Dari percah kain jadi karya seni: Inovasi Emmy Riadessy Pandjaitan di ICJS 2025

Ia meniru teknik kimekomi dari Jepang menjadi bernuansa Indonesia.

Redaksi ZU
Penulis: Redaksi ZU

ZONAUTARA.com – Sampah kain kerap dianggap sepele, namun bagi Emmy Riadessy Pandjaitan dari Alzheimer Indonesia, limbah ini justru menjadi bahan berharga. Melalui rumah kreatif Emmy Craft House, Emmy memanfaatkan percah kain menjadi karya seni bernilai tinggi.

Terinspirasi dari teknik kimekomi asal Jepang, ia mengumpulkan kain perca dari donasi individu, kelompok, maupun bahan yang sudah tidak terpakai. Namun, alih-alih meniru mentah-mentah teknik tersebut, Emmy menghadirkan nuansa khas Indonesia dalam setiap karyanya. Hal itu terlihat jelas dari sejumlah karya yang ia pamerkan pada ajang Indonesia Craft & Junk Show (ICJS) 2025 di Jakarta.

Pesan sosial di balik karya

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah lukisan kain bergambar seorang bayi memeluk batang kayu di sungai. Menurut Emmy, karya ini menyampaikan pesan kuat tentang perjuangan anak-anak yang tidak menyerah meski berada di tengah dampak krisis iklim.

“Pesan moral dari karya ini adalah harapan jangan pernah mati, meski perubahan iklim membawa banyak tantangan,” ujarnya kepada Zonautara, Selasa (26/8/2025).

Emmy menegaskan bahwa limbah kain sesungguhnya lebih menyulitkan daripada plastik jika tidak diolah dengan baik. Oleh karena itu, pengolahan limbah kain menjadi kerajinan tangan yang bernilai guna dan seni harus lebih banyak didorong.




Dari percah kain jadi karya seni: Inovasi Emmy Riadessy Pandjaitan di ICJS 2025
Beberapa karya Emmy dari kain percah. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Karya bernilai seni tinggi

Beragam karyanya, mulai dari lukisan bergambar anak-anak, flora-fauna, hingga aktivitas masyarakat, dipajang rapi di stand pameran. Masing-masing karya dijual dengan harga mulai Rp400 ribu hingga Rp1 juta.

Uniknya, semua proses kreatif dikerjakan sendiri oleh Emmy di studionya yang sederhana di Depok. Meski bekerja sendiri, ia konsisten melahirkan karya dengan detail yang halus serta warna-warna cerah khas batik dan kain nusantara.

“Saya ingin memadukan kimekomi dengan nuansa Indonesia. Jadi ada rasa dekat dan relevan bagi masyarakat kita,” jelasnya.

Inovasi yang perlu dukungan

Melalui inovasi ini, Emmy berharap lebih banyak orang terinspirasi untuk mengurangi limbah tekstil dan mengolahnya menjadi karya kreatif. Upayanya menjadi contoh bahwa dari sesuatu yang dianggap sampah, bisa lahir karya seni bernilai tinggi sekaligus menyuarakan isu lingkungan.

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com