Kenapa harga emas naik terus?

Di Indonesia, harga emas 2025 sempat naik hingga Rp2.487.000 untuk harga emas logam mulia Antam di tanggal 21 Oktober 2025.

Editor: Redaktur
Photo by hamiltonleen on Pixabay
Oleh: Luke Hartigan, University of Sydney

Harga emas sempat melambung melebihi US$4.100 (sekitar Rp68,3 juta) per troy ons (±31,1 gram) pada pertengahan Oktober. Harga ini menjadi harga tertinggi emas sepanjang masa, naik lebih dari 50% sejak awal tahun.

Di Indonesia, harga emas 2025 sempat naik hingga Rp2.487.000 untuk harga emas logam mulia Antam di tanggal 21 Oktober 2025.

Kenaikan ini melesat dibandingkan prediksi para analis. Harga emas kini hampir dua kali lipat dibanding awal 2024.

Di Sydney, lonjakan harga emas membuat orang-orang rela mengantre panjang di depan toko emas untuk mendapatkan logam mulia tersebut.

Alasan kenaikan harga emas

Terdapat beberapa alasan mengapa harga emas naik terus.




Alasan pertama adalah menguatnya ketidakpastian ekonomi akibat kenaikan utang pemerintah. Kondisi ekonomi internasional diperburuk dengan penangguhan sebagian aktivitas pemerintahan AS akibat mandeknya anggaran.

Alasan lainnya adalah kekhawatiran soal independensi Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed). Jika campur tangan politik menekan suku bunga AS, hal tersebut dapat memicu lonjakan inflasi. Secara tradisional, emas memang dianggap sebagai aset pelindung nilai ketika inflasi meningkat.

Namun, alasan-alasan tersebut bisa jadi bukanlah aktor utama melonjaknya harga emas.

Jika dilihat beberapa tahun belakangan, tren harga emas memang terus naik. Bahkan sebelum segala gonjang-ganjing politik dan ekonomi yang baru-baru ini menyeruak.

Alasan yang mungkin lebih masuk akal adalah peningkatan permintaan reksa dana berbasis emas (ETF emas).

ETF emas mengikuti pergerakan harga emas atau aset lain seperti saham dan obligasi yang diperdagangkan di bursa saham. Setiap pembelian reksa dana ini mewakili kepemilikan emas fisik yang disimpan oleh penerbit ETF.

Dengan reksa dana ini, investor merasakan dinamika harga emas, tanpa perlu menyimpan fisik emasnya. Maka dari itu, investasi emas atau komoditas lain jadi lebih mudah dijangkau oleh berbagai kalangan investor.

Sebelum ETF emas dirilis perdana pada 2003, sangat sulit bagi investor kecil untuk memiliki emas.

Sekarang, ETF emas sangat mudah didapat. Emas bisa diperdagangkan dengan mudah.

Namun, bentuk baru emas ini mengubah konsep klasik soal peran emas sebagai aset yang kebal turbulensi ekonomi. Berbeda dengan saham yang lebih sensitif terhadap akibat gesekan dunia politik atau keuangan.

De-dolarisasi oleh berbagai negara

Selain pengaruh permintaan investor ritel, negara seperti Cina dan Rusia juga berperan dalam kenaikan harga emas. Negara-negara tersebut berpaling dari mata uang seperti dolar AS dan menjadikan emas sebagai aset cadangan mereka.

Data dari International Monetary Fund (IMF) menunjukkan bahwa kepemilikan emas fisik oleh bank-bank sentral di negara berkembang meningkat 161% sejak 2006 menjadi sekitar 10.300 ton.

Sebagai perbandingan, kepemilikan emas di negara berkembang hanya meningkat 50% selama 50 tahun hingga tahun 2005.

Sebuah penelitian menyimpulkan alasan mengapa makin banyak negara berkembang yang tak lagi menyimpan kekayaan dalam bentuk mata uang asing.

Alasannya karena AS dan negara-negara Barat sering menggunakan sanksi keuangan sebagai alat politik, misalnya membekukan aset atau membatasi transaksi negara tertentu.

Sanksi keuangan tersebut seakan menjadi alat pembuktian kuatnya nilai mata uang tersebut. Mulai dari dolar AS, euro, yen Jepang, dan poundsterling Inggris.

Rusia menjadi pembeli emas bersih sejak 2006 dan mempercepat pembelian emasnya setelah aneksasi Krimea pada 2014. Saat ini, Rusia memiliki salah satu cadangan emas terbesar di dunia.

Artinya, Rusia menggunakan emas sebagai perlindungan ekonomi dari risiko sanksi dan pembatasan akses ke sistem keuangan internasional. Langkah ini juga memperkuat posisi Rusia agar lebih independen secara finansial dari mata uang seperti dolar AS atau euro.

Cina sudah mulai melepaskan obligasi pemerintah AS dan membeli lebih banyak emas. Langkah ini disebut sebagai “de-dolarisasi” yang tujuannya sama yaitu mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar AS.

Bank-bank sentral negara berkembang juga mulai meningkatkan cadangan emas setelah Rusia dikeluarkan dari sistem pembayaran internasional (SWIFT) oleh AS dan rencana pemerintah AS serta Eropa menyita cadangan bank sentral Rusia untuk dijadikan dana bantuan Ukraina.

Dari kejadian tersebut, negara-negara berkembang menyadari risiko ketergantungan terhadap sistem keuangan global yang didominasi Barat.

Upaya de-dolarisasi oleh negara-negara berkembang diperkirakan akan terus terjadi. Negara berkembang kini cenderung berpandangan bahwa mata uang negara-negara Barat adalah aset berisiko karena memiliki peluang sanksi keuangan.

Berbeda dengan emas. Komoditas ini tak ada risiko sanksi keuangan, sehingga sulit menjadi alat politik. Maka dari itu, sanksi keuangan bisa kehilangan kekuatan di masa depan.

Apakah harga emas akan terus naik?

Peningkatan permintaan dari Rusia dan Cina ditambah dengan geliat investor pada ETF emas menjadi tanda bahwa harga emas akan terus naik.

Dua faktor tersebut menunjukkan adanya peningkatan permintaan yang konsisten, di samping permintaan emas untuk perhiasan dan elektronik yang akan selalu ada.




Kenaikan harga emas juga membuat ETF emas kian menarik, memicu efek FOMO (fear of missing out) di kalangan investor.

World Gold Council (asosiasi penambang emas terkemuka dunia) melaporkan bahwa arus masuk bulanan pada bulan September berhasil memecahkan rekor. Hingga kuartal ketiga 2025, arus masuk ETF mencapai US$26 miliar (sekitar Rp431,2 triliun) dengan arus masuk dana mencapai total US$64 miliar.

Bagi negara-negara berkembang, permintaan emas kian meningkat. Bukan karena faktor harga, melainkan karena faktor geopolitik.

Berdasarkan pendorong-pendorong tersebut, analis di Goldman Sachs telah merevisi harga target emas menjadi US$4.900 per troy ons menjelang akhir 2026.

Apa dampak kenaikan harga emas?

Kenaikan harga emas membawa berbagai dampak untuk sebuah negara.

Misalnya Australia. Negara kanguru ini merupakan produsen emas terbesar ketiga sedunia dengan setidaknya kadar kandungan emas sekitar 19%. Dengan aset ini, Australia akan diuntungkan dari kenaikan harga emas.

Departemen Industri, Sains, dan Sumber Daya (DISR) Australia memprediksi bahwa di tahun depan, nilai ekspor emas akan melampaui nilai ekspor gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG).

Kondisi ini menjadikan emas sebagai komoditas ekspor terpenting kedua setelah bijih besi yang telah menjadi sumber devisa utama bagi Australia.


Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.

Luke Hartigan, Lecturer in Economics, University of Sydney

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com