IKMS UNSRAT bedah film Gie: Sebuah upaya merefleksikan gerakan kemahasiswaan

Penulis: Indra Umbola
Editor: Redaktur
Pelaksanaan bedah film oleh IKMS UNSRAT (Foto: Zonautara.com/Indra Umbola)

ZONAUTARA.com—Ikatan Keluarga Mahasiswa Sejarah UNSRAT menggelar bedah film dengan mengusung tema “Peran Penting Mahasiswa dalam Proses Dinamika Sejarah Indonesia 1965-1966” yang digelar di Wale Sam Ratulangi UNSRAT, Kamis (18/09/2025).

Film yang dibedah berjudul Gie. Film tersebut menggambarkan perjalanan seorang tokoh utama Bernama Soe Hok Gie yang diperankan Jonathan Mulia (Gie muda) dan Nicholas Saputra (Gie saat mahasiswa). Ia merupakan tokoh aktivis pada medio 1960-an.

Isu sosial, politik bahkan romantisme tak luput dari scenario film ini yang mencoba menampilkan Soe Hok Gie dari segala sisi sembari tetap berfokus pada pergulatan idealism tak kenal kompromi dari si tokoh utama.

Film berlatar 1960-an tersebut berhasil menghadirkan visualisasi Indonesia dalam transisi dari orde lama ke orde baru (orba). Kualitas para pemeran pun memegang peranan krusial.

Pendapat narasumber




Ada tiga narasumber dalam bedah film yang diikuti kurang lebih 30 mahasiswa Sejarah UNSRAT, yakni Alwin Wallidaeny, Tito Wardani dan Roger Kembuan yang ketiganya merupakan dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNSRAT.

Alwin memberi pandangan dari segi teknis perfilman. Menurutnya, film Gie “agak problematik” karena menampilkan sosok baru “pemuda ideal” namun secara bersamaan melanggengkan narasi dari orba.

Salah satu yang menurutnya keliru dalam penggambaran tokoh utama dalam film tersebut adalah Ketika Gie direpresentasikan sebagai “mahasiswa ideal” orba: moral murni dan apolitis.

“Padahal secara historis, Gie dekat dengan militer lewat Nugroho Susanto dan Komandan SSKAD Kolonel Suwarto, hingga Kepala Staf KOSTRAD Brigjen Kemal Idris,” ujar Alwin.

Selanjutnya, Alwin juga menyoroti alur film yang terkesan mengabaikan konteks global tentang Perang Dingin, dan menampilkan tragedi sebagai takdir individu bukan sebagai kekerasan kolektif.

“Indonesia di akhir tahun 1950 dan awal 1960 adalah sebuah negara yang terjebak di antara Perang Dingin,” tambahnya.

“Pengabaian” konteks global itu pula yang ikut disoroti narasumber lainnya, Tito Wardani. Menurutnya, situasi geopolitik Indonesia pada tahun 1960 cenderung ke arah China, dan hal ini tidak ditampilkan di dalam film Gie tersebut.

Lanjutkan, Gie sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra UI, adalah aktivis yang dekat dengan beberapa tokoh nasional pada masa Orde Lama dan kemungkinan aktif di salah satu Organisasi Eksternal Kampus yaitu GemSos (Gerakan Mahasiswa Sosialis).

Keikutsertaan Gie dalam setiap organisasi di intra universiter seperti MAPALA dan ekstra universiter seperti GemSos ini membuat pandangan Gie terhadap politik nasional Indonesia harus segera berubah.

Tito juga menjelaskan latar belakang sejarah Indonesia sekitar tahun 1960-1969, di mana ada periode Demokrasi Terpimpin dengan kepemimpinan Rezim Soekarno yang didukung oleh Front Nasional dan diangkat Presiden Seumur Hidup oleh DPR/MPR GR pada tahun 1962 dan periode peralihan dari Rezim Orde Lama ke Orde Baru yang dipimpin oleh Militer.

“Hal ini yang menjadi alasan mengapa Gerakan Mahasiswa tahun 1966 yang dimana Gie termasuk di dalamnya melakukan aksi yang kemudian dikenal dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) dan merubah arah politik Indonesia pada periode selanjutnya,” ucap Tito.

Narasumber selanjutnya, lebih menekankan pada kedekatan Gie dengan beberapa tokoh yang kemudian dikenal dalam bab sejarah Indonesia, seperti Nugroho Notosusanto dan A.B Lapian, di mana kedua tokoh tersebut adalah senior Gie di Jurusan Sejarah UI dan luput ditampilkan dalam skenario film.

“Nugroho Notosusanto kemudian menjadi Menteri Pendidikan Indonesia. Sementara, A.B Lapian menjadi salah seorang peneliti di LIPI (sekarang BRIN). A.B Lapian juga kemudia menjadi seorang sejarawan besar Indonesia,” ujar Roger.

Terlepas dari skenario film, Roger mengajak untuk menjadikan kisah Gie sebagai salah satu cerminan spirit bagi mahasiswa.

“Jika Gie tidak meninggal muda, kemungkinan ia juga sudah menjadi tokoh besar di Indonesia,” tambahnya.

Tito Wardani yang ditemui usai bedah film mengutarakan harapannya agar supaya kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap realitas sosial.

“Karena Gie itu selalu resah dan peka terhadap kondisi bangsa,” tutupnya.

Follow:
Mengawali karir junalistik di tahun 2019, mulai dari media cetak hingga beberapa media elektronik sebelum akhirnya bergabung dengan Zonautara.com di tahun 2024.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com