ZONAUTARA.com – 3 Agustus 2025. Sudah dua bulan lebih sejak ayah pergi. Waktu terasa berjalan lambat, seperti jam dinding di ruang tamu yang baterainya nyaris habis. Setiap sore, rumah terasa lebih sunyi. Tak ada lagi suara ayah memanggilku dari teras, atau tawa kecilnya ketika ibu salah mengucapkan judul film kala menyetel televisi.
Beberapa pekan lalu, di tengah rasa hampa itu, aku berjalan tanpa tujuan ke Pasar Buku Blok M. Deretan kios buku bajakan di sana ramai. Banyak rak penuh buku yang warnanya sudah pudar, dengan aroma kertas lembap, yang entah kenapa justru menenangkan. Di salah satu sudut, mataku tertumbuk pada sebuah buku berjudul Dompet Ayah, Sepatu Ibu.
Aku tidak mengenal buku itu. Tapi entah kenapa, judulnya seperti memanggil, yang sebelumnya sempat kulihat di toko buku Bulandu yang ada di Kotamobagu. Ada semacam bisikan untuk mengambilnya, mungkin karena dua kata di dalamnya: “Ayah” dan “Ibu.” Kali ini aku tak akan menjelaskan isi buku secara detail tetapi menulis untuk kerinduan terhadap Sang Ayah.
Aku lantas mengambil buku itu tanpa banyak pikir, dengan menebus harga Rp 25.000. Malam itu juka, sekembali ke hotel, aku membacanya diam-diam buku yang mengisahkan secara sederhana tentang keluarga, pengorbanan, dan cinta yang diwujudkan lewat hal-hal kecil. Tentang dompet seorang ayah yang tak pernah terisi penuh, tapi cukup untuk membuat anaknya sekolah. Tentang sepatu ibu yang tak pernah diganti, karena semua uang lebih baik dipakai untuk membeli buku pelajaran.

Setiap halaman seperti menyalakan kembali kenangan. Aku teringat pada dompet kulit hitam milik ayah yang kini ibu simpan di laci. Masih ada foto ibu di dalamnya. Dan aku teringat pada sepatu ibu yang talinya sudah mulai rapuh, tapi tetap ia pakai setiap hari ke pasar.
Aku menangis tanpa suara, semuanya bercampur rasa rindu terhadap mendiang ayah malam ini. Mungkin karena buku yang bahkan dijual di rak bajakan, dengan sampul yang sedikit terlipat telah menyentuh sesuatu yang paling dalam di diriku.
Buku Dompet Ayah, Sepatu Ibu menjadi pengingat bahwa cinta orangtua tidak pernah hilang, meski wujudnya sederhana. Bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari pemahaman baru tentang kasih sejati yang sering bersembunyi di balik hal-hal kecil: dompet tua, sepatu lama, atau bahkan sebuah buku bekas di pasar Jakarta.
Hari ini, dua bulan lebih sejak ayah pergi, aku tidak lagi melihat buku itu sebagai barang bajakan. Ia adalah pesan tak terduga yang datang di waktu yang paling aku butuhkan. Dan setiap kali aku membuka halamannya, rasanya seperti ayah sedang berbicara kembali pelan, hangat, dan penuh cinta.
Tulisan ini ku tutup dengan lantunan ayat-ayat suci.
Lahul Fatihah ayah.
Identitas buku
Judul: Dompet Ayah Sepatu Ibu
Pengarang: J.S. Khairen
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Anggota IKAPI, Jakarta 2023
Tahun terbit: Agustus 2023 untuk cetakan pertama
Tebal halaman: 216 halaman
Ukuran buku: .13.5 X 20 cm
ISBN: 978-602-05-3022-2
Harga: 88.000 untuk Pulau Jawa


