Sulut selesaikan program Biosekuriti Berbasis Komunitas lawan Demam Babi Afrika

Penulis: Tonny Rarung
Editor: David Sumilat



ZONAUTARA.com – Program biosekuriti berbasis komunitas untuk mencegah dan mengendalikan penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) yang sangat menular di Sulawesi Utara telah berhasil menurunkan angka kematian babi dan memastikan keberlangsungan mata pencaharian para peternak di daerah percontohan, sehingga menjadi model yang dapat diterapkan di seluruh Indonesia.

Program Intervensi Biosekuriti Komunitas untuk Demam Babi Afrika (Community African Swine Fever Biosecurity Intervention/CABI) merupakan inisiatif bersama antara Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) melalui Pusat Darurat untuk Penyakit Hewan Lintas Batas (Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases/ECTAD) Indonesia, dengan dukungan dari Kementerian Pertanian, Pangan, dan Pedesaan (the Ministry of Agriculture, Food, and Rural Affairs/MAFRA) Republik Korea (Republic of Korea/ROK).

Dalam keterangan yang diterima, ASF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, yang menginfeksi babi dan babi hutan dengan tingkat kematian kasus hingga 100%.

Meskipun tidak memengaruhi kesehatan manusia, penyakit ini dapat menimbulkan dampak serius yang mengancam populasi babi dan keanekaragaman hayati, mata pencaharian peternak, dan ketahanan pangan.

Menanggapi hal ini, program CABI meningkatkan kesadaran peternak dan membekali mereka dengan pelatihan, sumber daya, dan keterampilan praktis untuk menerapkan praktik biosekuriti yang efektif dan terjangkau di lahan peternakan mereka. Kegiatan yang dilakukan mencakup menjaga kebersihan kandang dan pribadi hingga membatasi pergerakan keluar masuk peternakan. Program ini telah berhasil dilaksanakan di tiga wilayah percontohan sasaran di Sulawesi Utara, provinsi yang dianggap sangat rentan terhadap ASF karena populasi babi yang tinggi.




“Kami bangga Sulawesi Utara terpilih sebagai lokasi percontohan program CABI. Kekuatan provinsi kami terletak pada masyarakatnya. Inisiatif ini telah menunjukkan betapa besar pencapaian yang dapat diraih peternak kami jika mereka dibekali dengan perangkat yang tepat dan dipercaya untuk memimpin. Hasilnya, kami menyaksikan ketahanan masyarakat yang lebih kuat dan peningkatan kesadaran dalam mencegah penyebaran ASF,” ujar Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus melalui Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, Wilhelmina J.N. Pangemanan.

Ia juga berharap program ini dapat diperluas dan direplikasi secara nasional, sehingga lebih banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya.

Program CABI secara signifikan memperkuat biosekuriti di tingkat masyarakat, meningkatkan sistem monitoring penyakit, dan memberdayakan peternak untuk mencegah wabah di masa mendatang dengan lebih baik.

Sebagai hasil dari penerapan praktik biosekuriti, peternak telah merasakan manfaat ekonomi, berkat menurunnya angka kematian ternak, meningkatnya harga jual di atas harga pasar, dan tumbuhnya kepercayaan pembeli.

Selain kemajuan signifikan dalam kapasitas di tingkat komunitas, program CABI juga telah meningkatkan surveilans penyakit dengan merehabilitasi laboratorium provinsi, yang memungkinkan deteksi kasus ASF yang lebih cepat dan akurat.

Hal ini menandai langkah penting dalam melindungi kesehatan hewan dan ketahanan pangan di provinsi tersebut.

“Program CABI telah menunjukkan bahwa pemberdayaan di tingkat masyarakat adalah kunci untuk memerangi ASF. Dengan membekali peternak dengan pengetahuan, bimbingan teknis, serta perangkat yang tepat, kita tidak hanya melindungi sumber mata pencaharian peternak, tetapi juga memperkuat sistem kesehatan hewan di tingkat nasional. Ini membuktikan bahwa masyarakat dapat dan harus menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyakit hewan,” ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda.

Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, menggarisbawahi pentingnya program CABI dalam meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memerangi ASF.

“Program CABI tidak hanya meningkatkan biosekuriti di tingkat komunitas, tetapi juga menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana intervensi yang terarah dan berbasis lokal dapat memberikan dampak yang berarti dalam pencegahan penyakit,” ujar Rajendra.

“Dengan melibatkan peternak secara langsung dan memperkuat biosekuriti di tingkat komunitas, kami mendorong pendekatan berkelanjutan untuk melindungi sektor peternakan dan mata pencaharian yang bergantung padanya,” tambahnya.

Setelah peluncuran program CABI, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara melaporkan peningkatan populasi babi yang signifikan di wilayah percontohan—sebuah tanda nyata pemulihan dan meningkatnya ketahanan terhadap ASF di Sulawesi Utara.

Keberhasilan tersebut menjadi landasan kokoh bagi perluasan upaya pengendalian ASF di seluruh Indonesia, dengan hasil yang menjanjikan yang akan menjadi dasar bagi intervensi di masa mendatang dan memperkuat ketahanan Indonesia terhadap penyakit ini.

***

Follow:
Fotografer.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com