ZONAUTARA.com– Suasana di Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu Kamis (13/11/2025) tampak tenang. Di balik suasana itu, sebuah babak baru sedang dimulai: Yajid SH, MH resmi memimpin PN Kotamobagu, melanjutkan perjalanan panjangnya di dunia peradilan.
Yajid lahir di Manokwari Selatan, 19 Oktober 1975. Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di Manokwari, sebelum ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Cenderawasih, Papua. Setelah lulus, ia langsung mengikuti tes calon hakim pada 2001.
“Setelah kuliah, saya langsung ikut tes hakim,” tuturnya mengenang saat menemui beberapa wartawan termasuk Zonautara.com.
Ia menjalani masa calon hakim di Sorong selama hampir dua tahun, lalu bertugas pertama sebagai hakim di Serui. Mutasi demi mutasi kemudian membentuk jejak kariernya: Minahasa Utara, kembali ke Sorong, lalu Jayapura. Setelah itu ia dipercaya menjadi Wakil Ketua PN Merauke, Ketua PN Wamena, Kepala PN Timika, hingga kembali lagi ke Sorong sebagai Wakil Ketua PN.
Jejak karier itu membuat Papua menjadi rumah kedua, bahkan mungkin rumah utamanya. Penugasan di Kotamobagu ini menjadi kali kedua ia bekerja di luar Papua.
“Kalau dihitung, hampir seluruh perjalanan saya di Papua. Jadi di sini saya seperti memulai babak baru lagi,” ujarnya tenang. Dua anaknya dan istrinya masih tinggal di Sorong. “Kadang rindu juga, tapi begitulah tugas.”
Ruang tamu di lantai dua PN Kotamobagu menjadi tempat berbincang hari itu. Sebuah ruangan berpendingin udara dengan sofa sederhana, ditemani deretan foto para mantan pimpinan PN di dinding. Yajid baru tiga hari menempati kursi ketua ketika Zonautara.com datang bersilaturahmi. Sikapnya ramah, tapi jelas ia sudah terbiasa menerima tamu dengan kepala dingin.
Di sela pembicaraan, terselip beberapa pengalaman menarik dari perjalanan panjangnya. Ia pernah menangani perkara yang melibatkan warga negara Polandia, sebuah kasus yang sempat ramai, namun seluruh prosesnya berjalan aman dan lancar. Di Sorong, ketika menjabat sebagai Wakil Ketua PN, ia memimpin lembaga itu meraih predikat unggul dan masuk 10 besar nasional dalam lomba Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Prestasi itu bukan hal yang ia banggakan secara berlebihan, tetapi ia menganggapnya sebagai bukti kerja kolektif untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih bersih dan transparan.
Di luar tugas formal, ia menjaga keseimbangan hidup lewat olahraga: tenis, jogging, atau walking di pagi hari.
“Kalau olahraga, pikiran jadi segar. Bekerja pun lebih fokus,” ujarnya memberi alasan.
Kini, dengan amanah baru di Kotamobagu, Yajid membawa bekal pengalamannya dari timur Indonesia, dari kota-kota yang mungkin tak dikenal publik luas, namun telah membentuk keteguhan sikap hukumnya. Kompas kerjanya sederhana saja: melayani masyarakat dengan adil.
“Saya mohon doa dan dukungan warga Kotamobagu supaya bisa menjalankan tugas dengan baik untuk para pencari keadilan,” ucapnya pelan.
Langkah-langkah kecil di koridor PN Kotamobagu hari itu terasa seperti metafora kariernya sendiri, tenang, konsisten, dan menuju tujuan yang jelas. Dari Manokwari hingga Kotamobagu, Yajid berjalan dengan cara yang sama: teguh, tanpa banyak bicara, tetapi selalu membawa semangat pelayanan publik yang bersih dan dapat dipercaya.


