ZONAUTARA.com – Forum Grup Diskusi (FGD) III yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan kembali menghadirkan perspektif penting dalam penguatan tata kelola kawasan preservasi. Dalam agenda tingkat nasional tersebut, Kadek Wijayanto dari Forum Kolaborasi Hidupan Liar Tanjung Binerean (FKHLTB) didaulat sebagai pembicara untuk memaparkan pengalaman pengelolaan koridor ekologis di Tanjung Binerean.
FGD ini menjadi wadah strategis dalam merumuskan kerangka tata kelola komprehensif, mulai dari aspek perencanaan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, hingga pengendalian dan pemantauan kawasan preservasi di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Kadek membawa materi berjudul Pembelajaran Tata Kelola Koridor Hidupan Liar Tanjung Binerean yang menyoroti peluang dan tantangan pengelolaan kawasan koridor habitat satwa endemik, terutama maleo. Ia memaparkan tiga pelajaran penting dari praktik pengelolaan selama ini.
Pertama, pengelolaan koridor dan konektivitas ekologis harus memastikan stabilitas bahkan peningkatan populasi maleo dan satwa liar lainnya.
Kedua, pengelolaan kawasan perlu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat melalui program yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketiga, model tata kelola kolaboratif berbasis forum—yang melibatkan lintas sektor dan lintas level—dinilai efektif dan berpotensi direplikasi di wilayah lain.
Kehadiran Kadek dalam forum nasional ini sekaligus memperkenalkan Tanjung Binerean pada perhatian lebih luas.
“Kami ingin menunjukkan bahwa koridor Tanjung Binerean bukan hanya penting bagi kelestarian maleo, namun juga bagi masa depan pengelolaan biodiversitas di tingkat nasional,” ujarnya.
Kementerian Kehutanan berharap rangkaian FGD ini dapat menjadi rujukan penguatan tata kelola kawasan preservasi secara menyeluruh dan konsisten ke depan.


