“Tidak berguna”: Umpatan apatisme atau keputusasaan?

Penulis: Indra Umbola
Editor: Redaktur
Massa aksi yang duduk dan memadati jalan di depan Gedung DPRD Sulut (Foto: Zonautara.com/Indra Umbola)

ZONAUTARA.com—Kamis (04/09/2025), saat matahari Manado, Sulawesi Utara (Sulut) tepat berada di atas kepala, sekelompok mahasiswa dan elemen masyarakat datang ke Gedung DPRD Sulut menyampaikan aspirasi.

Orasi demi orasi dilontarkan, orator silih berganti, anggota DPRD Sulut belum juga memenuhi keinginan massa aksi untuk bertatap muka sembari bertukar gagasan.

Massa aksi yang mulai jengah memutuskan duduk. Sebagian kecil duduk di depan gerbang Gedung DPRD, sisanya duduk memadati jalan hingga membuatnya tak bisa dilalui.

Saat itulah seorang pemotor menerobos sambil meliuk-liuk di tengah massa aksi. Tanpa diduga, ia melontarkan kata-kata pedas.

“Tidak berguna,” teriak si pemotor yang segera berlalu dari pandangan.




Sebagian massa aksi yang mendengar teriakan itu hanya menganggapnya angin lalu dan dengan sengaja tak menanggapinya.

Umpatan itu sendiri bisa jadi ditujukan terhadap aktivisme yang sedang berlangsung atau kepada aktivis itu sendiri.

Umpatan merupakan perkataan atau ucapan yang dianggap keji, kotor, kasar, atau tidak senonoh yang biasanya diucapkan untuk menyatakan emosi kuat seperti kemarahan, kekecewaan, atau rasa tidak hormat, serta bisa berfungsi untuk penekanan atau bahkan keintiman dalam percakapan informal.

Mengutip Mind Journal, orang-orang menggunakan kata-kata umpatan saat mereka ingin menyampaikan emosi yang kuat seperti kemarahan, frustrasi, atau rasa sakit dalam bentuk yang paling kasar.

Dalam konteks ini, bisa jadi si pemotor meluapkan emosinya sebab jalan yang biasa ia lewati terhalang oleh massa aksi.

Namun jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, umpatan dari si pemotor nampak sebagai bentuk apatisme dan/atau keputusasaan.

Apatisme

Apatisme merupakan sikap acuh tak acuh, tidak peduli, dan tidak memiliki minat atau emosi terhadap sesuatu, baik itu dalam konteks pribadi, sosial, atau politik.

Dalam hal individu, apatisme bisa dibaca sebagai gejala medis yang lama kelamaan harus ditangani oleh psikolog atau psikiater. Hal ini penting diperhatikan sebelum apatisme mulai mempengaruhi kualitas hidup orang yang mengalaminya.

Dalam hal relasi sosial dan politik, apatisme merupakan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial sebagai akibat dari berbagai faktor, seperti ketidakpuasan terhadap sistem sosial dan politik, kekecewaan akibat kegagalan janji-janji politis, akumulasi pengalaman traumatis, serta kurangnya stimulasi lingkungan. 

Artinya, apatisme tidak terjadi tiba-tiba melainkan akumulasi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, seperti ketidakberdayaan politik, kurangnya model peran positif, serta dinamika sosial situasional, seperti difusi tanggung jawab dalam situasi darurat. 

Di negara demokrasi yang pangkal rusuknya adalah suara rakyat, apatisme menjadi sebuah hal yang tak boleh dibiarkan mewabah.

Keputusasaan

Putus asa merupakan keadaan emosional yang ditandai dengan hilangnya harapan, optimisme, dan gairah, sehingga seseorang merasa gagal, kehilangan kepercayaan diri untuk berubah menjadi lebih baik, dan cenderung menyerah pada kondisi sulit.

Mengutip kampuspsikologi.com, dari berbagai model kognitif depresi yang ada, ada satu yang cukup menonjol dalam pembahasannya, yaitu teori depresi keputusasaan.

Awalnya teori ini berasal dari model yang menyatakan bahwa paparan berulang terhadap lingkungan yang tidak mudah untuk dikendalikan dan rasa tidak nyaman akan memberikan rasa terjebak dan putus asa ketika berada dalam situasi tersebut. Akibat dari keputusasaan tersebut, akhirnya menyebabkan depresi.

Namun model ini tidak dapat menjelaskan secara detail mengapa individu tersebut menjadi depresi ketika dihadapkan dengan paparan stres yang tidak dapat dikendalikan sementara yang lainnya tidak.

Apa yang harus dilakukan?

Merujuk pada beberapa penjelasan di atas, apa yang dilakukan si pemotor tidak dapat dihakimi secara sepihak, melainkan harus dipahami sebagai pengingat bahwa negara belum benar-benar mampu menghadirkan pendidikan politik kepada segenap warganya.

Politik sering kali hanya dipahami dari sudut pandang sempit: glorifikasi dan amplifikasi seseorang maupun kelompok untuk menjadi penguasa.

Sementara, proses mendorong pengambilan kebijakan yang secara langsung berdampak kepada rakyat kecil sering kali dianggap terpisah dari sistem politik itu sendiri.

Sehingga penting bagi negara maupun kelompok-kelompok mandiri yang berkompeten untuk memfasilitasi pendidikan politik bagi rakyat kecil.

Umpatan “tidak berguna” dari si pemotor adalah alarm bahaya bahwa sistem demokrasi saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Betapa tidak, seorang rakyat yang seharusnya menjadi bagian dari ruh demokrasi (dari, oleh dan untuk rakyat) justru malah bersikap antipati terhadap kewajibannya sendiri.

Follow:
Mengawali karir junalistik di tahun 2019, mulai dari media cetak hingga beberapa media elektronik sebelum akhirnya bergabung dengan Zonautara.com di tahun 2024.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com