ZONAUTARA.com – Kamberu adalah akronim dari Kampanye Bertani Urban yang merupakan program unggulan di SMAN 8 Manado.
Kamberu merupakan program pendidikan berbasis lingkungan yang bertujuan untuk mengenalkan konsep pertanian urban di kalangan siswa SMAN 8 Manado.
Adapun modul Kamberu disusun agar siswa mampu mengenal potensi pertanian urban di lingkungan sekolah/perkotaan, mengelola sampah organik dan anorganik sebagai bagian dari solusi lingkungan, menerapkan metode bertani hidroponik dan konvensional di lahan terbatas, serta memahami keterkaitan antara pertanian dan peternakan ramah lingkungan.
Secara sederhana, di dalam Kamberu diperkenalkan integrated farming yang mudah dilakukan dan dijangkau oleh siswa.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana, Eduward Widodo, menjelaskan, Kamberu merupakan inovasi yang dicetuskan oleh Kepala Sekolah SMAN 8 Manado pada tahun 2024. Namun embrio dari program itu sendiri sudah ada dan diterapkan sejak 2019 dengan model penerapan berbasis projek.

Pemantik utamanya adalah, keresahan untuk menanggulangi sampah plastik. Sehingga terbentuklah sistem pertanian akuaponik yang memadukan akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanpa tanah).
Kemudian program dikembangkan dengan menggunakan media tanam tanah di lahan terbatas yang juga dipadukan dengan peternakan ayam.
“Untuk program kedua ini (penggunaan lahan terbatas dan peternakan ayam) kita baru mulai. Lahan baru selesai disiapkan dan akan mulai menanam,” ucap Eduward saat ditemui pada Kamis (18/09/2025).
Semua siswa dilibatkan dalam program Kamberu dengan tujuan dapat menjadi media pembelajaran bagi peserta didik.
Diharapkan Kamberu dapat merubah pola perilaku siswa dalam menaggulangi sampah plastik dan budidaya tanaman di lahan terbatas.
“Ini juga merupakan edukasi kepada siswa dan orang tua agar dapat melakukannya di rumah,” ujar Eduward yang juga merupakan Koordinator Program Kamberu.

Humas SMAN 8 Manado, Agnes Senduk, mengutarakan hal senada. Lewat Kamberu, pihaknya menekankan pertanian gaya modern dengan tujuan agar siswa dapat mengembangkan di rumah masing-masing memanfaatkan lahan yang seadanya.
“Ada visi besar di balik itu. Kami ingin mengajarkan kepada anak-anak supaya mereka tidak menganggap profesi petani itu sesuatu yang hina karena kita semua membutuhkan makanan dan nutrisi yang semuanya itu berasal dari perkebunan, perikanan dan sebagainya,” ujar Agnes.
Ia mengungkapkan, selain budidaya sayur mayur dan ikan, di SMAN 8 Manado juga ada budidaya jamur yang sudah sempat diolah dan dipasarkan di lingkungan terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa Kamberu memiliki potensi ekonomi yang besar.
“Potensi ekonomi itu ada. Jamur diolah menjadi keripik dan kami coba pasarkan tapi hanya di circle terdekat. Dijualnya baru di internal sekolah. Kami belum punya target pasar yang besar karena hasil pertaniannya juga masih kecil. Tapi ke depan ada arah untuk wirausaha,” jelas Agnes.
Lebih jauh dari itu, ia berharap visi besar Kamberu dapat tercapai dengan adanya perubahan cara pandang, sikap dan perilaku siswa.
Dalam program terbarunya, yakni pemanfaatan lahan terbatas untuk budidaya sayur mayur, SMAN 8 bekerja sama dengan Denny Taroreh, salah seorang praktisi lingkungan. Ia diposisikan sebagai pendampiing teknis dalam program Kamberu.
“Dalam sepekan terakhir kegiatannya masih tahap awal yakni persiapan lahan, olah tanah dan menyiapkan semaian,” ucap Dentar, sapaan akrabnya.
Rencananya lahan dengan luas 4 x12 meter itu akan segera ditanami bermacam sayuran, seperti pakchoy, caisin dan selada dengan jarak tanam 20×20 cm. Di lahan yang sama juga akan dijadikan peternakan ayam dengan jumlah yang terbatas.
“Saat ini sedang persiapan, dalam satu dua hari ini kita akan mulai menanam,” pungkasnya.
Kesadaran lingkungan di lingkup SMAN 8 Manado tak hanya terlihat dari konsep pertanian yang dijalankan, namun juga tercermin dari pepohonan yang dibiarkan tumbuh rindang.
Sejak dari pintu gerbang, pandangan akan langsung tertuju pada keasrian sekolah. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa wawasan lingkungan dapat diajarkan dari mana saja, termasuk dari balik gedung-gedung sekolah.


