ZONAUTARA.com – Parade Hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang digelar di Kota Manado, pada Kamis (10/12/2025) berlangsung dengan penuh semangat.
Massa aksi mulai bergerak sejak pukul 13.00, diiringi yel-yel dan lagu bernuansa perlawanan.
Aksi ini menjadi ruang bagi berbagai komunitas yang selama ini mengalami diskriminasi dan ketidakadilan untuk menyampaikan aspirasi mereka secara terbuka.
Dari keterangan yang diterima, parade sempat berhenti sejenak beberapa kali. Pertama di depan Masjid Firdaus, dan kembali berhenti lagi di depan Megamall, tempat sejumlah kelompok menyampaikan orasi.
Orasi pertama dibawakan oleh Henny, perwakilan Koalisi Gerak Bersama, yang menegaskan pentingnya parade ini sebagai pengingat perjuangan HAM.
Henny menyampaikan bahwa mereka masih berjuang melawan stigma dan diskriminasi. Mereka menegaskan bahwa orientasi seksual berbeda adalah hak yang harus dihormati sesuai amanat undang-undang.
Sementara itu, Kelompok Disabilitas menyuarakan tentang inklusivitas yang belum sepenuhnya dirasakan.
“Kami butuh aksesibilitas, akomodasi yang layak, dan kebijakan yang benar-benar berpihak, bukan sekadar slogan,” ujar salah satu perwakilan.
Di sisi lain, Pekerja Perempuan Sulut dalam orasinya, menyoroti pelanggaran hak-hak pekerja perempuan, termasuk BPJS Kesehatan yang hanya dilaporkan secara simbolis tanpa pendaftaran nyata, serta kebijakan yang belum menjamin kesejahteraan.
Kemudian, Kelompok Minoritas dan Penghayat Kepercayaan menyampaikan, mereka masih menjadi sasaran diskriminasi dan sering tidak dilibatkan dalam ruang publik. Fasilitas ibadah tidak difasilitasi, bahkan ada yang dirusak atas nama pariwisata.
“Persoalan bukan agama, tapi ekonomi. Aturan sudah ada, tapi tidak dijalankan,” tegas orator.
Selain itu, ragam isu juga disuarakan dalam aksi damai tersebut.
Aksi ini juga mendapat dukungan dari LBH Manado, AMAN, Penghayat Kepercayaan Laroma, Betina Issue, Ahmadiyah, dan sejumlah mahasiswa.
Parade Hari HAM 2024 di Manado menjadi panggung bagi masyarakat yang selama ini termarjinalkan untuk bersuara.
Beragam isu diangkat, mulai dari diskriminasi, perampasan ruang hidup, hingga desakan reformasi institusi negara.
Aksi berjalan damai dan menjadi pengingat bahwa perjuangan HAM terus berlanjut dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah serta seluruh elemen masyarakat.
***


