ZONAUTARA.com—Di bawah terik matahari siang Manado, Sulawesi Utara (Sulut), di balik sayup-sayup tuntutan mahasiswa, di tengah riuh rendahnya pekik perjuangan, nampak sebuah pemandangan kontras dalam wujud bakul pedagang asongan.
Bakul itu tidak kosong, ia berisi harapan. Meski kecil, namun ia dinamis, meliuk-liuk di antara kebijakan yang saban hari kian mencekik wong cilik.
Derap langkah pasti mengantar bakul harapan ke tengah-tengah massa aksi di depan Gedung DPRD Sulut, Kamis (04/09/2025). Hal yang sama juga terlihat dalam aksi sebelumnya pada 1 September.
“Aqua, aqua, ada aqua,” begitu ucap seorang perempuan yang belakangan diketahui bernama Norma, warga Paal Dua, Manado.
Langkahnya kecil, tangannya terus mendekap bakul. Ia tak surut meski dagangannya belum laku banyak di hari yang riuh itu.
Baginya, penolakan-penolakan kecil hanyalah secuil tantangan dalam perjuangan. Ia pernah menempuh jarak yang lebih jauh dan risiko lebih besar demi bakul harapan yang senantiasa didekapnya.
“Kemarin (berjualan) di Bitung. Sebelumnya juga pernah di Tomohon,” kata Norma saat ditemui Zonautara.com di sela-sela aksi unjuk rasa.

Pada aksi 1 September 2025 di lokasi yang sama, Norma bahkan sempat terkena lemparan kayu saat situasi ricuh ketika aparat membubarkan massa secara paksa.
Matanya juga perih terkena gas air mata. Norma dan beberapa pedagang lainnya bahkan harus memanjat pagar untuk mengamankan diri.
Insiden itu tak membuatnya gentar, sebab ada harapan yang digantungkan. Ada tanggung jawab yang lebih besar daripada selisih keuntungan.
“Ini semua kita beli untuk dijual lagi,” aku Norma dengan raut wajah yang telah matang digurat kehidupan.
Norma tak sendiri, puluhan pedagang asongan hadir dengan isi bakul yang relatif sama: nasi, roti, minuman dingin, buah dan keripik.
Itu artinya setiap pedagang harus “berkompetisi” demi keuntungan yang sama sekali tak dapat diterka. Bagi mereka, berkumpulnya ratusan orang di lokasi yang sama merupakan peluang dagangan laku terjual.
Mahasiswa dan elemen masyarakat yang masih terus menyemburkan peluru aspirasi melalui pengeras suara, aparat berpostur tegap yang menjaga gerbang rapat-rapat, dan para wakil rakyat yang terkesan ogah-ogahan tampil di depan bekas pemilihnya menambah lengkap kesenjangan.
Sementara, Norma dan pedagang lainnya pantang mundur selangkah pun, sebab di dalam bakul yang dijajakan ada serpihan masa depan.
Hari yang mulai sore masih menyisakan satu harapan: semoga ada sosok dermawan yang memborong isi bakul.
“Beberapa kali ada yang memborong semua dagangan,” tutup Norma dengan suara lirih khas rakyat kecil yang dihimpit kebijakan.
Apa yang dilakukan Norma dan pedagang lainnya merupakan potret kecil buah kebijakan yang belum sepenuhnya menyentuh dan menjamin hak-hak kehidupan rakyat kecil.


