ZONAUTARA.com – Bagiku, Tampusu adalah cerita yang telah ditulis sejak belasan tahun lalu dan nampaknya tak akan pernah selesai dicatat.
Pun demikian perjalanan Jumat (11/07/2025) kemarin menambah bab baru dalam rentetan panjang perjalanan ke gunung yang terletak di antara Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut) itu.
Setelah membuat janji sepekan yang lalu, akhirnya perjalanan terwujud pada Jumat malam. Tim terdiri dari tujuh orang, empat orang dari Kotamobagu dan dua orang dari Bitung.
Dua orang yang terakhir disebut hampir selalu ada dalam setiap bab perjalananku. Kami telah saling mengenal sejak belasan tahun lalu.
Kami bertiga telah mendaki bersama sejak gunung-gunung di Sulut umumnya masih sepi pengunjung. Waktu itu mendaki adalah benar-benar jalan panjang nan sunyi.

Dulu, sering kami jumpai basecamp gunung sunyi, hanya ada satu-dua tenda yang berdiri. Di antara kesunyian-kesunyian itulah muncul kehangatan.
Namun perubahan adalah sebuah keniscayaan. Segala sesuatu tidak bisa tidak berubah.
Jalur pendakian yang dulu panjang telah terpangkas dengan pembangunan jalan desa yang mengarah ke kaki gunung.
Khusus di Tampusu, pembangunan tangga di rute pendakian juga menambah kemudahan sekaligus menarik minat banyak orang berbondong-bondong ke gunung.
Meski begitu, rute pendakian Gunung Tampusu masih menyisakan medan tanah yang hampir tak pernah kering di seperdua perjalanan.
Titik kumpul pada perjalanan Jumat malam kemarin adalah kompleks kampus UNIMA, Tataaran Patar, kemudian tim berangkat menuju Desa Tampusu untuk memulai pendakian.
Sejak dibangunnya tangga, rute ini menjadi favorit sebagian besar pendaki.
Setelah memarkir kendaraan, sepatu-sepatu bersih itu mulai berkenalan dengan tanah basah sisa hujan.
Kami bertiga yang telah mendaki Tampusu dari segala arah (bahkan dari belantara yang tak ada jalur pendakian) tahu bahwa perjalanan malam itu tak akan lebih dari satu setengah jam selama tidak ada kendala.
Perjalanan dimulai, deru napas berpacu dengan langkah. Cerita-cerita lucu mulai mengalir. Suasana pendakian jadi ceria. Rasa lelah berhasil dialihkan meski tak sepenuhnya.
Praktis tak ada kendala dalam perjalanan, hanya beberapa kali harus melambat karena ada anggota tim yang meminta istirahat.
Tiba di medan becek, perjalanan kian melambat. Cara memilih pijakan dan daya cengkram sepatu mulai diuji. Ini adalah hal wajar mengingat setiap jenis sepatu didesain untuk penggunaan berbeda.
Tak berapa lama, tim tiba di pohon besar. Ada area cukup luas untuk beristirahat. Bagi yang sering mendaki Tampusu pasti tahu pohon itu adalah penanda bahwa rute di depan adalah tanjakan terakhir.
Setelah itu perjalanan akan menurun hingga mencapai pinggiran Danau Gunung Tampusu. Di sekeliling danau itulah area camping tersedia.
Setelah tiba di pinggir danau, salah satu anggota tim menyarankan untuk mendirikan tenda di dekat instalasi air. Letaknya ada di seberang, tim harus mengitari hampir separuh danau untuk mencapai posisi tersebut.
Instalasi air yang dimaksud adalah sebuah sistem yang mengalirkan air danau ke desa dengan menggunakan pipa. Selain pipa besar yang mengarah ke desa, ada juga pipa kecil yang difungsikan sebagai pancuran untuk keperluan pendaki.
Para pendaki yang berkemah jauh dari instalasi air umumnya akan langsung mengambil air dari danau.
Namun upaya ini butuh kehati-hatian sebab di pinggiran danau telah terbentuk rawa. Salah berpijak maka akan terperosok ke dalam lumpur.
Usai memilih lokasi yang cocok, flysheet mulai dibentangkan, tenda-tenda didirikan, dan kompor dinyalakan. Semua peralatan dan perbekalan untuk keperluan bersama segara digelar.
Kabut yang tak berhenti turun dan kicauan burung-burung adalah alarm waspada, di tengah rimba segala sesuatu tak semudah di kota.
Semuanya harus diupayakan dengan cepat. Bahkan untuk tak menggigil kedinginan, harus ada upaya lebih. Tak semudah masuk kamar dan menarik selimut.
Dua flysheet terpasang, tiga tenda berdiri dan dua kompor sedang dinyalakan untuk menanak nasi dan memasak air. Setidaknya itu sudah cukup untuk menangkal hawa dingin yang merayap diam-diam.
Setelah tempat berteduh didirikan, barulah perlengkapan pribadi diangkut ke dalam tenda masing-masing. Dua tenda berjenis double layer, sedangkan yang satu adalah single layer.
Tenda double layer adalah tenda yang memiliki dua lapisan. Lapisan pertama atau inner berfungsi sebagai ruang tidur. Lapisan kedua atau outer berfungsi sebagai pelindung dari cuaca.
Umumnya outer terbuat dari bahan tahan air. Adanya dua lapisan tersebut mengurangi risiko kondensasi atau pengembunan.
Sedangkan tenda single layer adalah tenda yang hanya terdiri dari satu lapisan. Bobotnya lebih ringan dan lebih ringkas didirikan. Akan tetapi, tenda semacam ini lebih rentan terhadap kondensasi.
Itulah yang sempat menimbulkan kekhawatiran. Keputusan membawa tenda single layer di musim yang susah diterka tentunya dibarengi dengan segala risiko.
Tapi biarlah, karena setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing. Untuk mensiasati perubahan cuaca mendadak, tenda single layer pun diposisikan terlindung sepenuhnya di bawah flysheet.
Nasi telah siap, kopi telah diaduk dan cerita konyol masih terus mengalir. Kami bertiga sukses jadi ‘badut’, menghibur beberapa anggota tim yang nampak kelelahan sebelum semuanya terlelap dalam dekapan dingin malam Gunung Tampusu.
Sabtu pagi, Tampusu mulai menampakkan keanggunannya. Kabut di atas danau belum sepenuhnya hilang saat beberapa pendaki lewat dan memberi salam.
“Selamat pagi,” ucap mereka hampir berbarengan. Kami pun membalas dengan ucapan sama. Keadaan seperti itu terus berulang ketika ada rombongan yang lewat.
Saat hari benar-benar terang, aku tersadar bahwa banyak hal telah berubah. Landskap danau terlihat lebih kecil dari yang pertama kali kulihat tahun 2011 silam.
Air yang mengalir di pancuran juga terlihat lebih kecil. Apakah terjadi pendangkalan danau? Tentunya butuh riset mendalam untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Selain itu, aku atau setidaknya kami bertiga juga telah berubah. (Mungkin) kedewasaan dan pengalaman adalah penyebab utamanya. Tak ada lagi sorot mata penuh ambisi. Tak ada lagi ego yang mengungguli persiapan dan kemampuan.
Tak ada lagi perlengkapan dan perbekalan yang tertinggal. Semuanya diperhitungkan matang-matang. Bahkan untuk perjalanan sehari semalam, persiapan yang dilakukan terlihat agak berlebihan.
Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi kami sadar bahwa perjalanan menempuh rimba bukanlah parade mengantar nyawa. Bahaya subjektif harus dihilangkan.
Betapa banyak pendaki yang menggigil kedinginan, tersesat bahkan meninggal dalam bertualang akibat kurang persiapan. Untuk skala Sulut saja, beritanya banyak berseliweran.
Kegiatan di alam terbuka bukanlah ajang coba-coba atau sekadar berwisata melainkan sarang bahaya. Pengetahuan adalah modal utama, sebab esensi dari sebuah perjalanan adalah kembali pulang ke rumah dengan selamat.
Perubahan pola pikir harus segera dilakukan semua pihak yang ingin berkegiatan di alam terbuka agar bahaya dapat dihindari.
Setidak-tidaknya sebuah perjalanan harus terencana, bukan sekadar ikut-ikutan tren demi validasi di jagad maya.
***



