ZONAUTARA.com – Ada sesuatu yang magis dari sebuah perjalanan tanpa rencana. Tidak ada itinerary, tidak ada daftar “wajib dikunjungi” hanya kaki yang melangkah dan mata yang menatap, membiarkan diri tersesat di antara sudut-sudut kota yang ramai, riuh, dan kadang berantakan. Malam itu, saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Blok M.
Hiruk pikuk langsung menyambut begitu keluar dari taxi online. Blok M bukan tempat yang berpura-pura. Ia tidak menyembunyikan kebisingan, kepadatan, atau bau asap dari gorengan yang terus-menerus dituang ke wajan. Di situlah letak kejujurannya. Semua terbuka, apa adanya. Manusia datang dan pergi, membawa cerita, mencari makan, atau sekadar berjalan tanpa arah seperti saya malam itu.
Langkah membawa saya ke deretan warung emperan. Meja-meja plastik, bangku kecil, dan lapak yang hanya beratapkan terpal. Tak butuh waktu lama untuk menjatuhkan pilihan saya ke sepiring nasi putih dengan telur dadar, lauk paling sederhana tapi justru paling menenangkan. Ada rasa khas dalam setiap gigitannya. Bukan hanya dari bumbunya, tapi dari cara makannya, di tengah keramaian, bersama orang-orang asing yang duduk bersebelahan tanpa saling mengenal.
Tak ada musik, hanya suara sendok bertemu piring, obrolan santai pedagang, dan kendaraan yang berlalu-lalang tak pernah berhenti. Tapi entah kenapa, suasana itu justru membuat hati terasa hangat. Seolah saya sedang menjadi bagian kecil dari denyut nadi kota yang tak pernah tidur.

Selesai makan, saya berjalan menyusuri lorong kecil yang dipenuhi lapak buku bajakan. Saya tahu ini bagian yang tak ideal. Tapi sebagai pembaca yang dibesarkan oleh rasa penasaran dan dompet pas-pasan, tempat seperti ini bagaikan surga kecil. Buku-buku terhampar di atas lapak-lapak kecil, sebagian dalam kondisi nyaris baru, sebagian lainnya dengan sampul yang mulai pudar. Tapi isi? Tetap sama.
Beberapa judul langsung mencuri perhatian: Sepatu Ayah, Dompet Ibu, Dark Psychology, Laut Bercerita, hingga Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Judul-judul yang selama ini hanya ada di daftar keinginan, malam itu bisa saya bawa pulang dengan harga tak lebih dari dua porsi makan. Di sinilah absurditas kota ini muncul, di tengah kesemrawutan, ada bentuk kebahagiaan yang begitu sederhana membeli buku murah dan memasukkannya satu per satu ke dalam tas, sambil membayangkan malam-malam panjang yang akan ditemani halaman demi halaman.

Perjalanan saya belum selesai. Dari Blok M, saya dan bang Ronny (Pimred kami di Zonautara.com) menuju Pasar Senen. Ada titipan dari Suhendra, salah satu kru Zonautara. Ia menginginkan kemeja flanel dengan motif tertentu. Klasik. Permintaan yang sederhana, tapi entah kenapa terasa penting untuk ditunaikan. Mungkin karena ini bagian dari cerita malam itu. Mungkin karena saya tak ingin pulang hanya dengan cerita saya sendiri.
Pasar Senen tak kalah ramai. Di bawah lampu-lampu jalanan yang temaram, berjejer topi, kemeja, kaus, hingga jaket semuanya seakan berebut perhatian. Setiap lapak punya karakternya sendiri. Pedagang menyapa, menawar, tertawa, bahkan kadang membiarkan pembeli memilih tanpa mengganggu. Saya menyusuri satu per satu hingga akhirnya menemukan yang dicari kemeja flanel bermotif kotak kecil, warna maron hitam seperti yang diminta Suhendra. Entah dia akan memakainya untuk manggung atau hanya sebagai busana harian.

Kota ini tidak selalu ramah. Ia bisa melelahkan, membingungkan, bahkan menjengkelkan. Tapi di sela-sela kekacauan itu, ada potongan-potongan kecil yang begitu manusiawi: makan malam sederhana, perburuan buku murah, dan pencarian kaus titipan teman. Semua itu merajut perjalanan yang tak megah, tapi cukup untuk membuat hati tersenyum.
Malam itu, Blok M dan Pasar Senen mengajarkan saya satu hal bahwa bahagia tidak selalu datang dari yang besar, megah, dan mahal. Kadang ia datang dari telur dadar di emperan jalan, buku-buku yang nyaris terlupakan, dan selembar kemeja flanel.
Dan malam itu, saya pulang bukan hanya dengan tas yang penuh, tapi dengan hati yang juga ikut terisi.


