Catatan perjalanan: Riuh, kontras, dan cerita lain dari Jakarta

Editor: David Sumilat
Depan Stasiun Jakarta Kota yang dikelilingi pedagang kaki lima. (Foto: Zonautara)

ZONAUTARA.com – Senin, 22 September 2025, berangkatlah saya dari Kotamobagu menuju Bandara Samratulangi Manado, Sulawesi Utara, dengan tujuan mengikuti sebuah pelatihan selama beberapa hari di ibukota negara, DKI Jakarta.

Singkat cerita, kala pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, mulai nampak bangunan megah yang diukir dengan desain unik.

“Inilah ibu kota,” kata itulah yang pertama ucapkan, sebuah pemandangan yang selama ini hanya dilihat lewat layar televisi, ponsel, atau cerita orang.

Begitu turun di kota ini, hal pertama yang menyergap pandangan adalah gedung-gedung tinggi menjulang, seakan-akan berlomba menusuk awan.

Jakarta tampak gagah sekaligus menakutkan. Hiruk-pikuk lalu lintas, bunyi klakson kendaraan, orang-orang yang berjalan cepat, semuanya memberi kesan bahwa kota ini tak pernah tidur dan selalu berlari.




Namun saya tidak ingin hanya melihat Jakarta dari balik kaca jendela gedung pencakar langit.

Bersama Bang Ron, saya memilih untuk menyusuri sisi lain, menengok denyut kehidupan di pinggiran kota.

Ada perasaan ingin tahu yang besar, seperti apa Jakarta yang sesungguhnya, bukan hanya wajah mewahnya, tapi juga realitas yang kerap tersembunyi di balik gemerlap.

Perjalanan pertama kami dimulai di Cikini. Di sini berdiri Hotel Cikini, sebuah bangunan yang bersebelahan langsung dengan Taman Ismail Marzuki (TIM), pusat kebudayaan yang sudah sering saya dengar sejak lama.

Nama Ismail Marzuki, sang komponis besar ini begitu harum dalam dunia musik Indonesia. Menginjakkan kaki di tempat ini, saya seperti menyentuh bagian penting dari sejarah seni negeri.

Rasanya campur aduk, bangga sekaligus kagum, seolah saya tengah berada di halaman awal dari sebuah buku besar yang menyimpan banyak kisah.

Tak berhenti di situ, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Bogor.

Ini juga pengalaman pertama saya naik KRL Jabodetabek sesuatu yang sederhana bagi orang Jakarta, tapi begitu istimewa bagi saya.

Dari balik kaca jendela kereta, pemandangan berganti dengan cepat.

Gedung-gedung perlahan berubah menjadi pepohonan, rumah-rumah sederhana, hingga akhirnya udara terasa lebih sejuk.

Setiba di Bogor, langkah pertama kami tertuju ke alun-alun kota Bogor.

Di sana sedang berlangsung pameran foto yang menampilkan wajah-wajah masyarakat dan kehidupan sehari-hari.

Foto-foto itu sederhana, tetapi punya kekuatan besar. Dari ekspresi wajah, sorot mata, hingga latar belakang yang tergambar, saya seperti diajak masuk ke dalam kehidupan orang-orang yang jarang tersorot kamera.

Rasanya, Bogor menyambut saya bukan dengan keramaian, tapi dengan cerita manusia yang hangat.

Perjalanan lalu berlanjut ke Kebun Raya Bogor, ikon yang sudah melegenda. Udara sejuk, pepohonan rindang, dan hamparan hijau membuat langkah terasa ringan.

Di dalamnya, saya menemukan pengalaman unik: memberi makan rusa-rusa yang sering disebut “rusa presiden”.

Hewan-hewan itu tampak jinak dan ramah, seakan tak keberatan menjadi sahabat singkat bagi pengunjung yang datang.

Ada rasa bahagia sederhana ketika melihat rusa-rusa itu mendekat, seolah alam ikut menyapa.

Tak jauh dari sana, kami sempat singgah ke Perpustakaan Bogor.

Di antara rak-rak penuh buku, suasananya begitu tenang, kontras sekali dengan keramaian Jakarta.

Saya duduk sejenak, menyerap suasana, sambil membayangkan betapa banyak orang datang ke sini untuk menambah pengetahuan atau sekadar mencari ketenangan.

Hari terasa panjang, dan saya pun kehilangan hitungan: entah sudah berapa kali naik-turun kereta hari ini.

Rasanya setiap perjalanan di atas rel seperti fragmen kecil yang kemudian terangkai menjadi mozaik besar.

Setiap stasiun adalah jeda, setiap penumpang adalah cerita, dan setiap perhentian adalah pengalaman baru.

Menjelang sore, langkah kembali membawa saya ke Jakarta Pusat. Senja menutup perjalanan pertama saya dengan lembayung jingga yang memantul di kaca gedung-gedung tinggi. Di balik rasa lelah, ada perasaan penuh syukur.




Malamnya kami berkunjung ke Kota Tua, disana saya bertemu banyak orang, melebihi orang-orang yang suka nongkrong di Sunbae salah satu tempat nongki di Manado.

Mendengarkan cerita sejarah singkat, mencoba tebak menebak dengan trik catur 3 langkah mati.

Jakarta bagi saya bukan hanya soal kemegahan gedung-gedungnya atau macetnya jalanan, melainkan soal pertemuan dengan realitas, dengan kehidupan, dan dengan cerita-cerita kecil yang sering luput dari perhatian.

***

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com