Aksi kekerasan Diksar KPA di Sulut, Netizen: Bukan hal yang positif

Penulis: Indra Umbola
Editor: Redaktur
Aksi kekerasan dalam Diksar KPA di Sulut (Foto: Tangkap layar akun FB Nourdiana Aronde Akbar)



ZONAUTARA.com—Jagad maya khususnya di Sulawesi Utara (Sulut) dalam dua hari terakhir dihebohkan dengan video pendidikan dasar dari Komunitas Pencinta Alam (KPA) yang belakangan diketahui bernama Himpunan Penjelajah Alam Terbuka Spizaelus (HIMPASUS).

Video tersebut salah satunya dibagikan oleh pengguna akun Facebook Nourdiana Aronde Akbar. Dalam video yang diunggah terlihat seorang perempuan menampar beberapa kali para calon anggota. Bahkan ia juga sempat melayangkan tendangan ke arah dada calon anggota.

Dalam video lainnya yang diunggah akun tersebut juga terlihat seorang lelaki yang tak hanya menampar para calon anggota laki-laki, tapi juga calon anggota perempuan tak luput dari tamparan beberapa kali.

Sontak hal tersebut menuai komentar miring dari netizen. Hingga berita ini diterbitkan, unggahan tersebut telah mendapat reaksi dari 1.570 akun, 592 komentar dan 7,6 ribu kali dibagikan.

“bgm (bagaimana) mau cinta alam, manusianya saja tdk (tidak) dicintai. ini ajaran kekerasan bukan hal yang positif. akan temurun dan akan terbawa pada kehidupan bermasyarakat. harus dihentikan!,” tulis akun Meilan Rumagit.




“Ini sudah main fisik, ini aturan drimnna (dari mana) kuliah mengikuti kegiatan bgni (begini), saya sudah bnyk (banyak) mlkukan (melakukan) perkuliahan, TPI (tapi) Bru (baru) kali ini saya melihat yg jjik (jijik)…seniornya sru brhdapan dgn (suruh berhadapan dengan) saya, biar kt (kita) alihkan di pengadilan dan bisa kena pasal !! Bodok (bodoh) senior seperti ini,” tulis akun Danial Gani.

Tak hanya menuai komentar negatif dari medsos, tanggapan untuk kejadian tersebut juga datang dari salah satu penggiat alam terbuka, Suhandri Lariwu.

Pria yang akrab disapa Bios ini mengatakan, dalam sistem pendidikan dasar di alam bebas, tamparan bisa diterapkan selama tamparan itu terukur dan terarah.

“Terukur artinya kita menyadari kekuatan tamparan kita seperti apa dan menghindari titik vital seperti telinga. Bahkan sebelum menampar sebisa mungkin mengingatkan untuk merapatkan gigi dengan kuat dan menutup telinga,” ucap Instruktur Katalun Jungle School ini saat dihbungi, Rabu (1/10/2025).

“Terarah artinya kita menampar bukan karena ingin membalas dendam karena kita juga mendapat tamparan sebelumnya, melainkan lebih ke mengembalikan fokus mereka terhadap pendidikan, memberian punishment ketika ada barang yang tercecer saat pendidikan, atau terjadi kelalaian yang bisa membahayakan dirinya, teman dan pelatih,” tambahnya.

Namun begitu, Bios juga menyayangkan kejadian yang terkesan seperti plonco tersebut.

“Kalau dalam kasus ini, saya melihat bahwa tamparan dilakukan sebagai ajang plonco yang turun temurun,” ujarnya menyayangkan.

Di sisi lain, hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi ke pihak KPA bersangkutan belum mendapat jawaban.

Follow:
Mengawali karir junalistik di tahun 2019, mulai dari media cetak hingga beberapa media elektronik sebelum akhirnya bergabung dengan Zonautara.com di tahun 2024.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com