ZONAUTARA.com – Di balik kabut pagi di lereng Gunung Ambang, Hamid dan Masriah saban hari beraktifitas di bawah rindangnya pohon kopi. Dua sejoli itu adalah satu dari sedikit keluarga yang masih mempertahankan kopi sebagai mata pencaharian utama.
Kesetiaan merawat kopi bukan sekadar motif ekomoni, namun merupakan laku hidup yang sejak lama terpatri di alam bawah sadar masyarakat setempat.
Lebih dari seratus tahun lalu, perusahaan Hindia Belanda meneken kontrak dengan Kerajaan Bolaang Mongondow (Bolmong) untuk membentuk kawasan budidaya kopi di daerah Modayag.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, perusahaan Hindia Belanda mendatangkan ratusan warga dari Pulau Jawa ke bagian timur Kerajaan Bolmong untuk mengelola lahan seluas kurang lebih 1.500 ha.
Setelah perusahaan Hindia Belanda harus hengkang pada tahun 1950-an, para pekerja “terpaksa” tinggal dan mendirikan desa definitif dengan nama Purworejo yang belakangan telah dimekarkan menjadi tujuh desa, yakni Purworejo Induk, Purworejo Tengah, Purworejo Timur, Sumberejo, Liberia, Liberia Timur, dan Candi Rejo.
Saat praktik konversi lahan kopi ke hortikultura semaki masif sejak awal tahun 2000-an, Hamid dan Masriah memilih bertahan, seakan tak silau dengan putaran ekonomi hortikultura yang oleh sebagian masyarakat dinilai lebih efektif dan efisien di zaman modern.
Dua sejoli yang merupakan warga Liberia Timur, Bolaang Mongondow Timur (Boltim) seakan menegaskan bahwa kopi di wilayah itu bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari identitas sosial.

Alih-alih menebang pohon kopi dan menggantinya dengan tanaman lunak, Hamid justru melakukan peremajaan dengan cara sambung pucuk kurang lebih sembilan tahun lalu. Alhasil, sejak tahun 2019 produksi kopi di kebun miliknya meningkat signifikan.
Perlahan, kopi milik Hamid yang dikelola secara organik menarik perhatian para peminat dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pengusaha, hingga masyarakat lintas profesi.
Tak jarang para penikmat kopi datang ke rumah Hamid bahkan sebelum kedai kecil di depan rumah itu dibuka. Animo yang tinggi membuktikan bahwa kopi miliknya telah menjadi primadona di lidah banyak orang.
D&L Coffee
Kopi dari kebun milik keluarga Hamid dipasarkan dengan brand D&L Coffee. Selain merupakan akronim dari nama kedua anaknya, D&L juga merupakan identitas kewilayahan dari mana ia berasal.
“D&L itu inisial nama kedua anak kami. Selain itu juga bisa diartikan Desa Liberia,” ucap Masriah dengan senyum ramah saat diwawancara Zonautara.com medio November 2025.
Tak berhenti di situ, kopi sebagai identitas wilayah juga tercermin dari tagline Ingat Kopi, Ingat Boltim. Di kemasan juga dicantumkan sejarah singkat perkebunan kopi di wilayah Liberia.
Meski hasil produksi lahan kopi seluas 1,5 ha itu bisa mencapai seratus kilogram per bulan, namun D&L Coffee hanya dipasarkan dalam bentuk bubuk, bukan biji. Ada dua jenis kopi yang dihasilkan setelah melewati proses pemilahan, yakni kopi biji merah yang dipasarkan dengan brand D&L Coffee dan kopi asalan yang dipasarkan tanpa brand.
Usai dipanen dari kebun yang menerapkan metode organik, kopi kemudian diangkut ke rumah Hamid yang telah disulap menjadi sentra produksi kopi. Di situlah proses pemilahan, pengeringan, roasting, penggilingan dan pengemasan berlangsung.

Menjadi sumber pendapatan
Baik Hamid maupun Masriah mengakui sejak kecil telah bersinggungan dengan kopi. Hamid dan masriah dan sebagian petani kopi di wilayah tersebut merupakan generasi ketiga dan keempat dari pekerja kebun budidaya kopi milik Hindia Belanda di Modayag yang mulai beroperasi awal abad 20.
“Sejak kecil sudah tahu tentang kopi,” ucap Masriah.
Biji kopi miliknya merupakan jenis robusta dengan skor 83,70 menurut Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia. Dengan capaian skor tersebut, biji kopi D&L masuk dalam kategori kopi specialty atau tingkatan tertinggi yang ditandai dengan skor cupping di atas 80 poin dari skala 100.
Maka tak mengherankan jika D&L Coffee dapat menarik animo masyarakat luas dan mampu menjadi sumber pendapatan utama keluarga Hamid dan Masriah.
Keduanya mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan anak dengan hasil produksi kopi.
“Kopi adalah pendapatan utama keluarga kami. Produksi kopi tiap bulan tetap ada. Rata-rata 100 kg per bulan. Anak pertama saat ini kuliah, yang kedua SMA,” tambah Masriah.
Ia juga menegaskan, kemauan merawat kopi bukan sekadar motif ekonomi namun dorongan untuk melestarikannya sebagai bagian dari identitas.
“Kami sayang melihat lahan kopi dibongkar menjadi lahan hortikultura. Kami takut kopi akan punah maka kami coba melestarikannya,” ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan Hamid. Ia tak sampai hati bila harus mengkonversi lahan kopi miliknya. Malah ada perasaan bahagia saat kopi berbuah lebat.
“Kalau lihat kopi itu rasanya seperti tidak ingin pulang ke rumah. Saya senang sekali ketika melihat kopi berbuah,” singkatnya.
Perjalanan Hamid dan Masriah dalam meremajakan kopi warisan tetua hingga memanen hasilnya saat ini bukanlah pekerjaan mudah. Banyak aral melintang yang harus dilewati. Pun kisah mereka mengajarkan segala sesuatu tak selalu dinilai dengan rupiah. Ada ruang-ruang tertentu yang tak bisa dijelaskan dengan mata uang.
Lebih jauh, perjalanan Hamid dan Masriah menciptakan relasi luhur antara manusia dengan alam, dan sekaligus membuktikan bahwa keadilan ekologis bukanlah isapan jempol belaka.


