ZONAUTARA.com – Ribuan warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, akan segera menempati hunian sementara (huntara) tahap akhir menyusul aktivitas gunung yang masih tinggi dan berstatus Level 4 (AWAS).
Penanganan pengungsi ini menjadi fokus utama pemerintah, seperti yang dibahas dalam rapat tingkat menteri di kantor Kemenko PMK, Jakarta, pada Kamis (21/8).
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan semua pengungsi mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak.
Data terbaru hingga 16 Agustus 2025 menunjukkan Gunung Lewotobi Laki-laki telah erupsi sebanyak 1.340 kali sejak 3 November 2024, dengan delapan di antaranya berskala besar, menyebabkan status tanggap darurat di Flores Timur tetap diberlakukan.
Sebanyak 2.850 jiwa atau 850 kepala keluarga saat ini tinggal di huntara yang disediakan pemerintah, sementara 2.178 jiwa dari 563 kepala keluarga memilih mengungsi mandiri. Huntara tahap 3 yang sebagian besar siap digunakan, akan menampung 250 kepala keluarga dari Pos Pengungsian Konga, dengan target penyelesaian pada Agustus ini.
Letjen Suharyanto menjelaskan bahwa kondisi erupsi yang terus-menerus terjadi menjadi alasan utama status tanggap darurat di Kabupaten Flores Timur masih dipertahankan.
“Sampai saat ini erupsi terus terjadi. Sehingga statusnya di sana (Kabupaten Flores Timur) tetap tanggap darurat,” ucap Suharyanto.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar masyarakat telah menempati huntara dan mulai menjalani kehidupan normal.
“Sebagian besar sudah ada di huntara, kehidupan masyarakatnya sudah mulai normal. Huntara ini dibangun di tempat aman, jauh dari kawasan gunung,” katanya.

Selain menyediakan hunian sementara, pemerintah bersama berbagai elemen di Kabupaten Flores Timur juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
“Logistik dan kebutuhan masyarakat, tidak ada masalah, dipenuhi pemerintah, lembaga dan dunia usaha semua terlibat di dalamnya,” lanjut Suharyanto.
Lebih lanjut, Kepala BNPB mengungkapkan bahwa huntara bukanlah solusi permanen. Pemerintah tengah mempersiapkan relokasi jangka panjang ke hunian tetap di Desa Noboleto. Proses pembukaan jalan sepanjang 8 kilometer dari jalan utama menuju lokasi hunian tetap tersebut sedang berlangsung.
“Mereka tidak selamanya tinggal di huntara, sedang proses dipindah ke tempat permanen atau hunian tetap, sekarang sedang proses penyiapan,” tutupnya.
Pemerintah memberikan keleluasaan kepada masyarakat terdampak untuk memilih antara relokasi yang disiapkan pemerintah atau melakukan relokasi mandiri ke tempat lain yang lebih aman.


