ZONAUTARA.com – Dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Jumat pagi, 5 Juli 2025, saya memilih menggunakan taksi online, Gocar. Kali ini, sopirnya seorang perempuan. Sesuai dengan keterangan aplikasi, namanya Dwiana Ayu Puspita.
Tak butuh waktu lama—tidak sampai lima menit—ia sudah tiba di depan lobi hotel dengan mobil Avanza berwarna putih. Sebelum saya keluar dari lobi, ia bertanya, “Nanti untuk tol pakai kartu saya atau kartu abang?”. “Pakai punya Mbak aja,” jawab saya singkat.
Sepanjang perjalanan, saya mengajukan beberapa pertanyaan seputar Jakarta. Ternyata, ia punya banyak informasi. Sebagai sopir taksi online, ia menjelaskan secara detail berbagai permasalahan di ibu kota.
Penasaran, saya bertanya apakah ia memiliki pekerjaan lain selain menjadi sopir. “Saya mahasiswa Hukum,” jawabnya tenang. “Saya nyambi, Bang. Pagi sampai siang saya kerja, malam saya kuliah,” lanjutnya sambil tersenyum, sesekali menoleh ke spion tengah.
Menurutnya, jurusan hukum sangat menarik karena hampir semua aspek kehidupan di Indonesia bersentuhan dengan hukum. Ia mengaku menjadi salah satu mahasiswa tertua di kelasnya karena sempat tertunda kuliah akibat kendala ekonomi. Saat ini, Dwi sedang menempuh semester tiga.
“Saya kuliah Senin sampai Jumat. Tapi usai kuliah malam, saya juga narik. Kebetulan saya juga terdaftar sebagai driver taksi online di bandara,” ceritanya sambil tetap fokus mengemudi.
Dari caranya mengemudi, terlihat jelas bahwa Dwi sudah sangat berpengalaman. Ia menyisir jalanan dengan lincah, bahkan kadang jarum speedometer menyentuh angka 120 km/jam. Cukup cepat, tapi ia tetap tampak tenang dan terkontrol.
Saya tertarik menanyakan soal kecanggihan teknologi terutama kecerdasan buatan (AI)—dan apakah ia juga memanfaatkannya sebagai mahasiswa. “Kita semua pakai, Bang. Tapi saya nggak mau ketergantungan. Biasanya saya baca ulang atau kalau ada waktu, saya kerjakan sendiri,” ujarnya.
Beberapa waktu lalu, ia bahkan dipuji dosen karena mendapatkan nilai yang bagus. “Padahal kami semua nyontek, ya. Tapi saya pelajari ulang supaya ngerti,” katanya sambil tertawa kecil.
Dari percakapan sepanjang jalan itu, Dwi menunjukkan kegigihan seorang perempuan muda yang berjuang menyetarakan kebutuhan hidup dengan pendidikan. Ia tak ingin membebani orang lain. Sebaliknya, ia mencari sendiri sumber penghasilannya tanpa mengabaikan kuliahnya. Bagi sebagian orang, menjadi mahasiswa bukanlah perkara sulit. Tapi bagi seseorang seperti Dwi, itu berarti harus bekerja dua kali lebih keras.

Perjalanan ke kota Manado
Pukul 10.00 WIB saya sudah berada di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sebelum check-in, saya terlebih dahulu me-wrapping koper saya, agar aman saat dimasukkan ke bagasi pesawat.
Beruntung, antrian masih belum terlalu panjang. Berat bagasi saya tercatat 10,9 kg. Setelah mendapatkan boarding pass, saya menuju ruang tunggu. Namun sebelumnya, saya mengisi perut terlebih dahulu. Gerai KFC menjadi pilihan saat itu.
Selesai makan, saya masuk ke ruang tunggu di gate 6D, setelah melalui pemeriksaan. Di sana, saya bertemu dengan teman kuliah lama, Ekin. Ia lebih dulu menyapa. Ternyata, ia baru selesai berlibur bersama pacarnya yang berasal dari Swiss.
Saya kembali memeriksa tiket. Jika pesawat berangkat pukul 12.00 WIB, maka saya masih bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Siau dari Manado pada malam hari nanti menggunakan kapal. Saya segera memesan tiket dan menghubungi agen kapal.
Namun, tiba-tiba pengeras suara bandara berbunyi. Petugas mengumumkan bahwa pesawat kami, Batik Air ID 6272 tujuan Manado, mengalami delay selama 45 hingga 60 menit. Saya mulai menghitung ulang—masih memungkinkan untuk mengejar kapal. Tapi ternyata, delay kembali bertambah hingga hampir dua jam.
Dengan kondisi itu, tak ada pilihan lain selain bermalam di Manado. Saya akhirnya menyeberang ke Pulau Siau keesokan harinya, Minggu 6 Juli 2025, menggunakan KM Barcelona. Sekitar pukul 03.00 WITA dini hari, saya sudah tiba di rumah.
Itulah pengalaman saya selama lima malam enam hari melakukan perjalanan ke Jakarta, penuh cerita, interaksi menarik, dan pembelajaran berharga. Sebagai seorang jurnalis, catatan-catatan semacam ini tidak hanya merekam perjalanan fisik, tapi juga menjadi cermin atas realitas sosial yang saya temui sepanjang jalan.
Sampai betemu pada perjalanan berikutnya.


