Kehilangan berkas dan pertaruhkan nyawa di KM Barcelona V-a, Anggela masih yakin jadi polisi

Editor: David Sumilat
Anggela Laurina Maabuat.

ZONAUTARA.com – Anggela Laurina Maabuat masih ingat betul kejadian yang menimpanya di atas kapal Barcelona V-a yang terbakar di perairan Talise, Minahasa Utara, pada Minggu, 20 Juli 2024.

Peristiwa nahas itu hampir merenggut mimpinya menjadi polisi, bahkan nyawanya.

Ela, sapaan akrabnya, berasal dari Desa Tule, Kecamatan Melonguane Timur. Dia berangkat dari Pelabuhan Melonguane pada Sabtu, 19 Juli 2025.

Tidak ada firasat apapun di benaknya, hanya rasa bangga karena telah dinyatakan lulus sebagai calon anggota Polri.

Ia lulus tes angkatan tahun 2025 dan sedang menjalani latihan di Polres Talaud.




Rencananya, pada Senin, 21 Juli 2025, ia dijadwalkan memasukkan semua berkas sebagai persyaratan mengikuti pendidikan.

Ela diterima melalui jalur kompetensi khusus karena merupakan lulusan D3 jurusan Gizi dari Poltekkes Manado.

Dalam perjalanan dari Talaud, Ela berada di kamar nomor 55. Tiba-tiba, ia mendengar teriakan, “api!”

Disertai asap yang tidak terlalu jauh dari kamarnya.

Ia segera keluar sambil membawa satu tas ransel berisi dompet, nomor casis, dan baju batik yang akan dikenakannya saat mengikuti pendidikan.

Saat keluar, api sudah menjalar dengan cepat.

“Cepat sekali karena saat itu angin juga kencang,” kata Ela saat dihubungi lewat aplikasi perpesanan WhatsApp, Senin, 21 Juli 2025.

Sebenarnya, ia teringat semua berkas penting yang disimpan di tas lain.

Sempat kembali ke kamar, tetapi asap mulai menebal, berwarna hitam pekat dengan bau menyengat dan suhu udara yang semakin panas.

Akhirnya, Ela memutuskan meninggalkan semua dokumen miliknya.

“Saya sudah panik, tidak bisa kembali mengambil berkas, dan saya langsung ke anjungan lalu melompat,” ujar Ela.

Saat melompat, ia tidak kebagian pelampung. Ela pasrah dengan keadaan.

“Waktu itu saya ikut dengan suami istri yang memiliki pelampung,” kenangnya. “Hampir satu jam saya berenang sambil mencari kerumunan,” tambahnya.

Menurut Ela, saat terapung di laut, tidak banyak hal yang dipikirkannya, kecuali mengingat kakak dan kedua orang tuanya di Talaud.

“Saya ingat orang tua dan saudara di Talaud,” katanya lirih.

Ela merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Randy Maabuat, ibunya Febrina Londo, dan ayahnya Devis Maabuat.

Beruntung, nasib baik masih berpihak padanya. Ia diselamatkan nelayan yang mengangkatnya ke kapal dan membawanya ke Serei.

Di sana, Ela bertemu dengan Kapolda Sulut, Irjen Pol Roycke Harry Langie. Ia pun mengutarakan kekhawatirannya mengenai dokumen yang hilang.

“Tenang saja dulu, nanti akan dibantu Polda,” kata Kapolda Sulut seperti ditirukan Ela.

Saat ini, Ela berada di salah satu tempat kos di Malalayang. Ia mengaku beberapa dokumen administrasi kependudukan telah diurus hari ini dengan bantuan dari Polda Sulut.

Sementara itu, ijazah, akta, dan dokumen lainnya masih terus diupayakan.

“Saya berhubungan dengan pihak SDM Polda Sulut. Sudah banyak dibantu, ini tinggal menunggu dokumen ijazah dan lainnya. Kalau administrasi kependudukan sudah beres,” ungkap Ela, sembari berterima kasih kepada Kapolda Sulut, Irjen Pol Roycke Harry Langie.

Ela berharap peristiwa yang dialaminya tidak terulang kembali di masa mendatang.

Sebagai warga kepulauan, kapal akan terus menjadi moda transportasi utama, sehingga kecelakaan harus bisa dihindari.

Ia juga mengajak semua korban untuk tetap tenang dan bersyukur atas semua yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan manusia.




***

Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com