ZONAUTARA.com — Dalam perjalanannya, Manado menjadi kota dengan pertumbuhan yang pesat di semenanjung utara Pulau Sulawesi.
Kota yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini telah melewati berbagai hal dalam perkembangannya.
Hal itu pula yang menjadi pokok bahasan dalam dialog interaktif yang mengusung tema “Kupas Habis Asal Usul Kota Manado dari Sisi Ilmu Sejarah, Antropologi dan Geografi”, Selasa (16/09/2025) di Gedung Wale Sam Ratulangi, UNSRAT.
Dialog yang diinisiasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII SulutGo itu menghadirkan narasumber para akademisi yang berkompeten di bidangnya masing-masing yakni Anindya Puspita Putri, Roger Kembuan, dan Alex Ulaen.
Anindya Puspita Sari mengulas Manado dari sudut pandang geografi. Menurutnya, daerah semenanjung Manado dipengaruhi lempeng Sangihe dan Halmahera.
Tumbukan-tumbukan dari pertemuan dua lempeng tersebut yang akhirnya menyebabkan terbentuknya gunung-gunung di daerah sekitar Manado, seperti Lokon, Klabat, Duasudara, Mahawu dan Soputan.
Salah satu hal yang disentil Anindya dalam penyampaiannnya adalah tentang kebencanaan. Menurutnya, letak geografis Manado saat ini memiliki potensi bencana yang tinggi.
“Kita ini supermarket bencana, jadi kita harus juga belajar bersahabat dengan bencana,” ucap Anindya yang merupakan dosen Prodi Geografi UNIMA.
Bencana yang dimaksudnya seperti abrasi, banjir, tsunami, gempa, dan tanah longsor.
“Itu termasuk tinggi di Manado,” tambahnya.
Anindya yang berlatar belakang arkeolog juga menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan cagar budaya khususnya yang ada di Manado.
“Di Kota Manado ini banyak cagar budaya cuma hampir terlepas dan hampir habis. Jadi kita harus aware terhadap heritage,” ucapnya.
Hal itu berangkat dari kajian yang dilakukannya tentang bangunan yang diduga objek cagar budaya di Manado.
“Dari 50 bangunan yang ada, 35 sudah hancur. Kita Cuma menemukan 15 yang masih utuh,” tambahnya.
Narasumber selanjutnya, Roger Kembuan membahas Manado dari sudut pandang sejarah. Menurut Roger, Manado telah dikenal petualang barat yang pada mulanya tidak menyebutnya sebagai Manado namun sebagai Pulau Damar dan Pulau Resin.
Adapun penyebutan Manado merujuk pada surat laporan dari Gubernur Maluku Jacques Lefebvre tertanggal 27 Oktober 1623 kepada Gubernur Jenderal VOC Pieter de Carpentier.
“Ini yang menjadi dasar sekarang (Manado) usianya sudah 503 tahun karena mereka mengambil tahun 1623,” ucapnya.

Disampaikannya, embrio Kota Manado adalah daerah sekitar muara Sungai Tondano atau di sekitar Pelabuhan Manado saat ini.
“Ada sebuah benteng, sayangnya sudah tidak berdiri. Namanya Benteng Fort New Amsterdam yang dibangun tahun 1703,” ungkap Roger.
Manado menjadi wilayah kerasidenan sendiri setelah pisah dari kerasidenan Ternate pada tahun 1824.
Dalam kesempatan tersebut Roger juga menjelaskan Manado melalui kartografi, litografi dan foto-foto yang sempat memotret keberadaan kota tersebut ratusan tahun silam. Salah satu peta yang ditampilkannya adalah milik VOC sekitar abad 17.
“Manado itu adalah lokasi di mana benteng Belanda itu berada. Ada nama yang artinya merujuk pada Manado Tua. Ada beberapa pulau (di depan Manado) yang belum dinamakan,” terangnya.
Selain itu, ia juga menampilkan peta dari Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge bertarikh 1679.
“Dia menggambarkan Manado itu ada beberapa tempat, ada Manado, Bantik, Klabat dan Ares,” ungkapnya.
Dalam perkembangannya sebagaimana yang tertuang dalam peta tahun 1821, 1840, 1851 hingga abad 20 menunjukkan semakin banyak nama lokasi yang dirujuk dalam peta. Pada fase ini, Manado telah dibagi ke dalam beberapa distrik.
Dalam penyampaiannya, Roger mengungkapkan berbagai perubahan yang telah mewarnai dalam transformasi Manado. Perubahan-perubahan yang dimaksud termasuk pemindahan lokasi beberapa infrastruktur hingga beberapa perkampungan, misalnya Kampung Ketang dan Kampung Ternate yang awalnya berada di muara sungai Tondano (daerah Pasar Bersehati sekarang) dipindah ke Kampung Ternate Baru dan Kampung Ketang Baru saat ini.
Selanjutnya, akademisi yang juga merupakan mantan dosen Sejarah UNSRAT, Alex Ulaen membahas Kota Manado dari sisi antropologi yang dikemukakan para penulis dan peneliti.
“Masih ada ratusan publikasi kesejarahan antropologis (yang membahas Manado),” ucapnya.
Salah satu poin yang dibahas dalam ulasannya adalah toponimi tempat-tempat di Manado. Ada toponimi yang merujuk pada identitas etnis, toponimi yang merujuk pada ruang dan toponimi yang tidak merujuk pada identitas etnis.
Toponimi yang merujuk pada identitas etnis, seperti Kampung Ternate (termasuk Pondol), Kampung Cina (Chinese Wijk), Kampung Arab (Arabische Wijk), Kampung Tomohon, Kampung Kakas, Kampung Remboken, Kampung Borgo, dan lain-lain.
Sedangkan toponimi yang merujuk pada ruang, seperti pada penyebutan “Seblah Kuala” dan “Kapal Sandar”.
Adapun toponimi yang tidak merujuk pada identitas etnis, yakni Kampung Kodo, Tikala, Titiwungen, Sario, Wanea, Pal dua, Wawonasa, Singkil, Sindulang, dan lain-lain.

Ia juga sempat menyentil keadaan Manado yang merupakan kumpulan kampung-kampung yang tidak lagi kampung.
“Karena kalau satu kampung pasti bertetangga itu saling kenal. Ini namanya satu kampung tapi budayanya sudah beda, bertetangga pun sudah tidak saling mengenal,” ungkapnya.
Di akhir penyampaian, ia memotivasi puluhan mahasiswa yang menjadi peserta dialog tersebut agar tidak muluk-muluk dalam mengambil bahan skripsi.
“Amati sekitaran anda, jangan terlalu terikat dengan teori. Itu membelenggu cara berpikir kita. Ikuti saja kenyataan yang ada, dan saya pikir anda akan menemukan hasil yang bagus,” ujarnya.
Roger Kembuan yang juga merupakan Sekretaris Pengelola Wale Sam Ratulangi UNSRAT berharap dialog interaktif tersebut dapat menjadi pintu masuk para mahasiswa dari luar Manado untuk mengenal Manado secara menyeluruh.
“Sehingga mahasiswa UNSRAT yang datang dari banyak daerah bisa memahami kota tempat mereka menempuh pendidikan saat ini dari aspek historis, antropologis dan geografis,” singkat Roger saat ditemui usai dialog.


