ZONAUTARA.com – Di jantung Kota Surakarta (Solo), Provinsi Jawa Tengah, yang sarat budaya, sebuah kisah visual terajut. Bukan dari kain atau benang, melainkan dari kayu, cat, dan ekspresi bisu topeng.
Selama dua hari penuh, 14 hingga 15 November 2025, ratusan mata terpaku dengan paras ayu dan liuk penari di bawah sorot cahaya temaran malam itu.
Pendapa Gede Balai Kota Surakarta menjelma menjadi panggung perjumpaan agung dalam gelaran International Mask Festival (IMF) 2025.
Mengusung tema “Awesome Mask”, IMF 2025 menyoroti topeng sebagai simbol identitas dan perjalanan budaya masyarakat dunia.
Festival ini menghadirkan ruang perjumpaan antara nilai-nilai tradisi dengan kreativitas modern, memperlihatkan bagaimana seni topeng terus hidup dan relevan di tengah dinamika zaman.
Tema “Awesome Mask” menjadi benang merah yang menghubungkan ‘narasi sunyi’ dalam wujud topeng dari Korea Selatan, Myanmar, Malaysia, Taiwan, dan Hongkong, hingga pelosok Nusantara. Sedikitnya 21 delegasi ikut ambil bagian membawa karakter estetika daerahnya masing-masing.
Lebih dari sekadar festival, ini adalah ziarah budaya yang hidup. Menyoroti topeng sebagai simbol identitas dan perjalanan budaya masyarakat.
Menciptakan ekspresi yang tersembunyi di balik topeng sebagai narasi sunyi menyampaikan makna, cerita, yang tidak diungkapkan secara eksplisit melalui kata-kata atau suara yang keras, melainkan melalui keheningan, isyarat, atau perasaan mendalam lewat gerakan tari.
“IMF adalah panggung di mana topeng adalah sebuah artefak yang lahir dari imajinasi dan spiritual masyarakat, kembali menduduki tahtanya,” kata Ketua Penyelenggara IMF 2025, Putri Pramesti Wigaringtyas, dalam sambutannya membuka IMF 2025.
Menurutnya, topeng bukan hanya sebuah objek seni. Topeng adalah simbol yang mewakili kekayaan tradisi, cerita rakyat dan bahkan nilai-nilai sosial yang menjadi identitas suatu bangsa.

Menyelami akar sejarah IMF di Kota Bengawan
Sejarah IMF di Solo berakar kuat dari kecintaan mendalam pada seni topeng, sebuah warisan adiluhur yang terancam gerusan zaman. Daerah yang kental juga dengan istilah Kota Bengawan ini, dengan denyut nadi kebudayaan Jawa yang tak pernah mati, merasa terpanggil untuk menjadi mercusuar pelestarian.
Dimulai dari inisiatif lokal, festival ini tumbuh perlahan namun pasti, merangkul dunia, dan kini telah menjadi bagian dari International Mask Organization (IMO).
Setiap edisi adalah sebuah babak baru. Jika dulu fokus pada topeng klasik, kini IMF berani bereksperimen di tanah leluluh yang dikenal juga dengan Kota Budaya.
“Sasarannya adalah generasi muda, sehingga mereka akan merasa memiliki, kemudian merasa harus berpartisipasi untuk meneruskannya,” ujar Pendiri IMF/Direktur Solo International Performing Arts Festival, Dr. Raden Ayu Irawati Kusumo Rastri.
Perlahan tapi pasti, transformasi ini mulai terlihat jelas, di mana batasan antara tradisi dan kontemporer menjadi kabur, membuka ruang dialog yang kaya dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Untuk penyelenggaraannya, kami menggunakan trik-trik yang menarik, misalnya kita datangkan seniman dari luar negeri,” sambung Raden Ayu Irawati Kusumo Rastri.
Wajah-wajah narasi sunyi global
Bayangkan sebuah ruangan di mana topeng Patih dikolaborasikan dengan tari tradisional Greget Pincuk dari Jawa Timur bersanding dengan topeng ritual dari Korea Selatan. Atau sakralnya tarian Bali yang dipentaskan Yayasan Seni Pulau Cerita di penutup hari pertama. Itulah esensi IMF 2025. Sebanyak 21 delegasi dari berbagai negara membawa potongan kisah mereka masing-masing.
Puncak acara tentu saja pertunjukan tari topeng yang memukau. Di satu sisi, ada keteguhan gerak topeng klasik Jawa yang sarat filosofi, di sisi lain, ada energi kontemporer dari seniman mancanegara yang menafsirkan ulang makna topeng di era modern.
Anggi dan Egi, dua gadis berkerudung dari Kota Salatiga, Jawa Tengah, mengaku rela menempuh jarak puluhan kilometer dari asalnya, demi datang ke lokasi IMF 2025 digelar.
“Kira-kira satu setengah jam (dari kota asalnya),” ujar Egi.
Senada dengan rekannya, Anggi mengaku bahwa informasi adanya IMF dari salah satu media sosial. Meski awalnya tertarik dengan bintang tamu yang akan tampil, generasi Z ini belakangan penasaran seperti apa seni topeng yang akan dipertunjukkan.
“Berawal dari penasaran (tari topeng), kita akhirnya cari tahu. Semoga bisa nambah iven kayak gini (IMF), sehingga kita semakin gen-Z jadi tertarik dengan karya-karya budaya kita sendiri,” kata Egi menyambung ucapan Anggi kala diwawancarai Zonautara.com.
Di satu sisi, kejutan manis datang dari reuni Banda Neira yang memilih panggung IMF 2025 sebagai momen kembali mereka. Kehadiran duo musisi ini seolah menjadi jembatan antara masa lalu yang diwakili topeng dan masa kini yang diwakili musik mereka, menarik spektrum penonton yang lebih luas, terutama generasi Z yang haus akan konten otentik.
“Diplomasi paling indah adalah diplomasi budaya,” tutur Putri Pramesti Wigaringtyas.
“Di sini, perbedaan bahasa dan negara melebur dalam apresiasi yang sama terhadap seni topeng. Ini adalah cara kami merajut persahabatan dunia,” sambung dia.

Dari panggung ke dapur ekonomi
Di balik topeng-topeng yang memesona, ada denyut ekonomi yang menggeliat. IMF 2025 bukan sekadar hingar-bingar sesaat. Ia menjadi motor penggerak roda ekonomi lokal. Bukan hanya bagi pelaku bazar UMKM, tapi juga bagi mereka yang serabutan.
Seperti Ibu Suyatmi misalnya. Wanita paruhbaya ini menceritakan bagaimana dia mengais rezeki di lokasi IMF 2025 hanya dengan bermodalkan lembaran plastik kecil yang bisa dijajakan ke pengunjung sebagai tikar alas untuk duduk.
“Saya jualan tikar, harganya Rp5000. Sehari biasanya (dalam even yang serupa) laku sekitar 20 lembar. Jualannya juga hanya sampai jam sembilan (malam),” ucap Suyatmi kepada Zonautara.com di area halaman IMF 2025 digelar.
Ia mengaku bahwa sebenarnya, dia sehari-hari jualan jajanan cilok. Bersyukur bisa mendapat tambahan penghasilan dari jualan tikar meski hanya di momen tertentu.
“Alhamdulillah masih mencukupi. Kan sekarang yang jualannya banyak, jadi tidak bisa laku banyak, sambungnya.
Dia berharap Pemerintah Kota Surakarta terus mengadakan iven yang serupa sehingga Suyatmi masih bisa berjualan lagi di lain waktu.
“Mudah-mudahan pak Walikota bisa beri kesempatan, ada tontonan lagi, biar (saya) bisa jualan lagi,” ucap Suyatmi sembari tersenyum kecil.
Data yang dirangkum menyebutkan, dari festival-festival sebelumnya secara konsisten menunjukkan peningkatan signifikan kunjungan wisatawan, yang secara langsung berdampak pada tingkat hunian hotel, pendapatan UMKM lokal, dan sektor pariwisata pendukung lainnya.
Sebuah studi dari akademisi Unisri Surakarta dalam catatannya yang berjudul “International Mask Festival Sebagai Instrumen Diplomasi Budaya Kota Surakarta Di Masa Pandemi Covid-19”, bahkan menganalisis secara mendalam bagaimana festival ini berfungsi sebagai soft power diplomasi kota, membangun citra Solo sebagai kota budaya yang dinamis dan terbuka.
Data ini membuktikan bahwa investasi di sektor budaya bukanlah pengeluaran, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan karakter kota dan kesejahteraan warganya.
Selaras yang dikatakan Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, bahwa Kota Solo sudah sangat terbiasa dengan iven internasional. Tentunya ekosistem dari pelaku-pelaku pariwisata di Surakarta sudah sudah terbiasa dan memberikan semua fasilitas yang dimiliki untuk mendukung IMF 2025 ini.
“Dampak yang dirasakan langsung masyarakat tentu pertumbuhan ekonomi di Surakarta. Pendapatan dan tingkat okupansi dari rekan-rekan hotel, restoran sampai UMKM dan jasa transportasi pasti sangat berdampak bagi Kota Solo dan masyarakatnya,” jelas Wali Kota Surakarta di hadapan para pewarta peserta Workshop ABCID, pada Jumat (14/11/2025).
IMF 2025 kini telah usai, namun gaungnya masih terasa. Setiap topeng yang kembali ke negaranya membawa serta kepingan kisah Solo, sebuah kota di mana wajah dunia bertemu, menari, dan bercerita, menegaskan kembali bahwa di balik setiap topeng, kita semua terhubung dalam satu narasi kemanusiaan yang sama. Sampai jumpa di Solo dalam iven IMF tahun depan!
***


