ZONAUTARA.com – Jumat (27/6/2025) siang itu, tiba – tiba notifikasi di handphone saya berbunyi. Sebuah email berisikan tiket pesawat Batik Air, tujuan Manado – Cengkareng dan Cengkareng Manado. Tak lama menyusul sebuah pesan WhatsApp dari penyelenggara program pertemuan pemeriksa fakta se ASEAN di Jakarta. Saya tersenyum sendiri. Bagi kami yang tinggal di tapal batas, Jakarta sangat jauh, jika hanya sekedar jalan – jalan rasanya tidak akan pernah ke Jakarta.
Beberapa hari sebelumnya, saya dihubungi pemimpin redaksi ZONAUTARA.com, lewat saluran telepon saya diminta bersiap menjadi salah satu peserta yang akan di utus mengikuti program tersebut. Namun posisi saya waktu itu masih dalam pertimbangan, karena hanya ada satu kuota dengan pembiayaan yang sepenuhnya ditanggung panitia.
Jakarta bukan hanya ibu kota negara. Bagi warga yang tinggal jauh dari kota metropolitan, tentu ke Jakarta adalah impin. Siapa yang tak ingin punya pengalaman menarik saat menginjakan kaki di salah satu daerah terpenting di Indonesia, dengan sejumlah gedung tinggi, kepadatan kota dan aneka kuliner jalanan itu.
Perjalanan saya mulai pada Minggu 29 Juni 2025. Sore itu, saya menumpangi kapal KM Barcelona menuju pelabuhan Manado. Tiket kapal laut itu seharga Rp. 125.000 dengan fasilitas ranjang di dek. Jika ingin lebih nyaman penumpang bisa menggunakan kamar ber AC dengan tarif Rp. 275.000. Pelayaran dari Siau ke Manadi kurang lebih delapan jam. Kapal tiba jelang subuh.
Sebelum ke Bandara saya singgah sebentar untuk mandi di rumah kerabat. Di tiket pesawat yang dikirim oleh penyelenggara jadwal penerbangan saya pukul 13.00 Wita. Namun ketika masih di kapal saya mendapatkan pesan Whatsapp bahwa jadwal keberangkatan diundur hingga pukul 17.00 Wita. Cukup bagi saya untuk mengitari kota Manado dulu, dan menikmati kopi di kawasan Megamas.
Tepat pukul 14.00 Wita, saya menuju ke Bandara Sam Ratulangi Manado, memesan ojek online agar lebih cepat tiba. Sebelumnya saya sudah check in online, lewat situs Bookcabin.com milik Lion Group. Kenapa saya memilih datang lebih cepat ke Bandara? Agar saya lebih siap dan agak santai. Ternyata pesawat Batik Air ID 6275 baru berangkat pukul 18.00 Wita.
Saat sudah boarding, semua penumpang duduk sesuai nomor kursi. Pramugari menjalankan tugasnya menjelaskan petunjuk penggunaan alat-alat keselamatan. Sebelum lepas landas seorang bayi menangis. Di balik jendela, saya melihat suasana yang gelap, rasanya cukup mengkhawatirkan. Apalagi sehari sebelumnya viral di media sosial salah satu pesawat Batik Air nyaris tergelincir di Bandara Soekarno Hatta karena cuaca hujan.
Seperti pengalaman sebelumnya, saat lepas landas saya selalu mengenakan headset mendengarkan musik accoustik khas cafe, supaya lebih tenang. Karena penerbangan akan menempuh perjalanan lebih dari tiga jam, saya telah menyiapkan film di handphone. Ketika waktu menunjukan pukul 21.00 WIB, pilot mengingatkan bahwa waktu pendaratan sudah dekat. Pramugari mengingatkan penumpang mengenakan sabuk pengaman.

Sewaktu check in, saya sengaja memilih kursi dekat jalan keluar tidak dekat jendela, untuk mengantisipasi jika akan ke kamar kecil atau toilet tidak menganggu penumpang yang sebaris tempat duduk dengan saya. Ketika pesawat terasa seperti berbelok, saya memalingkan pandangan ke sisi kiri jendela, dan terlihat pemandangan kota yang gemerlap, terang benderang. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan Pulau Siau. “Jakarta benar-benar metropolitan,” gumam saya dalam hati, sambil tersenyum.
Ini penerbangan kedua saya ke Jakarta. Sebelumnya di tahun 2024, saya sempat ke Jakarta, tapi hanya singgah karena waktu itu tujuan saya bersama Tim Zonautara.com adalah ke Bandung. Karena itu, ketika turun dari pesawat, saya mulai mencari informasi, termasuk menelepon Pemred saya. “Malu bertanya sesat di jalan,” gumam saya lagi.
Mata saya mencoba membaca semua petunjuk yang ada di terminal kedatangan. Sambil sesekali bertanya ke petugas, akhirnya saya dapat melewati pintu keluar untuk mendapatkan taksi. Tujuannya Hotel Mercure di Sabang, Jakarta. Hotel yang cukup mentereng untuk ukuran warga dari daerah.
Di hotel ini saya bersama peserta lainnya akan menginap selamat empat malam. Dan saya baru mengetahui pelatihan kami nanti akan sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris karena peserta datang dari beberapa negara lain di kawasan ASEAN. Ini sebuah kabar buruk, sebab kemampuan bahasa Inggris saya terbatas. Pikiran mulai melayang, sebab dalam kurang dari 24 jam saya harus bisa berkomunikasi dengan para peserta lainnya.
Bersambung ke Bagian 2.


