ZONAUTARA.com – Menyambut Hari Maleo Sedunia pada 21 November, Festival Maleo 2025 kembali digelar sebagai upaya konservasi burung maleo senkawor yang terancam punah.
Acara tahunan ini dipusatkan di Museum Daerah Kerajaan Bolaang Uki, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, diselenggarakan oleh Forum Koridor Hidupan Liar Tanjung Binerean dengan dukungan Balai KSDA Sulut, Balai TN Bogani Nani Wartabone, dan WCS Program Indonesia.
Festival ini bertujuan merayakan serta mempromosikan pelestarian maleo, memberikan informasi konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus mendorong pengembangan jasa lingkungan dan pariwisata alam di wilayah tersebut.
Sejumlah kegiatan digelar untuk menarik minat dan kreativitas peserta muda. Mulai dari lomba poster, pembuatan video reels bertema konservasi maleo, hingga panggung komedi “Kata-Kata Hari Ini” yang menantang siswa menciptakan kalimat inspiratif tentang pentingnya menjaga satwa endemik.
Selain itu, berbagai games edukatif juga disiapkan untuk memastikan pesan konservasi tersampaikan secara menyenangkan, serta lameran foto satwa liar.
Kadek Wijayanto, Direktur Forum Kolaborasi Koridor Tanjung Binerean sekaligus Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman berkomitmen untuk terus menjaga dan melindungi habitat maleo serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi biodiversitas di Sulawesi Utara.
“Kami siap menjadi garda terdepan dalam upaya pelestarian alam dan keberlanjutan hidupan liar demi generasi masa depan,” ucap Wijayanto.
Senada, Samuel Alfredo, Kepala Resort Gunung Ambang BKSDA Sulawesi Utara, mengatakan, perayaan hari maleo tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun kemarin. Kegiatan Seperti ini harus lebih sering dilaksanakan agar pemahaman terkait konservasi dapat dipahami dari mulai tingkat anak-anak dan remaja.
“Pada perayaan hari maleo kedepan mungkin bisa melibatkan lebih banyak anak sekolah dari sekarang ini, agar lebih banyak anak remaja bisa memahami konservasi satwa liar yang dilindungi, terutama maleo dan hewan endemik lainnya,” tuturnya.
Penyelenggaraan festival ini menjadi krusial mengingat populasi maleo senkawor, burung endemik Sulawesi, terus mengalami penurunan drastis akibat hilangnya dan rusaknya habitat alami serta semakin sedikitnya lokasi bertelur yang sesuai.
Kondisi ini menyebabkan status keterancaman maleo meningkat dari “genting” menjadi “kritis” menurut IUCN Red List.
Pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai jenis satwa dilindungi melalui PP 106/2018 dan menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Maleo Senkawor 2020-2030.
Festival ini berupaya menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap keberadaan satwa yang menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan ini.
Keberadaan maleo senkawor sangat vital sebagai penanda kesehatan ekosistem hutan.
Sayangnya, habitat alami di kawasan hutan dan lokasi bertelur di tepi pantai kian tergerus.
Ancaman utama datang dari perluasan perkebunan, pembangunan permukiman, dan jaringan jalan.
Wilayah pesisir, yang mengalami intensitas pembangunan lebih tinggi, membuat tempat-tempat bertelur pinggir pantai (Coastal Nesting Ground) menjadi sangat terancam.
Padahal, lokasi bertelur maleo di seluruh Sulawesi tergolong langka, dengan jumlah tidak lebih dari 131 yang tercatat hingga tahun 2000.
Kehilangan tempat bertelur ini merupakan ancaman serius bagi masa depan burung maleo.
Oleh karena itu, Festival Maleo ini dirancang sebagai ruang belajar bersama yang interaktif dan edukatif.
Ratusan siswa SD, SMP, dan SMA se-Molibagu, pelaku seni budaya, hingga para pemangku kebijakan diundang untuk terlibat aktif.
Selain aspek edukasi dan pelestarian, festival ini juga menjadi platform untuk mempromosikan keindahan alam dan potensi wisata Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta wilayah selatan Bolsel.
Kawasan ini kaya akan flora dan fauna endemik lainnya seperti babirusa, anoa, dan kuskus beruang, di samping bentang alam yang menawan.
Dukungan untuk Festival Maleo 2025 tidak hanya datang dari pemerintah dan swasta, tetapi juga dari UK FCDO melalui KIBAR-GGGI.
***

