ZONAUTARA.com — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) kini bersiap menghadapi peningkatan aktivitas Gunungapi Karangetang.
Kendati belum ada peningkatan status dan masih berada di Level II atau Waspada, tanda-tanda peningkatan aktivitas mulai terlihat.
Sejak 1 Oktober 2025, Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Karangetang melaporkan adanya peningkatan kegempaan kepada Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung.
Dalam laporan tersebut disebutkan adanya peningkatan gempa hembusan yang terjadi puluhan hingga ratusan kali per hari, padahal sebelumnya tidak terekam.
Selain itu, seismograf juga mencatat gempa vulkanik dalam dan dangkal, serta munculnya tremor harmonik dan non-harmonik yang menandakan adanya aktivitas magma dari dalam menuju permukaan.
Peningkatan aktivitas ini mendorong Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Chyntia Ingrid Kalangit, untuk mendatangi Pos PGA Karangetang di Kampung Salili, Kecamatan Siau Tengah, pada Jumat, 10 Oktober 2025.
Kedatangan Bupati dilakukan tidak lama setelah gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang Kepulauan Talaud dan sempat berpotensi tsunami, sesuai rilis BMKG.
“Khawatirnya akan ada dampak ke Gunung Karangetang,” kata Bupati kepada Zonautara.com.
Dalam kunjungan tersebut, Chyntia memastikan langsung kondisi terkini dan ancaman yang dihadapi.
Ia mengungkapkan bahwa laporan dari masyarakat, khususnya di Kecamatan Siau Barat Utara, menunjukkan adanya bunyi dentuman, suara gemuruh, dan jatuhan abu vulkanik yang membuat warga khawatir.
“Kami sudah sampaikan imbauan kepada para camat dan kepala desa agar warga meningkatkan kewaspadaan dan tidak terpengaruh informasi yang belum jelas,” tegas Chyntia.
Menurutnya, langkah antisipatif ini menjadi bagian dari upaya awal pemerintah daerah untuk menyiapkan rencana menghadapi kemungkinan terburuk.
“Jangan sampai terjadi bencana, sementara kita tidak punya rencana apapun. Nanti masyarakat yang akan menjadi korban,” ujarnya.
Sementara itu, petugas Pos PGA Karangetang, Yudi Tatipang, menjelaskan bahwa Gunung Karangetang memiliki tujuh kawah aktif.
“Di dalam kawah utama ada empat kawah lain. Kawah dua berada di bawahnya, sekitar empat kilometer dari Desa Batubulan,” jelas Yudi.
Ia menambahkan, peningkatan aktivitas gunung perlu diwaspadai terutama saat curah hujan tinggi.
“Magma saat ini sudah berada di permukaan. Jika hujan deras, bisa terjadi letupan atau letusan yang memicu lelehan lava dan mengancam pemukiman,” kata Yudi kepada ZonaUtara.com.
Berdasarkan peta rawan bencana Gunungapi Karangetang dari PVMBG, sejumlah wilayah di Siau masuk dalam zona merah. Di Kecamatan Siau Barat terdapat wilayah rawan di Kali Desa Kanawong.
Di Kecamatan Siau Timur, kawasan rawan mencakup Kelurahan Bebali, Tarorane, Tetahadeng, serta Desa Dame, Karalung, dan Apelawo. Sementara di Kecamatan Siau Barat Utara, seluruh desa masuk dalam zona merah.
Aktivitas di kawah dua kini terpantau meningkat, meski belum seaktif kawah utama yang menjulang tinggi dan menunjukkan peningkatan di puncak akibat kubah lava.
Namun, pengalaman erupsi pada Februari 2019 menjadi peringatan serius. Saat itu, lelehan lava dari kawah dua meluncur hingga ke laut, merusak jalan dan jembatan, serta memutus akses ke Desa Batubulan.
Lebar aliran lava mencapai sekitar 160 meter, membuat ratusan warga terisolasi.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk menyiapkan berbagai skenario mitigasi jika aktivitas Karangetang kembali meningkat.
Peningkatan aktivitas gunung api ini harus dihadapi dengan rencana matang, sebab ketika bencana terjadi, ancamannya bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga keselamatan masyarakat.


