Bunda Ruth, suara perempuan, rumah bagi banyak jiwa

Ia tak hanya pendeta yang berkhotbah di mimbar, tapi turun di jalan, berbicara di ruang-ruang advokasi, dan mendengarkan di antara luka orang lain.

Editor: Ronny Adolof Buol
Saya dan Bunda Ruth

ZONAUTARA.com – Selasa siang itu (14/10/2025), langkahku berhenti di depan gedung Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kotamobagu. Tak ada janji, tak ada rencana. Entah mengapa hati tergerak untuk sekadar singgah. Tapi siapa sangka, semesta sedang menyiapkan pertemuan yang begitu hangat antara aku dan sosok yang sudah lama kupanggil Bunda.

Di ruang itu, tengah berlangsung kunjungan dari DP3A Kota Tomohon. Di antara kerumunan wajah-wajah serius, ada satu sosok yang tak mungkin salah: Bunda Ruth Ketsia. Ia seorang pendeta, aktivis kemanusiaan, sekaligus Koordinator Gerakan Perempuan Sulut. Ia berdiri dengan senyum teduh yang tak pernah berubah sejak pertama kali aku mengenalnya, 5 tahun lalu saat aku masih duduk di bangku perkuliahan.

Tanpa banyak kata, pelukan hangat langsung terjalin. Seolah waktu berhenti. Di tengah hiruk-pikuk kunjungan, kami menemukan ruang kecil untuk sekadar duduk dan berbincang lama, sangat lama, hingga Bunda meninggalkan rombongan sejenak hanya untuk mendengarkan.

“Entah rumah macam apa ini,” pikirku.

Tapi begitulah Bunda tempat banyak anak muda pulang, bukan karena darah, tapi karena kasih dan kepeduliannya. Di mata kami, anak-anak PMII Metro, ia bukan sekadar advokat isu perempuan. Ia rumah tempat kembali, tempat paling aman untuk berbagi kisah, luka, dan tawa.




Menyuarakan yang sunyi

Dalam obrolan itu, Bunda Ruth kembali menyinggung satu isu yang tengah ia perjuangkan keras pernikahan dini di wilayah Bolaang Mongondow Raya.

“Angkanya masih tinggi,” ujarnya pelan tapi tegas. “Padahal ini bukan cuma soal adat atau budaya, tapi soal masa depan anak-anak kita.”

Ia menjelaskan, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh melibatkan lintas sektor, pemerintah daerah, masyarakat sipil, lembaga kemanusiaan, dan tentu saja media.

“Peran media itu penting,” katanya. “Kalau diberitakan, masyarakat tahu, dan dari situ muncul dorongan untuk mencari solusi.”

Menurutnya, Undang-Undang Perlindungan Anak sudah jelas melarang pernikahan dini, sebab risiko yang ditimbulkan sangat besar, dari kesehatan reproduksi, putus sekolah, hingga masa depan yang terampas.

“Anak itu generasi penerus bangsa,” tuturnya. “Bagaimana mereka mau tumbuh jadi kuat kalau sudah harus mengurus anak di usia belasan?”

Ia juga menyoroti dilema yang kerap muncul di lapangan, putusan pengadilan agama atau negeri yang mengabulkan dispensasi nikah bagi anak di bawah umur.

“Apakah itu solusi? Belum tentu,” tegasnya. “Seringkali hanya karena sudah hamil, lalu dipaksa menikah. Padahal itu bukan cinta, bukan kesiapan. Mereka belum matang secara emosional, psikologis, bahkan biologis.”

Lebih dari sekadar aktivis

Baginya, perjuangan menolak pernikahan dini bukan sekadar kampanye formalitas. Ini soal menyelamatkan masa depan, melindungi anak-anak dari siklus kekerasan dan kemiskinan.

“Banyak KDRT yang bermula dari pernikahan dini,” ungkapnya. “Karena mereka belum siap jadi orang tua, akhirnya yang menderita anak-anak itu juga.”

Sore berganti malam, obrolan kami berlanjut dengan jeda-jeda penuh makna. Pukul 22.00, pesan WhatsApp masuk. Bunda mengabari baru saja tiba di Tomohon.

“Seandainya saja tak bersama tim,” tulisnya, “malam ini pasti kita habiskan dengan ngopi dan cerita panjang lepas rindu.”

“Neno sayangnya tidak ketemu kemarin, sementara ngana leluasa hehehe, kalo ke Manado singga Tomohon” tulisnya dalam bahasa Manado. (Neno adalah editor kami dan juga mengawangi Tentangpuna.com, sebuah media alternatif yang didirikan oleh Zonautara.com).

Seketika senyumku merekah

Karena memang begitulah Bunda Ruth seorang pendeta yang tak hanya berkhotbah di mimbar, tapi turun langsung di jalan, berbicara di ruang-ruang advokasi, dan mendengarkan di antara luka orang lain.

Suaranya lembut, tapi gagasannya tajam. Ia mampu membuat isu berat seperti KBB, kemanusiaan, dan perlindungan anak terdengar begitu dekat, begitu hangat.

Dan bagi kami yang pernah mengenalnya, Bunda bukan hanya tokoh. Ia adalah rumah. Rumah tempat pulang dari segala perjalanan panjang menjadi manusia.

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com