terbesar di Jakarta.

Saya memulai dengan mencari pakaian thrifting (pakaian impor bekas). Di sini, surga bagi pecinta baju bekas berkualitas, harganya mulai dari Rp35 ribu hingga Rp150 ribu. Untuk merek ternama, harganya tentu lebih tinggi.

Naik ke lantai atas, saya menemukan berbagai barang yang biasanya mahal di mal, tapi sangat murah di sini. Untuk yang ingin mengganti kacamata, cukup ke lantai dua. Pemasangan lensa hanya butuh waktu sekitar 15 menit.

Bagi yang hobi berpergian, bisa membeli tas atau koper dengan harga sangat terjangkau namun berkualitas. Dan untuk oleh-oleh, ini tempat yang pas.

Satu hal yang menarik dari Pasar Senen adalah Pasar Subuh. Buka dari pukul 20.00 hingga 08.00 pagi. Waktu terbaik berkunjung adalah tengah malam, saat para penjual kue basah dan kering berkumpul. Packing-nya menarik dan tahan dibawa naik pesawat.

Kalau ingin nuansa yang lebih modern, bisa singgah ke Atrium Pasar Senen. Ini semacam “mal-nya” Pasar Senen.

Catatan perjalanan: Lima malam menikmati Kota Jakarta
Foto koleksi pribadi

Malam terakhir: Taman Ismail Marzuki

Malam terakhir saya manfaatkan untuk menikmati suasana di Taman Ismail Marzuki, Cikini. Letaknya kurang dari 20 meter dari tempat menginap. Sambil nongkrong di taman, saya memesan nasi goreng gerobak seharga Rp15 ribu. “Mau pedas atau biasa, bang?” tanya penjual.




“Pedas,” jawab saya.

Namun, bagi warga Manado atau daerah kepulauan, pedas di sini masih belum terasa. Padahal penjualnya sudah berkeringat.

Saya menengok ke belakang. Terlihat tiga bangunan megah dengan ratusan ruangan. “Itu apartemen,” kata penjual.

Malam itu berakhir di taman. Saya kembali ke hotel, merapikan tas karena penerbangan saya pukul 12.00. Saya harus tiba di bandara setidaknya tiga jam lebih awal.

Bersambung…

TAGGED:
Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com