Umat Hindu Mopugad rayakan Galungan, teguhkan kemenangan dharma melawan adharma

Dalam upacara turut ditampilkan tradisi mapeed, yang disebut sebagai unsur penting dalam memperindah jalannya ritual.

Editor: Redaktur
Upacara mapeed adalah salah satu rangkaian dari upacara besar yang di gelar umat Hindu. Biasanya diikuti oleh para perempuan dengan mengusung Gebogan berisi rangkaian buah dan jajanan tradisional yang dihias dengan janur dan bunga setinggi kurang lebih 1 meter. (Foto: Zonautara.com / Marshal Datundugon)

ZONAUTARA.com – Perayaan Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu, 19 November 2025, berlangsung khusyuk di Desa Adat Mopugad, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Memasuki hari kedua rangkaian Galungan, Kamis (20/11/2025), umat Hindu Dharma kembali melaksanakan persembahyangan di Pura Puseh desa setempat sebagai bagian dari upacara piodalan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Adat Mopugad, I Ketut Warti, menjelaskan bahwa upacara pada hari kedua ini memiliki makna khusus.

“Upacara hari ini adalah piodalan, yaitu upacara ulang tahun pura yang kami lakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Piodalan menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali meneguhkan hubungan spiritual dengan pura sebagai pusat kehidupan rohani,” ujarnya.

Suasana pura penuh kekhidmatan

Sejak pagi menjelang siang, halaman Pura Puseh sudah dipadati umat yang datang mengenakan busana adat yang didominasi warna putih.




Aroma dupa memenuhi udara, sementara suara kidung dan gemerincing genta terdengar mengalun lembut.

Penjor-penjor berdiri anggun di area pintu masuk pura, dihiasi janur kuning dan kain poleng, menambah kesakralan suasana.

Di setiap sudut pura tampak berbagai banten (sesaji) tersusun rapi—mulai dari canang, gebogan berisi buah, hingga berbagai sarana upacara lainnya—yang dibawa umat sebagai wujud bakti.

Umat Hindu Mopugad rayakan Galungan, teguhkan kemenangan dharma melawan adharma
Ketua PHDI Desa Adat Mopugad, I Ketut Warti. (Foto: Zonautara.com / Marshal Datundugon)

Warti menegaskan bahwa rangkaian perayaan Galungan selalu mengingatkan umat akan nilai dharma.

“Galungan mengingatkan kita untuk selalu menempatkan kebenaran dan keseimbangan di atas segala bentuk ketidakharmonisan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa ritual-ritual sebelum dan sesudah Galungan—Penyekeban, Penyajaan, Penampahan, hingga Umanis Galungan—merupakan proses penyucian lahir dan batin.

“Seluruh rangkaian ini membimbing umat mencapai keselarasan. Persembahyangan bersama dalam rangka piodalan ini adalah wujud syukur atas anugerah keselamatan dan harmoni yang kita terima,” jelasnya.

Tradisi mapeed anggunkan upacara

Dalam upacara tersebut turut ditampilkan tradisi mapeed, yang disebut Warti sebagai unsur penting dalam memperindah jalannya ritual.

“Mapeed adalah arak-arakan sakral yang biasanya dilakukan oleh para perempuan dengan membawa banten atau gebogan di atas kepala. Ini melambangkan bakti dan keanggunan, sekaligus memperkuat kebersamaan umat dalam menjaga tradisi,” tuturnya.

Di akhir penyampaiannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat Hindu Mopugad.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat sedharma yang telah bersama-sama menyukseskan perayaan Galungan dan piodalan ini. Semoga membawa kedamaian dan keseimbangan bagi kita semua,” pungkasnya.

Jurnalis yang berdomisili di Bolaang Mongondow dengan fokus liputan pada aktivitas pemerintahan, sosial dan lingkungan.
1 Comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com