Seruan “Sangihe not for sale”: Bara yang tak pernah padam

Penulis: Indra Umbola
Editor: Redaktur
Seruan "Sangihe not for sale" dalam aksi massa di Manado (Foto: Zonautara.com/Ronny Buol)

ZONAUTARA.com—Perjuangan tak melulu tentang siapa yang paling terang, ada kalanya perjuangan adalah soal siapa yang tak pernah padam.

Hal itu dibuktikan Adit, Aji dan Ridel yang nampak selalu hadir dalam aksi massa di Manado, Sulawesi Utara (Sulut) pada 1 dan 4 September 2025.

Dengan langkah pasti, tiga pemuda datang membentangkan seruan “Sangihe not for sale” sebagai simbol perlawanan bagi penambangan di pulau kecil seperti Sangihe.

Meski kecil, gema gerakan perlahan menjadi gaung. Sedikit demi sedikit mulai mendapat perhatian meski harus “menumpang” dalam setiap aksi unjuk rasa.

Mereka bertiga tidak datang atas nama organisasi ataupun kelompok, melainkan atas dasar panggilan jiwa.




Itu pula sebabnya mereka tidak terdata sebagai bagian dari aliansi massa aksi. Namun, alih-alih merusuh, kedatangan tiga “penumpang” itu justru menambah perbendaharaan isu.

Ironis memang jika isu sepenting itu pada akhirnya hanya menjadi “penumpang” dalam setiap aksi massa.

Namun begitulah esensi perjuangan: awalnya tidak dikenali dan tidak terakomodir hingga pada akhirnya tinggal menunggu angin untuk menyala layaknya bara dalam sekam.

“Kami tidak mau nanti Sangihe tinggal dongeng karena sudah tertimbun,” ujar Adit saat hadir dalam aksi di Gedung DPRD Sulut, Kamis (04/09/2025).

Akan tetapi, Adit juga tak mau membabi buta menolak pertambangan, termasuk pertambangan rakyat tanpa ada langkah yang solutif.

Dalam ranah itulah, menurutnya, pemerintah harus hadir untuk menyediakan peluang pekerjaan bagi masyarakat.

“Untuk menghentikan (aktivitas pertambangan), harus ada pekerjaan yang menjamin mereka,” tambahnya.

Sementara, Ridel menegaskan, gerakan tersebut merupakan panggilan jiwa bagi mereka yang ingin Sangihe tetap lestari.

“Kami adalah orang-orang yang peduli tentang lingkungan di Sangihe untuk anak cucu nanti,” ucapnya.

Ridel juga sempat menyentil mobilisasi alat-alat pertambangan yang masih berlangsung meski sudah ada putusan Mahkamah Agung yang melarang penambangan di Sangihe.

“Entah itu dari mana, tiba-tiba masuk. Masyarakat di sana dan organisasi melakukan penghadangan,” pungkasnya.

Apa yang dilakukan Adit, Aji dan Ridel sejatinya adalah protes terhadap kerusakan lingkungan yang mengancam masa depan Sangihe saat ini, terutama massifnya aktivitas pertambangan.

Follow:
Mengawali karir junalistik di tahun 2019, mulai dari media cetak hingga beberapa media elektronik sebelum akhirnya bergabung dengan Zonautara.com di tahun 2024.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com