ZONAUTARA.com — Saban pagi, saat kabut belum sepenuhnya sirna dari kaki Gunung Ambang, Hamid dan istrinya, Masriah telah berangkat ke kebun kopi miliknya. Di antara dedaunan yang masih dipenuhi embun, keduanya meniti jejak jalur ekonomi warisan leluhur.
Seperti pada Rabu, (12/11/2025), Hamid dan Masriah bersama beberapa orang buruh pemetik buah kopi sedang bersiap. Dengan telaten, mereka memetik buah berwarna merah dan yang telah berwarna kemerahan serta kekuningan. Sedangkan buah yang masih hijau pekat dibiarkan.
Letak kebun kopi milik keluarga Hamid tak jauh dari rumahnya di Desa Liberia Timur, Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut). Sekitar 15 menit perjalanan dengan sepeda motor, setelah meliuk-liuk di jalan yang hingga kini belum diaspal sepenuhnya, membentang kebun kopi milik Hamid.
Di kebun tersebut masih terdapat beberapa pohon kopi yang ditanam oleh perusahaan Belanda awal abad 20. Selebihnya, pohon kopi lainnya di kebun tersebut telah dipangkas batang utamanya dan disambung dengan pucuk yang baru.
Keberadaan perkebunan kopi di wilayah yang kini termasuk dalam Kecamatan Modayag itu tak lepas dari sejarah yang panjang, lebih dari seratus tahun lalu. Sejarah kopi di Modayag juga berkaitan erat dengan sejarah terbentuknya komunitas Jawa di kaki Gunung Ambang tersebut.

Asal usul komunitas Jawa di Boltim
Dari berbagai sumber yang diperoleh Zonautara.com menyebut mobilisasi masyarakat Jawa ke distrik Modayag dilatarbelakangi kebutuhan pekerja untuk perkebunan kopi milik Belanda pada awal abad ke-20. Dalam Buku Profil Desa Purworejo Induk disebutkan, asal usul masyarakat Purworejo berasal dari Pulau Jawa yang diboyong oleh Belanda pada tahun 1914 hingga 1943 dan dipekerjakan sebagai buruh perkebunan kopi Holland Cultuur Celebes Maatschappij (HCCM).
Hal itu ditegaskan pula oleh Sekretaris Desa (Sekdes) Purworejo Induk, Sulasri Legimin yang mengaku mendapat cerita turun temurun dari para tetua.
“Pada kurun waktu tahun 1910 sampai 1915 didatangkan masyarakat dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka dipekerjakan di perkebunan kopi, mulai dari pembukaan lahan, persiapan pembibitan, penanaman hingga produksi,” ucapnya, Selasa (11/11/2025).
Namun ada pandangan lain mengenai kedatangan masyarakat dari Pulau Jawa yang diutarakan oleh mantan Sekdes Liberia Timur, Hariyanto Sirun. Menurutnya, kedatangan pertama terjadi pada tahun 1902. Sedangkan gelombang kedatangan kedua terjadi pada 1912.
“Mereka dibawa oleh Belanda ke sini untuk tanam kopi. Ada dua jenis kopi, yakni robusta dan arabika,” ucap Hariyanto yang menjabat Sekdes Liberia Timur tahun 2006-2019.
Pandangan lain juga datang dari sejarawan Bolaang Mongondow (Bolmong), Sumitro Tegela yang menyampaikan bahwa perkebunan kopi di Modayag dikelola oleh perusahaan Nedherland Van Handel Maatschappij (NHM).
Pengelolaan perkebunan kopi tersebut merupakan kerja sama antara Kerajaan Bolmong dan perusahaan Hindia Belanda dalam rangka investasi perkebunan kopi dengan perjanjian bagi hasil. Dalam kesepakatan tersebut pihak perusahaan hanya mendapat lahan konsensi, sementara pemiliknya adalah Kerajaan Bolmong.
Periode tahun 1917-1921 Kepala Administrator Perkebunan Kopi Modayag ialah J. Souman. Adapun ekspor kopi dikirim melalui Lombagine (Inobonto) dan Motongkad (Boltim). Saat itu di wilayah Kerajaan Bolmong banyak perusahaan yang berinvestasi, di antaranya perusahaan tambang emas, perkebunan kelapa, dan perkebunan kopi.
“Jadi tidak hanya perkebunan kopi, tapi ada juga perusahaan tambang yang masuk di wilayah lain di Bolmong,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (13/11/2025).
Dari berbagai sumber di atas terlihat ada perbedaan mengenai tahun kedatangan dan nama perusahaan pengelola perkebunan, namun ada benang merah yang sama: mereka didatangkan untuk mengelola perkebunan kopi.

Terbentuknya Desa Purworejo
Latar belakang didirikannya Desa Purworejo adalah ketika perkebunan kopi milik Belanda mengalami kebangkrutan. Sehingga pada tahun 1953 seluruh buruh yang dipekerjakan meminta untuk dipulangkan ke tempat asalnya.
Akan tetapi kondisi perusahaan yang pailit tidak memiliki biaya untuk memulangkan para pekerja. Sebagai gantinya, pihak perusahaan memberikan pesangon kepada para pekerja berupa perkebunan kopi, ladang, pekarangan, pabrik, dan bangunan rumah tua yang sekarang dijadikan lokasi pembangunan Masjid Jami’ Al Ulum Purworejo.
“Lahan yang pernah dikelola Belanda diberikan secara cuma-cuma kepada para pekerja. Masyarakat mendapat pesangon berupa lahan kopi. Satu keluarga mendapat satu bagian, dengan luas 90×90 meter. Jadi kurang lebih ada 9000 pohon kopi di dalamnya,” ujar Sulasri.
Setelah perusahaan meninggalkan perkebunan budidaya kopi di Modayag, para tetua yang dikenal dengan nama Tim 12 mengambil langkah untuk mendirikan sebuah desa yang akhirnya diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Bolmong pada tahun 1954 dengan nama Desa Purworejo.
Purworejo berasal dari bahasa Jawa (purwo dan rejo) yang dalam bahasa Indonesia berarti “awal desa yang ramai”.
Selang beberapa tahun kemudian, sebagian wilayah Desa Purworejo dimekarkan menjadi Desa Liberia. Menurut Sulasri, pemekaran terjadi pada tahun 1957. Sedangkan, Hariyanto berpendapat bahwa pemekaran Desa Liberia dilakukan pada tahun 1955.
“Tahun 1955 dimekarkan menjadi desa dengan nama Liberia yang dipimpin sangadi (kepala desa) pertama bernama Sumpeno,” ungkapnya.
Juga dijelaskannya, nama Liberia diadopsi dari nama negara Liberia, Afrika Barat yang merupakan daerah asal kopi liberika. Kini Purworejo telah mengalami pemekaran menjadi tujuh desa, yakni Purworejo Induk, Purworejo Tengah, Purworejo Timur, Sumberejo, Liberia Induk, Liberia Timur, dan Candi Rejo.

Lahan kopi yang menyusut
Sejatinya, penyusutan lahan kopi di Purworejo telah terjadi sejak lama. Hal itu bisa terlihat dari konversi lahan kopi menjadi ladang dan sawah. Namun penyusutan secara masif terjadi sejak masyarakat mulai beralih menanam tanaman hortikultura pada tahun 2000-an.
“Yang terinformasi, dulu total lahan yang ditanami kopi sekitar 1500 hektare. Dulu ada beberapa lahan kopi yang dibuka menjadi ladang, tapi sampai tahun 2000-an awal belum ada yang menanam hortikultura di sini,” ucap Sulasri.
Peralihan kopi ke hortikultura secara masif tak bisa dipisahkan dari faktor ekonomi yang melandasinya. Harga kopi yang tak kunjung membaik dinilai tak mampu menutupi kebutuhan rumah tangga.
“Harga kopi per kilogram di tahun 2000-an itu di bawah Rp20 ribu. Jadi walaupun hasil (produksi) agak lebih tapi tidak mampu menutupi kebutuhan rumah tangga,” tambahnya.
Hal tersebut juga diamini oleh Kepala Urusan Pemerintahan Purworejo Timur, Kosmani Mansur yang mengatakan, konversi lahan kopi menjadi hortikultura secara massif terjadi pada era 2000-an disebabkan harga kopi yang berada di bawah standar.
“Hortikultura lebih menjamin. Perawatannya memang lebih susah, tapi potensi ekonominya lebih besar,” ucap Kosmani.
Sementara, Hariyanto menilai, penyusutan lahan kopi merupakan salah satu buntut kegagalan pemerintah saat itu dalam menyediakan dan menjamin pasar.
“Dulu masih mayoritas bertani kopi, hasil produksi ditampung para tengkulak. Jadi, harga dikendalikan oleh mereka. Kita orang awam, tidak tahu terobosannya harus kemana,” ucapnya.
Meski begitu, ia juga menyesal mengkonversi lahan kopinya seluas 2 hektare sebab dalam beberapa tahun terakhir harga kopi melesat naik.
“Saya membongkar lahan kopi pada tahun 2004 karena putus asa. Saya juga menyesal. Sekarang kaget kopi harganya Rp60-70 ribu,” ungkapnya.
Sekarang bekas lahan kopi milik Hariyanto telah ditanami jagung manis, jahe, tomat, kacang panjang, dan sayur caisim.
Ketiga tokoh masyarakat dari Purworejo Induk, Purworejo Timur dan Liberia Timur di atas masing-masing menyebut ada penyusutan lahan kopi yang teramati secara kasat mata. Namun sayang data luas lahan kopi yang mengalami penyusutan di wilayah tersebut tak tercatat di desa.

Masihkah kopi Purworejo punya harapan?
Hamid dan Masriah merupakan satu dari sedikit petani yang masih bertahan mengolah perkebunan kopi. Tak hanya menanam hingga memanen, keduanya juga melanjutkan proses memproduksi bubuk kopi yang dipasarkan sendiri.
Keduanya mengaku kebun kopi merupakan sumber mata pencarian utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bahkan hingga menyekolahkan anak.
“Anak yang pertama kuliah, yang satunya sekolah, semuanya dari uang hasil kopi,” ucap Hamid.
Bagi Hamid, kopi adalah yang utama. Saban hari, ia dan istrinya sibuk mengurusi lahan kopi yang saat ini sedang panen. Di kebun kopi dengan luas kurang lebih satu hektare tersebut, Hamid juga berhasil menyediakan mata pencarian bagi mereka yang berprofesi sebagai buruh pemetik kopi.
“Hari ini ada tiga orang yang bantu memetik,” ucapnya saat ditemui di kebun kopi miliknya.
Lebih dari faktor ekonomi, Hamid memandang kopi merupakan identitas kewilayahan yang tak boleh hilang dari ingatan kolektif. Bahkan di brand kopi D&L miliknya, ia menyisipkan tagline “Ingat Kopi, Ingat Boltim”.

Kisah Hamid dan Masriah menyisakan sebuah harapan bahwa kopi masih mampu menjadi komoditas unggulan di wilayah tersebut, yang merupakan bagian integral dari sejarah terbentuknya komunitas Jawa di Boltim. Dengan kata lain, wilayah Purworejo secara umum identik dengan kopi.
Kopi selalu ada dalam relasi sosial masyarakat Puworejo. Dengan begitu cukup relevan jika menyebut kopi adalah bagian dari identitas kewilayahan Purworejo. Hal tersebut juga merujuk pada alasan didatangkannya orang-orang dari Pulau Jawa pada awal abad ke-20, yakni karena kopi. Jika tidak, maka tidak akan pernah ada Purworejo di Boltim.
Namun, kenyataan saat ini menyiratkan bahwa alasan mereka didatangkan tak lagi sanggup menjadi alasan untuk mempertahankan kehidupan. Banyak lahan kopi telah dikonversi. Hal itu pula yang menjadi sorotan Pj Sangadi Liberia Timur, Rival Mahdum. Ia menilai, generasi muda tak lagi menaruh perhatian untuk perkebunan kopi.
“Petani kopi di sini mayoritas berusia 50 tahun ke atas,” ucap Rival saat ditemui di kantornya.
Ia menyayangkan, kopi yang merupakan bagian dari sejarah dan identitas wilayah tersebut justru mulai terpinggirkan dari perhatian generasi muda.
“Sangat disayangkan. Padahal setiap tahun dalam acara ulang tahun desa selalu dibacakan sejarah bahwasanya alasan orang Jawa dibawa ke sini karena untuk menanam kopi,” tambahnya.
Meski tak memiliki data akurat, namun Rival berpendapat, di wilayah yang dipimpinnya penyusutan lahan perkebunan kopi belum signifikan.
Di sisi lain, Hariyanto juga menegaskan, kopi di wilayah tersebut tidak boleh hilang karena punya nilai historis yang panjang. Ia mengaku pernah memasukkan program sambung pucuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) sewaktu ia masih menjabat Sekdes Liberia Timur pada medio 2018.
Selain untuk meningkatkan hasil panen, program tersebut juga merupakan upaya untuk melestarikan kopi di wilayahnya.
“Supaya tidak kehilangan identitas. Saya tidak bisa kehilangan kopi. Itu sektor unggulan awal kami. Ada riwayat sejarah perjalanan kami di situ. Saya masih menghargai kopi (karena) sangat identik dengan kami,” pungkasnya.

