ZONAUTARA.com – Nisi, perwakilan komunitas Perempuan Tuli sekaligus anggota Komunitas Feminis Themis, menyoroti masih kuatnya ketimpangan dalam akses kesehatan reproduksi dan seksual bagi kelompok disabilitas, khususnya penyandang disabilitas mental dan psikososial.
Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers Women’s March Jakarta (WMJ) 2025 yang digelar di Komnas Perempuan, Sabtu (27/9/2025).
Menurut Nisi, meski dirinya fokus pada isu kesehatan reproduksi bagi komunitas Tuli, ia tidak bisa menutup mata terhadap diskriminasi berlapis yang dialami penyandang disabilitas mental.
Hak-hak dasar kelompok ini, kata dia, kerap dikendalikan bahkan dirampas oleh negara maupun masyarakat.
“Penyandang disabilitas mental sering diragukan kapasitas dan hak konsennya. Tubuh mereka masih dikontrol tanpa persetujuan, bahkan dipaksa menggunakan kontrasepsi (KB),” ungkap Nisi.
Ia mencontohkan adanya kasus pemaksaan KB terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), baik di panti sosial maupun di jalanan.
Praktik ini, lanjutnya, dilatarbelakangi stigma masyarakat bahwa mereka tidak pantas memiliki anak karena dianggap berisiko melahirkan anak dengan disabilitas.
“Ini bukan soal KB-nya, tapi tentang tubuh mereka yang dikontrol tanpa edukasi dan persetujuan yang layak. Akses informasi kesehatan reproduksi pun nyaris tidak ada,” tegasnya.
Nisi menambahkan, diskriminasi bukan hanya datang dari negara, melainkan juga mengakar kuat di masyarakat.
Stigma itu, menurutnya, bersumber dari budaya serta sistem pendidikan yang belum inklusif terhadap keberagaman manusia.
“Dunia ini memang menyediakan fasilitas untuk disabilitas, tapi perspektif yang dipakai tetap non-disabilitas. Jadi walaupun ada program, kami sering tidak dilibatkan,” jelasnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merefleksikan kembali pentingnya pendidikan yang sejak dini mengenalkan keberagaman manusia, termasuk ragam disabilitas.
“Banyak orang dewasa baru sadar adanya disabilitas setelah berinteraksi langsung. Seharusnya dari pendidikan dasar, anak-anak sudah dikenalkan keberagaman. Kalau tidak, stigma akan terus hidup,” tutur Nisi.
Selain itu, ia juga menyinggung fenomena yang ia sebut sebagai “corn disability”, yakni kondisi ketika disabilitas hanya dipandang dari kacamata orang non-disabilitas.
“Misalnya, ada yang bilang, ‘Kamu tuli tapi bisa S2 atau S3? Hebat!’ Padahal kami juga punya potensi seperti orang lain. Bedanya, kami butuh akses dan dukungan yang adil,” pungkasnya.


