Nada dari Utara: Memahami identitas orang Sangihe melalui seni tradisi masamper

Budaya masamper bukan hanya ekspresi dalam bentuk seni, tetapi juga cerminan identitas yang kuat dan nilai-nilai hidup bersama masyarakat Sangihe.

Penulis Tamu
Penulis: Penulis Tamu
Editor: Redaktur
Penampilan kelompok masamper Kawanua Swiss di Perayaan Natal Masyarakat Indonesia di Swiss. (Foto: Panitia)
Oleh: Ferry Lumondo

Identitas adalah ciri yang mencakup, nama, gaya hidup, karakter seseorang yang membedakan seseorang dengan orang lain.

Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman dan kekayaan suku, budaya, yang tersebar dari sabang sampai Merauke yang tidak ternilai harganya yang harus terus di pertahankan agar kekayaan itu tidak hilang bersamaan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Masyarakat di setiap suku di Indonesia memiliki identitas budaya yang kuat yang terbentuk melalui nilai, keyakinan, tradisi, bahasa, dan praktik sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Masamper adalah salah satu kekayaan budaya sekaligus menjadi identitas daerah Sangihe Talaud yang ada di Provonsi Sulawesi Utara yang sudah ada sejak zaman dahulu. Sebagai daerah kepulauan, warisan budaya masamper tumbuh dari tradisi maritim dan sosial masyarakat Sangihe.

Pada zaman dahulu, sebelum masuknya agama Kristen dan Islam, masyarakat suku Sangihe Talaud sudah memiliki tradisi menyanyi masamper yang di gunakan pada saat upacara pemujaan untuk dewa. Pada awalnya masamper merupakan seni vokal tradisional yang memiliki induk bernama sasambo yang dinyanyikan dengan cara yang sederhana, dan monofonik. Semua lagu yang dinyanyikan tidak memakai instrument pengiring /a’capella.

Masamper awalnya dikenal dengan mebawalase yang artinya “bernyanyi berbalasan”, namun seiring berkembangnya zaman dan pengaruh budaya asing yang di bawah oleh para missionaris Kristen yang pada waktu itu datang dan masuk di daerah Sangihe, maka masamper pun mengalami perkembangan yang dulunya monofonik menjadi diatonic dengan variasi barisan dan gerakan yang menonjolkan keselarasan gerak disertai ekspresi atau penjiwaan terhadap pesan dalam lagu yang dinyanyikan.




Sebuah kelompok masamper akan dipimpin oleh seorang pangataseng/pangaha. Bagi masyarakat Sangihe, masamper memiliki fungsi salah satunya adalah media komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan melalui lagu dan gerak/goyang.

Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam masamper mengandung semua ungkapan hati nurani yang secara umum mengandung tiga unsur yang disesuaikan dengan tema. Pertama unsur religius seperti puji-pujian, kelahiran dan kematian. Kedua unsur sosial-kemasyarakatan, seperti lagu pertemuan, perpisahan, etika, kenangan kepada orang tua dan cinta kepada sesama. Dan ketiga unsur sastra tentang pengajaran, moral, dan alam semesta. Lagu yang dinyanyikan dalam masamper tidak hanya bahasa daerah Sangihe, tetapi juga bahasa Manado dan bahasa Indonesia.

Lagu dalam masamper mendeskripsikan sebuah kebersamaan, saling mencintai, saling menghormati dalam kehangatan budaya lokal, sekaligus menjadi tontonan hiburan yang mempererat ikatan persaudaraan.

Budaya masamper bukan hanya ekspresi dalam bentuk seni, tetapi juga cerminan identitas yang kuat dan nilai-nilai hidup bersama masyarakat Sangihe, karena masamper mengandung filosofi tentang nilai-nilai kehidupan spiritualitas, sosial dan moral yang sangat di junjung tinggi oleh masyarakat Sangihe. 

Dalam kehidupan spiritualitas, melalui lagu-lagu masamper yang dinyanyikan, masyarakat Sangihe diajak untuk selalu berysukur kepada pencipta Tuhan Yang Maha Esa atas semua anugerah kehidupan yang telah diberikan. Lagu-lagu masamper juga sering dibawakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen.

Bisa dikatakan masamper sebagai cara untuk menjaga hubungan spiritual masyarakat Sangihe dengan Tuhan dan leluhur mereka. Dalam kehidupan sosial dan moral, lagu-lagu masamper yang dibawakan selalu mengajak masyarakat untuk hidup berdampingan, membangun kebersamaan, kerjasama, gotong royong, dan saling menghormati dalam wujud cinta kasih kepada sesama manusia dan menjaga alam sekitar.

Dari proses panjang ini, menjadikan masamper sebagai identitas yang kuat bagi masyarakat Sangihe yang akan terus diwariskan kepada generasi ke generasi. Karena itu mari kita rawat dan lestarikan agar tradisi budaya masamper ini terus hidup di dalam setiap generasi. Karena identitas budaya masamper, bukan hanya sekedar simbol, tetapi juga merupakan fondasi kuat yang akan terus menyatukan masyarakat daerah Sangihe dalam mencapai tujuan bersama.


Nama               : Ferry Lumondo
NIM                 : 230301009
Prodi                : Musik Gereja
Mata Kuliah     : Kajian Musik

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com